Analisis Strategi Bisnis Pada PT. XXXX XXXXXX..(170)

Dalam menyambut era Globalisasi sekarang ini, sebuah perusahaan harus mampu untuk mengikuti perubahan yang terjadi baik di dalam maupun di luar perusahaan. Tentunya untuk mengikuti perubahan – perubahan yang terjadi tersebut sangatlah tidak mudah. Perusahaan yang cenderung berpikiran tradisional dan tidak mengharapkan adanya perubahan, tentunya akan menemui banyak kesulitan dalam menghadapi operasinya



Setiap perusahaan tentunya memiliki strategi masing – masing dalam berbisnis. Permasalahannya adalah tepatkah strategi itu dipergunakan oleh perusahaan tersebut. Karena bila ternyata strategi yang diterapkan oleh perusahaan tersebut tidak sesuai dengan keadaannya, maka strategi tersebut akan mengakibatkan kegagalan bagi perusahaan tersebut.
Berbagai cara dapat dilakukan dalam rangka mencapai keberhasilan dan kesuksesan suatu perusahaan. Strategi yang diterapkan perusahaan untuk tiap – tiap bidang di dalamnya pun berbeda – beda, mulai dari bagian produksi, distribusi, penjualan, maupun promosinya. Target perusahaan yang akan dicapai oleh suatu perusahaan tentunya harus didukung dengan adanya suatu strategi yang tepat agar perusahaan dapat mengalami peningkatan kualitas usahanya.
Strategi perusahaan dalam meningkatkan penjualannya dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan peningkatan promosi, yang tentunya akan mengakibatkan peningkatan biaya. Tentunya cara – cara seperti ini diharapkan dapat mempengaruhi tingkat penjualan secara signifikan.
Agar lebih mengerti dengan jelas mengenai strategi – strategi berbisnis suatu perusahaan maka dengan ini penulis melakukan studi penelitian terhadap PT. XXXX XXXXX, suatu perusahaan yang begerak dalam bidang usaha penjualan sepatu dan sandal. Perusahaan ini terus menerus melakukan perluasan usahanya dengan mendirikan Boutique – Boutique baru, mengingat semakin ketatnya persaingan didalam industri sepatu.
Strategi yang akan dibahas adalah tentang perkembangan daripada perusahaan itu sendiri dan keluaran yang dihasilkan. Hal ini tergantung tentunya pada faktor – faktor internal dan eksternal perusahaan. Faktor internal perusahaan adalah kekuatan dan kelemahan perusahaan, sedangkan faktor eksternal perusahaan adalah peluang dan ancaman yang akan dihadapi oleh perusahaan.
Tiap – tiap perusahaan tentunya memiliki faktor internal dan eksternal yang berbeda, oleh karena itu tentunya strategi yang dipergunakan tentunya akan berbeda – beda pula, belum tentu strategi yang dipergunakan oleh suatu perusahaan dapat dipergunakan oleh perusahaan lain. Oleh karena itu sangatlah perlu bagi kita untuk mempelajari strategi bisnis dasar agar kita dapat mengetahui penerapan strategi yang tepat bagi suatu perusahaan.
Dengan mempelajari kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan maka kita dapat memperbaiki kelemahan dan meningkatkan kekuatan perusahaan, serta dengan mempelajari peluang dan ancaman maka kita dapat mengetahui peluang apa yang dapat dipergunakan perusahaan dalam meningkatkan labanya, serta dapat mengurangi ancaman dari luar perusahaan yang akan menganggu kinerja perusahaan.
Penulisan skripsi ini didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan untuk mengenali, menganalisis, dan memahami implikasi dari penerapan suatu strategi bisnis tertentu. PT. XXXX XXXXX adalah perusahaan yang melakukan penjualan produk – produk sepatu dan sandal, penelitian yang dilakukan pada perusahaan ini akan menghasilkan data yang akan diolah sehingga menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan juga bagi perusahaan itu sendiri. Adanya perubahan harga BBM, munculnya pesaing – pesaing usaha yang baru mengharuskan suatu perusahaan untuk bertindak antisipatif atau bila perlu menerapkan strategi perusahaan yang baru.
Untuk menganalisa strategi yang diterapkan oleh PT. XXXX XXXXX dalam menjalankan bisnisnya, maka penulis mengambil topik ” Analisis Strategi Bisnis Pada PT. XXXX XXXXX.”

Read More »»

PENGARUH ARUS KAS OPERASI ARUS KAS INVESTASI ARUS KAS PENDANAAN DAN ROI RETURN ON INVESMENT TERHADAP RETURN SAHAM Studi Perusahaan Manufaktur (KE-18)

PENGARUH ARUS KAS OPERASI ARUS KAS INVESTASI ARUS KAS PENDANAAN DAN ROI RETURN ON INVESMENT TERHADAP RETURN SAHAM Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2003-2005

ABSTRAKSI

Laporan arus kas dan rasio profitabilitas merupakan bagian dari laporan keuangan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku investor, dimana memperoleh return merupakan tujuan utama aktivitas perdagangan para investor di pasar modal. Dalam berinvestasi, investor menggunakan informasi dari laporan keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan dan untuk meminimalisasi resiko investasinya, karena dalam laporan keuangan dapat diperoleh informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, aliran kas, dan informasi lainnya yang terkait dengan faktor yang mempengaruhi return saham. Variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap tingkat return, antara lain: arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan, dan ROI (Return On Invesment). Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis varibel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ).


Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan menggunakan periode tahun penelitian terbaru yaitu dari tahun 2003 sampai 2005, yaitu sebanyak 145 perusahaan manufaktur. Penentuan sampel dari populasi menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data keuangan yang ada di Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 2006 untuk tiga tahun secara berurutan dengan mendapatkan 59 perusahaan manufaktur sebagai sampel penelitian. Metode analisis yang digunakan untuk meguji hipotesis pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda, dimana uji hipotesis secara parsial dengan menggunakan uji t dan uji hipotesis secara simultan dengan menggunakan uji F.
Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Sedangkan ROI (Return On Invesment) berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan, dan ROI (Return On Invesment) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap return saham. Koefisien determinasi yang didapat, adalah sebesar 4 persen return saham dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam penelitian ini, sedangkan sebanyak 96 persen dijelaskan oleh faktor lain diluar model penelitian.

Dewasa ini pasar modal Indonesia berkembang sangat pesat, hal ini ditandai dengan melonjaknya jumlah saham yang ditransaksikan dan semakin tingginya volume perdagangan saham. Seiring dengan perkembangan yang pesat tersebut, kebutuhan akan informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal juga semakin meningkat.
Dalam pasar modal yang efisien, harga-harga saham mencerminkan semua informasi yang relevan dan pasar akan bereaksi apabila terdapat informasi baru. Salah satu informasi tersebut adalah informasi akuntansi khususnya laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi dalam pengambilan keputusan investasi, karena dalam laporan keuangan tersebut dapat diperoleh informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, aliran kas, dan informasi lainnya yang terkait dengan keputusan investasi. Bagi investor informasi dari laporan keuangan dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam pengambilan keputusan apakah mereka akan membeli, menahan atau menjual surat berharga yang dimilikinya karena memperoleh return merupakan tujuan utama aktivitas perdagangan para investor di pasar modal.
Ang (1997), menyatakan return adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh investor atas tindakan investasi yang telah dilakukan. Return memungkinkan investor untuk membandingkan keuntungan aktual ataupun keuntungan- keuntungan yang diharapkan, yang disediakan oleh berbagai investasi pada tingkat pengembalian yang diinginkan. Dalam investasi saham, investor akan lebih memilih saham perusahaan yang memberikan tingkat keuntungan tertinggi. Di sisi lain, return pun memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan nilai dari suatu investasi.
Laporan arus kas merupakan salah satu laporan dari laporan keuangan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku investor. Salah satu tujuan dari pelaporan keuangan menurut Statment of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1 adalah menyediakan informasi bagi investor dan kreditor maupun pemakai potensial lainnya dalam pengambilan keputusan investasi dan kredit, serta dalam penaksiran mengenai jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari penerimaan arus kas netto prospektif. Disamping itu arus kas juga berguna untuk meneliti kecermatan dari taksiran arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya dan dalam menentukan hubungan antara profitabilitas dan arus kas bersih serta dampak perubahan harga (IAI, 2004). Suatu perusahaan apabila arus kasnya baik maka akan dapat menarik perhatian invetor untuk berinvestasi. Sehingga dapat dikatakan, bahwa informasi arus kas merupakan informasi penting yang dibutuhkan investor untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas bagi investor, maupun untuk membayar kewajiban perusahaan yang jatuh tempo serta kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.
Dalam International Accounting Standard Committee (IASC), menyatakan bahwa setiap perusahaan perlu untuk menyediakan laporan arus kas dalam penyertaan laporan keuangan. Dalam rangka meningkatkan pengungkapan laporan keuangan Financial Accounting Standard Board (FASB) tertuang dalam SFAC No. 95 tentang Statement of Cash Flow dan di Indonesia oleh IAI (1994) merekomendasikan bagi perusahaan untuk memasukkan laporan arus kas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. Keputusan Bapepam No. Kep. 80/PM/96, yang tertanggal 17 januari 1996, juga menyatakan tentang kewajiban emiten menyertakan laporan arus kas dalam laporan keuangan berkala kepada Bapepam. Hal tersebut secara rinci dapat ditemukan pada lampiran keputusan Bapepam No. 1 butir c, yang menyatakan bahwa emiten wajib menyertakan laporan keuangan termasuk juga laporan arus kas.
Laporan laba rugi juga dapat memberikan informasi kepada investor mengenai kondisi suatu perusahaan. Laba rugi merupakan laporan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan selama periode tertentu. Dalam SFAC No. 4, selain untuk menilai kinerja manajemen, laba membantu untuk mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang, memprediksi laba dan menaksir risiko dalam investasi atau kredit. Laba sering kali digunakan sebagai ukuran kinerja, akan tetapi kinerja perusahaan tidak boleh diukur hanya dari laba yang diperoleh saja, karena laba belum mencerminkan aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Selain itu pengukuran prestasi dengan laba bersih jarang digunakan karena mempunyai kelemahan-kelemahan (Bekoui, 1993), yaitu: 1) dalam banyak hal, laba bersih adalah persentase tetap dari laba sebelum pajak, sehingga tidak ada manfaatnya memasukkan unsur pajak penghasilan, 2) Keputusan yang mempunyai dampak pada pajak penghasilan dibuat oleh kantor pusat, dan 3) profitabilitas pusat laba tidak mempengaruhi atau dipengaruhi oleh keputusan-keputusan tersebut pada butir (2) diatas. Oleh karena hal-hal tersebut maka ada ukuran kinerja yang lebih bermakna yang mengaitkan laba dengan aktiva yang digunakan yaitu dengan Return On Investment (ROI).
Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2002), mengemukakan bahwa Return On Investment (ROI) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan. Rasio ini mengukur efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dumilikinya. Rasio ini merupakan rasio terpenting diantara rasio rentabilitas/profitabilitas yang lainnya. ROI merupakan rasio keuangan yang dominan mempengaruhi return saham, karena ROI merupakan earning power keuangan perusahaan. Dan semakin besar ROI menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat pengembalian semakin besar (Ang, 1997). Weston dan Copeland (1995) menyatakan bahwa kebanyakan perusahaan yang memiliki pusat investasi mengevaluasi unit-unit usahanya dengan dasar ROI. Hal ini dikarenakan ada tiga keuntungan dari ROI. Pertama, ROI mendorong manajer untuk memperhatikan pada hubungan antara penjualan, cost, dan investasi. Kedua, ROI mendorong manajer untuk menghemat cost atau fokus pada efisiensi biaya. Ketiga, ROI mencegah investasi yang dipandang berlebihan. Selain itu, data ROI dapat diketahui oleh pesaing dan dapat dijadikan dasar perbandingan.


Read More »»

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Kredit Investasi Pada Bank Umum di Kabupaten Sleman (kurun waktu 1989 – 2004) (KE-17)

Pelaksanaan program pembangunan nasional selama ini tetap bertumpu pada Trilogi pembangunan, yaitu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Untuk itu Bank Indonesia sebagai otoritas moneter berperan aktif dalam mendukung terciptanya iklim berusaha yang kondusif terhadap peningkatan investasi, melalui pengendalian laju inflasi, nilai tukar rupiah yang realistis, kondisi neraca pembayaran yang mantap serta berupaya mempengaruhi perkembangan suku bunga dalam batas-batas yang wajar agar mendorong kegiatan investasi yang efisien.



Dalam suatu pembangunan sudah pasti diharapkan terjadinya pertumbuhan. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan sarana dan prasarana, terutama dukungan dana yang memadai. Disinilah perbankan mempunyai peran yang cukup penting karena sesuai dengan fungsinya perbankan Indonesia adalah penghimpun dan penyalur dana dalam masyarakat sedangkan tujuannya adalah untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
Dalam sistem perekonomian sekarang ini, perbankan memang bukan merupakan satu-satunya sumber permodalan utama bagi investasi nasional. Tetapi bagi Indonesia, perbankan merupakan sumber permodalan utama dan peranan itu masih relatif besar dan diandalkan dibandingkan dengan pasar modal dan sumber-sumber permodalan lainnya. Bagi bank umum, kredit merupakan sumber utama penghasilan, sekaligus sumber resiko operasi bisnis terbesar. Sebagian dana operasional bank diputarkan dalam kredit, maka kredit akan mempunyai suatu kedudukan yang istimewa. Dan dapat dianggap “Kredit” sebagai salah satu sumber dana yang penting dari setiap jenis kegiatan usaha dan dapat diibaratkan sebagai darah bagi makhluk hidup. ( Siswanto Sutojo, 1995, 15 )
Pada dasarnya kredit hanya satu macam saja bila dilihat dari pengertian yang terkandung didalamnya. Akan tetapi untuk memperbedakannya kredit menurut faktor-faktor dan unsur-unsur yang ada dalam pengertian kredit, maka diadakanlah pembedaan-pembedaan kredit yang dapat kita bagi berdasarkan: jenis penggunaan, keperluan kredit, jangka waktu kredit, cara pemakaian, dan jaminan. Dalam hal ini kredit investasi yang sebagai bahasan, kredit ini termasuk kredit berdasarkan jenis penggunaan. Selain kredit investasi yang termasuk kredit menurut jenis penggunaan adalah kredit modal kerja dan kredit konsumsi. Kredit investasi diberikan oleh bank dengan tujuan membantu para investor untuk mendanai pembangunan proyek baru atau perluasan proyek yang sudah ada. Sedangkan kredit modal kerja diberikan oleh bank kepada debiturnya untuk memenuhi kebutuhan modal kerjanya. Sementara itu kredit konsumsi dipergunakan untuk membiayai operasi bisnis, debitur perorangan menarik kredit untuk membiyai kebutuhan barang dan jasa konsumtif. Berdasarkan penjelasan di atas, kredit investasi merupakan sebagian dari seluruh sumber dana pembangunan dan pengoperasian proyek, dengan kata lain kredit investasi adalah salah satu jenis kredit yang memegang peranan penting dalam perekonomian kita. Itulah salah satu alasan kenapa kredit investasi patut dijadikan proyek penelitian.

TABEL 1.1
Perkembangan Kredit Investasi Pada Bank Umum
Propinsi DIY Tahun 1990-2004
(juta rupiah)

Tahun Kredit investasi Perkembangan
kredit investasi
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004 153.793
169.636
199.661
231.107
261.228
235.820
327.432
460.442
493.387
220.576
205.734
324.750
434.995
656.046
714.718 -
15.843
30.025
31.446
30.121
-25.408
91.612
133.010
32.945
-272.811
-14.842
119.016
110.245
221.051
58.672

Sumber : Bank Indonesia, Yogyakarta



Pada tabel 1.1 dapat dilihat bahwa perkembangan kredit investasi pada bank umum di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dari tahun 1990 sampai tahun 2004 terus mengalami peningkatan namun sempat mengalami penurunan pada tahun 1995, 1999 dan 2000. Perkembangan kredit investasi tertinggi terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 221.051 juta rupiah, sebelumnya juga terjadi kenaikan yang cukup tinggi pada tahun 1997, yaitu sebesar 133.010 juta rupiah. Penurunan perkembangan kredit investasi pada bank umum di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang paling besar terjadi pada tahun 1999 yang mencapai sebesar 272.811 juta rupiah, akibat dari krisis moneter yang melanda perekonomian Indonesia.
Perkembangan terhadap kredit investasi pada bank umum di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan perkembangan kredit investasi dari 5 kabupaten yang ada di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kodya Yogyakarta. Sumbangan terbesar terhadap kredit investasi pada bank umum di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta disumbangkan oleh Kodya Yogyakarta yang kemudian diikuti oleh Kabupaten Sleman.









TABEL 1.2
Perkembangan Kredit Investasi Pada Bank Umum
Di Kabupaten Sleman Tahun 1990-2004
(juta rupiah)

Tahun Kredit investasi Perkembangan
kredit investasi
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004 50.053
79.270
94.100
65.749
70.797
71.382
80.193
127.597
86.889
29.363
45.965
150.540
142.125
176.708
224.511 -
29.217
14.830
-28.351
5.048
585
8.811
47.404
-40.708
-57.526
16.602
104.575
-8.415
34.583
47.803

Sumber : Bank Indonesia, Yogyakarta


Dapat dilihat pada tabel 1.2 perkembangan kredit investasi pada bank umum di Kabupaten Sleman dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan namum sempat mengalami penurunan pada tahun 1993, 1998, 1999 dan 2004, akan tetapi penurunan cukup besar terjadi pada tahun 1998 sampai 1999 akibat pengaruh krisis moneter. Bagi bank umum bila sukses dalam kegiatan bisnis kredit ini maka akan berhasil pula operasi bisnis mereka. Sebaliknya, bila mereka terjerat dalam banyak kredit bermasalah dan atau macet (baik jumlah debitur maupun nilai pinjaman), mereka akan mengadapi kesulitan besar. Seperti yang telah kita ketahui bahwa tejadinya krisis moneter menyebabkan makin banyaknya kredit bermasalah yang pada akhirnya mengakibatkan kehancuran pada Perbankan Indonesia, oleh karena itu kepercayaan masyarakat pada perbankan drastis mengalami penurunan. Dengan adanya pemasalahan ini maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang permintaan kredit investasi dan fakor-faktor yang mempengaruhinya di Kabupaten Sleman dengan Judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Kredit Investasi Pada Bank Umum di Kabupaten Sleman (kurun waktu 1989 – 2004)”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka dapatlah dirumuskan permasalahan yaitu :
1. Apakah PDRB berpengaruh terhadap permintaan kredit investasi bank umum di Kabupaten Sleman.
2. Apakah suku bunga kredit investasi berpengaruh terhadap permintaan kredit investasi bank umum di Kabupaten Sleman.
3. Apakah laju inflasi berpengaruh terhadap permintaan kredit investasi bank umum di Kabupaten Sleman.


1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel PDRB, suku bunga kredit investasi, dan laju inflasi terhadap permintaan kredit investasi bank umum di Kabupaten Sleman.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Memberikan gambaran bagaimana permintaan kredit khususnya kredit investasi pada ruang lingkup kabupaten.
2. Sebagai bahan informasi bagi pembaca yang ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyaluran kredit investasi.
3. Sebagi tambahan informasi untuk penelitian-penelitian lebih lanjut.
4. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana ekonomi pada jurusan Ekonomi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

Read More »»

HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KARYAWAN TERHADAP PENINGKATAN KINERJA KARYAWAN PADA PT SUMATERA PRIMA FIBREBOARD INDERALAYA OGAN ILIR (MS-22)

Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), adalah mendapatkan orang-orang untuk mengisi organisasi. Biasanya yang menangani masalah ini dikoordinir oleh Departemen SDM dan melibatkan bagian-bagian lain yang terkait (pada organisasi yang besar). Pada organisasi yang kecil pemimpin dapat secara langsung melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain atau para ahli.



Namun pada keduanya ada satu langkah penting yang harus dilakukan sebelum melakukan penarikan tenaga kerja (recruitment), yaitu menentukan jenis atau kualitas pegawai yang diinginkan untuk mengisi jabatan tersebut dan rincian mengenai jumlah atau kuantitas yang nanti akan menempati jabatan tersebut. Dengan demikian fungsi atau kegiatan pertama dalam manajemen SDM adalah mendapatkan orang yang tepat, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Setelah itu dilanjutkan pada penarikan tenaga kerja, seleksi penempatan, orientasi, promosi dan pemindahan atau mutasi.
Menurut (B Flippo, 1999, hal 31) metode yang paling sering digunakan dalam penentuan jenis atau kualitas tenaga kerja yang akan ditarik (recruitment) adalah analisis jabatan (job analysis). Job analysis terdiri dari dua kata job dan analysis. Job biasa diartikan sebagai jabatan, pekerjaan,
tugas, macam pekerjaan, dan kegiatan pekerjan. Analysis diterjemahkan memisah-misahkan atau menguraikan.
Beberapa astilah-istilah yang berkaitan dengan analysis jabatan : (Kogakusha, 2002, hal 23)
• Unsur (element) adalah kesatuan pekerjaan yang paling kecil.
• Tugas (task) adalah satu bagian atau satu komponen dari suatu jabatan.
• Posisi (position) adalah tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab dari seorang pegawai.
• Jabatan (job) adalah sekelompok posisi yang hampir sama dalam suatu badan, lembaga atau perusahaan.
• Okupasi (occupation) adalah jabatan-jabatan yang hampir sama yang terdapat dalam banyak perusahaan atau daerah.
• Analysis jabatan (job analyasis) adalah suatu kegiatan yang mempelajari, mengumpulkan, dan mencatat informasi-informasi atau fakta-fakta yang berhubungan dengan masing-masing jabatan secara sitematis dan teratur.
• Uraian jabatan (job description) adalah suatu keterangan singkat yang ditulis secara cemat mengenai kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab-tanggung jawab dari suatu jabatan.

• Persyaratan jabatan (job specification) adalah suatu catatan mengenai syarat-syarat orang yang minimum yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jabatan dengan sebaik-baiknya.
• Penilaian jabatan (job evaluation) adalah kegiatan yang dilakukan guna membandingkan nilai dari suatu jabatan dengan nilai dari jabatan atau jabatan-jabatan lain.
• Klasifikasi jabatan (job classification) adalah pengelompokkan jabatan-jabatan yang mempunyai nilai hampir sama.
Dalam proses analisis jabatan dokumen-dokumen penting yang dihasilkan adalah uraian jabatan dan persyaratan jabatan. Uraian jabatan mengandung catatan-catatan yang berhubungan dengan standar pelaksanaan pekerjaan, khususnya bila analisis jabatan memakai penyelidikan waktu dan gerak. Dalam hal demikian, maka uraian jabatan berisi rincian gerak yang termasuk dalam pelaksanaan atau produksi, lamanya waktu yang diperlukan untuk tiap gerak tersebut, dan standar hasil pekerjaan untuk semua jabatan. Persyaratan jabatan lebih menitik beratkan pada syarat-syarat mengenai orang yang diperlukan untuk mengisi jabatan tesebut.
Pendidikan dan pelatihan memberikan ikhtisar kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab-tanggung jawab dari suatu jabatan, hubungannya dengan jabatan-jabatan lain, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, dan kondisi kerja didalam mana jabatan itu diselesaikan. Pendidikan dan pelatihan
diadakan untuk memberikan pengertian tentang tugas-tugas yang terkandung dalam tiap jabatan, tetapi juga bagaimana melaksanakan tugas-tugas itu.
Pendidikan dan pelatihan digunakan untuk :
1. Mendapatkan kualitas dan kuantitas pegawai yang tepat yang diperlukan
untuk
Mencapai tujuan organisasi.
Persyaratan jabatan merupakan standar pegawai dengan mana pelamar jabatan dapat diukur. Isi persyaratan jabatan memberikan dasar untuk pembuatan prosedur seleksi.
2. Pelatihan
Uraian kewajiban-kewajiban dan alat-alat yang digunakan merupakan bantuan penting untuk mengembangkan isi program pelatihan.
3. Pendidikan
Uraian jabatan dan rincian syarat-syarat manusia dievaluasi berdasarkan nilainya dengan tujuan akhir menentukan nilai kompensasinya
4. Penilaian pelaksanaan pekerjaan
5. Daripada menilai pegawai berdasarkan sifat-sifatnya seperti dapat dipercaya dan prakarsa, sekarang ada suatu kecenderngan untuk menetukan sasaran jabatan dan menilai pekejaan yang dilakukan berdasarkan sasaran tersebut. Dalam jenis penilaian ini, uraian jabatan adalah berguna untuk merumuskan bidang-bidang di dalam mana sasaran jabatan ditentukan.
6. Promosi dan Pemindahan
Informasi jabatan membantu dalam merencanakan saluran-saluran promosi dan dalam mewujudkan garis-garis pemindahan.
7. Organisasi
Informasi jabatan yang diperoleh melalui analisis jabatan sering mengungkapkan hal-hal yang tidak baik dipandang dari sudut faktor-faktor yang mempengaruhi pola jabatan. Oleh karena itu proses analisis merupakan suatu jenis pemeriksaan organisasi.
8. Perkenalan
Bagi seorang peseta pelatihan yang baru, uraian jabatan paling berguna untuk tujuan perkenalan. Uraian jabatan membantu pengertian tentang jabatan dan organisasi.
9. Penyuluhan
Dengan sendirinya Informasi jabatan sangat banyak nilainya dalam penyuluhan jabatan. Penyuluhan demikian sebaiknya diadakan pada perguruan tinggi, karena banyak lulusan perguruan tinggi tersebut, tidak menyadari akan jenis-jenis jabatan yang ada. Penyuluhan juga diadakan apabila ada pegawai yang tampaknya tidak sesuai dengan posisinya sekarang.
10. Hubungan ketenagakerjaan
Uraian jabatan merupakan standar fungsi. Apabila pegawai berusaha menambah atau mengurangi kewajiban - kewajiban yang terdapat di
dalamnya, maka ini berarti bahwa ia tidak menaati standar. Sering timbul perdebatan dan dokumen tertulis tentang jabatan standar adalah berharga untuk memecahkan perdebatan demikian.
11. Perencanan kembali jabatan
Apabila majikan ingin menyesuaikan diri dengan suatu kelompok tertentu, misalnya dengan pegawai-pegawai cacat fisik, maka biasanya ia harus mengubah isi jabatan tertentu. Analisi jabatan memberikan informasi yang akan memudahkan perubahan jabatan-jabatan tersebut diisi oleh orang-orang yang mempunyai ciri-ciri khusus.
Informasi analisis jabatan mempunyai peranan yang penting sekali dalam perencanaan sumber daya manusia. Para perencanaan-peencanaan sumber daya manusia menggunakan data analisis jabatan dalam membandingkan kecakapan dari para pegawai yang diperlukan dengan kecakapan yang sesungguhnya ada untuk mengisi suatu jabatan tertentu dalam organisasi sampai tingkat dimana kecakapan yang sesungguhnya sudah tidak sesuai lagi dengan kecakapan yang dibutuhkan. Sehingga organisasi bisa mengambil beberapa tindakan untuk mengurangi ketidak sesuaian tesebut.
PT. Sumatera prima Fibreboard adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang produksi Medium Density Fibreboard (MDF) yang berlokasi di desa Tanjung Seteko KM.28 Inderalaya Ogan Ilir. Pada tahun 1999 terjadi reorganisasi yang melakukan banyak jabatan yang kosong. Dalam penempatan pegawai untuk mengisi jabatan yang kosong tersebut tidak tesebut tidak didasari pada pendidikan dan pelatihan karyawan akan tetapi berdasarkan pengangkatan oleh pimpinan secara langsung yang tentunya lebih bersifat subyektif. Dari penelitian awal yang penulis lakukan, hal tersebut menyebabkan produktifitas sulit untuk ditingkatkan dan cenderung menurun.Hal ini di sebabkan oleh ketidak sesuaian antara syarat-syarat jabatan dengan kualifikasi orang-orang yang menangani pekerjaan tersebut.
Dampak buruk lainnya yang disebabkan oleh hal tersebut adalah :
• Tingkat kemangkiran yang semakinmeningkat.
• Turunnya motivasi dalam bekerja bagi sebagian karyawan yang memegang jabatan tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga proses produksi mengalami hambatan.
Dengan latar belakang permasalahan seperti diuraikan diatas maka
Penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul :
HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KARYAWAN TERHADAP PENINGKATAN KINERJA KARYAWAN PADA PT. SUMATERA PRIMA FIBREBOARD BULAN APRIL 2007.

1.2. RUMUSAN MASALAH
Terdapat beberapa permasalahan pada PT. Sumatera Prima Fibreboard antara lain sebagai berikut :
1. Apakah ada hubungan pendidikan dan pelatihan karyawan secara simultan terhadap peningkatan kinerja karyawan PT. Sumatera Prima Fibreboard ?
2. Apakah ada hubungan pendidikan karyawan secara parsial terhadap peningkatan kinerja karyawan PT. Sumatera fibreboard ?
3. Apakah ada hubungan pelatihan karyawan secara parsial terhadap peningkatan kinerja karyawan PT. Sumatera Prima Fibreboard ?

1.3. TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pendidikan dan pelatihan karyawan secara simultan terhadap peningkatan kinerja karyawan pada PT. Sumatera Prima Fibreboard Inderalaya Ogan ilir.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Diketahuinya hubungan pendidikan karyawan secara parsial terhadap peningkatan kinerja karyawan.
2. Diketahuinya hubungan pelatihan kayawan secara parsial terhadap peningkatan kinerja karyawan.

1.4. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagi Peneliti
dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bidang pendidikan dan pelatihan karyawan.
2. Bagi PT. Sumatera Prima Fibreboard
Dapat memberikan informasi kepada pimpinan perusahaan yang bersangkutan guna melakukan perubahan dan pebaikan dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan karyawan di masa yang akan datang.
3. Bagi Universitas Kader Bangsa Palembang
Dapat digunakan sebagai acuan dan perbandingan untuk melakukan penelitian sejenis dalam rangka mendapatkan hasil yang lebih baik di masa yang akan datang.

Read More »»

Kualitas Pelayanan Publik di Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Kabupaten Jember (169)

Pelayanan merupakan tugas utama yang hakiki dari sosok aparatur, sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Tugas ini telah jelas digariskan dalam pembukaan UUD 1945 alenia keempat, yang meliputi 4 (empat) aspek pelayanan pokok aparatur terhadap masyarakat, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.



Ruang lingkup pelayanan dan jasa-jasa publik (public services) meliputi aspek kehidupan masyarakat yang sangat luas. Pelayanan dan jasa publik bahkan dimulai sejak seseorang dalam kandungan ketika diperiksa oleh dokter pemerintah atau dokter yang dididik di universitas negeri, mengurus akta kelahiran, menempuh pendidikan di universitas negeri, menikmati bahan makanan yang pasarnya dikelola oleh pemerintah, menempati rumah yang disubsidi pemerintah, memperoleh macam-macam perijinan yang berkaitan dengan dunia usaha yang digelutinya hingga seseorang meninggal dan memerlukan surat pengantar dan surat kematian untuk mendapatkan kapling di tempat pemakaman umum (TPU).

Luasnya ruang lingkup pelayanan dan jasa publik cenderung sangat tergantung kepada ideologi dan sistem ekonomi suatu negara. Negara-negara yang menyatakan diri sebagai negara sosialis cenderung memiliki ruang lingkup pelayanan lebih luas dibandingkan negara-negara kapitalis. Tetapi luasnya cakupan pelayanan dan jasa-jasa publik tidak identik dengan kualitas pelayanan itu sendiri. Karena pelayanan dan jasa publik merupakan suatu cara pengalokasian sumber daya melalui mekanisme politik, bukannya lewat pasar, maka kualitas pelayanan itu sangat tergantung kepada kualitas demokrasi. Konsekuensi dari hal ini adalah negara-negara yang pilar-pilar demokrasinya tidak bekerja secara optimal tidak memungkinkan pencapaian kualitas pelayanan publik yang lebih baik. Bahkan sebaliknya, pelayanan publik tanpa proses politik yang demokratis cenderung membuka ruang bagi praktek-praktek korupsi.
Sebagai bagian dari sistem kenegaraan dengan konstitusi yang pekat dengan norma keadilan, ekonomi Indonesia dicirikan oleh ruang lingkup pelayanan publik yang sangat luas. Sayangnya, pelayanan publik yang menyentuh hampir setiap sudut kehidupan masyarakat tidak ditopang oleh mekanisme pengambilan keputusan yang terbuka serta proses politik yang demokratis. Karena itu tidak mengherankan jika pelayanan publik di Indonesia memiliki ciri yang cenderung korup, apalagi yang berkaitan dengan pengadaan produk-produk pelayanan publik yang bersifat kewajiban seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Surat Izin Mengemudi (SIM), Pasport, dan lain-lain.

Kendati mungkin fenomena korupsi yang berkaitan dengan jenis-jenis produk tadi hanya melibatkan biaya transaksi (antara sektor publik dengan individu masyarakat) yang relatif kecil (pretty corruption), tetapi biaya-biaya transaksi tersebut melibatkan porsi populasi yang sangat besar. Karena itu pola korupsi dengan menggunakan instrumen produk-produk pelayanan tersebut bisa jadi memiliki dampak yang sangat luas.
Masalahnya kemudian adalah bagaimana meminimalkan biaya-biaya transaksi tersebut? Teramat sulit tentunya menjawab pertanyaan ini, kendati jawabannya merupakan bagian terpenting dari strategi pemberantasan korupsi di sektor publik. Karena itu kajian mengenai mekanisme pelayanan publik, berikut biaya-biaya transaksinya menjadi elemen penting dari strategi pemberantasan korupsi.

Sejalan dengan itu, prinsip market oriented organisasi pemerintahan harus diartikan bahwa pelayanan yang diberikan oleh pemerintah (aparatur) harus mengutamakan pelayanan terhadap masyarakat. Demikian juga prinsip catalitic government, mengandung pengertian bahwa aparatur pemerintah harus bertindak sebagai katalisator dan bukannya penghambat dari kegiatan pembangunan, termasuk di dalamnya mempercepat pelayanan masyarakat. Dalam konteks ini, fungsi pemerintah lebih dititikberatkan sebagai regulator dibanding implementator atau aktor pelayanan. Sebagai imbangannya, pemerintah perlu memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat sendiri sebagai penyedia atau pelaksanaan jasa pelayanan umum. Dengan kata lain, tugas pemerintah adalah membantu masyarakat agar mampu membantu dirinya sendiri (helping people to help themselves). Inilah sesungguhnya yang dimaksud dengan prinsip self-help atau steering rather than rowing.

Pembentukan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) sebagai institusi yang khusus bertugas memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat, pada dasarnya dapat dikatakan sebagai terobosan baru atau inovasi manajemen pemerintahan di daerah. Artinya, pembentukan organisasi ini secara empirik telah memberikan hasil berupa peningkatan produktivitas pelayanan umum minimal secara kuantitatif. Dalam konteks teori Reinventing Government, pembentukan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) ini telah menghayati makna community owned, mission driven, result oriented, costumer oriented, serta anticipatory government.

Oleh karena itu, inovasi pembentukan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) ini perlu dikembangkan lagi dengan penemuan-penemuan baru dalam praktek manajemen pemerintahan di daerah. Salah satu peluang yang dapat dikembangkan dalam hal ini adalah penyediaan jasa-jasa pelayanan kedalam beberapa alternatif kualitas.
Jenis pelayanan yang secara kualitatif lebih baik dapat dikenakan biaya yang agak mahal, sementara jasa pelayanan standar dikenakan biaya atau tarif yang standar pula. Pemasukan dari jenis pelayanan yang relatif mahal, akan dapat dipergunakan untuk membiayai pelayanan yang lebih murah, melalui mekanisme subsidi silang (cross subsidi). Dengan cara demikian, diharapkan institusi dapat membiayai sendiri kebutuhan operasionalnya, dengan tidak mengorbankan fungsi pelayanan yang menjadi tugas utamanya.

Selain itu, fenomena di atas juga menunjukkan bahwa masyarakat yang belum terlayani masih lebih besar dibandingkan masyarakat yang sudah terlayani. Kenyataan tersebut disebabkan selain karena faktor geografis juga oleh lemahnya pelayanan oleh petugas baik secara administratif maupun teknis. Untuk itu Unit Pelayanan Terpadu (UPT) sebagai organisasi pelaksana harus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan, karena pada hakikatnya kualitas ditentukan hanya oleh pelanggan (Coupet dalam Osborne dan Gaebler, 1992).

Kenyataan tersebut tidak saja disebabkan oleh berbagai hambatan sebagaimana disebutkan di atas, melainkan masih ada hal lain yang menjadi penyebabnya, seperti dalam memberikan pelayanan publik tidak diikuti oleh peningkatan kualitas birokrasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat.Kita semua menyadari pelayanan publik selama ini bagaikan rimba raya bagi banyak orang. Amat sulit untuk memahami pelayanan yang diselenggarakan oleh birokrasi publik. Masyarakat pengguna jasa sering dihadapkan pada begitu banyak ketidakpastian ketika mereka berhadapan dengan birokrasi. Amat sulit memperkirakan kapan pelayanan itu bisa diperolehnya. Begitu pula dengan harga pelayanan. Harga bisa berbeda-beda tergantung pada banyak faktor yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh para pengguna jasa. Baik harga ataupun waktu seringkali tidak bisa terjangkau oleh masyarakat sehingga banyak orang yang kemudian enggan berurusan dengan birokrasi publik.

Dari uraian diatas telah disebutkan bahwa keberadaan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) secara empirik telah berhasil mendongkrak efisiensi dan produktivitas pelayanan publik. Namun perlu digarisbawahi pula bahwa selain pelayanan Kartu Tanda Penduduk (KTP), fungsi Unit Pelayanan Terpadu (UPT) sesungguhnya tidak lebih sebagai front liner dalam penyelenggaraan pelayanan tertentu. Artinya, Unit Pelayanan Terpadu (UPT) memfungsikan dirinya sebagai ‘loket’ penerima permohonan yang akan dilanjutkan prosesnya kepada Dinas/Instansi fungsionalnya masing-masing. Dalam kondisi demikian, maka pembentukan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) justru dapat dipersepsikan sebagai ‘penambahan rantai birokrasi’ dalam pelayanan kepada masyarakat.
Untuk menghindari kesan yang negatif ini, maka mau tidak mau Unit Pelayanan Terpadu (UPT) harus dapat bekerja secara profesional, dalam pengertian bahwa meskipun terjadi penambahan rantai birokrasi, namun proses penyelesaian jasa pelayanan dapat dilakukan secara lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik pula.

Pada dasarnya penelitian tentang kualitas pelayanan publik ini penting untuk dilakukan, dikarenakan masyarakat sebagai customer service belum merasa puas baik dari segi waktu, biaya dan mutu pelayanan yang selama ini diberikan. Untuk itu penelitian ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik terutama yang dilaksanakan di Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Kabupaten Jember.

Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Kabupaten Jember ini termasuk masih berusia muda juga, sampai saat ini pelaksanaannya masih berjalan kurang lebih 4 (empat) tahun, awal pendiriannya pada tahun 1998 yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati Jember nomor 58 tahun 1998 tentang Pelaksanaan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) di Kabupaten Jember.

Read More »»

PENERAPAN BALANCED SCORECARD DALAM PENILAIAN KINERJA AJB BUMIPUTERA MALANG... (168)

Dewasa ini, pengaruh teknologi dan informasi membentuk pola pikir manusia untuk membuat prioritas ke depan dalam menghadapi segala ketidakpastian yang dapat terjadi pada siapa dan kapan saja tanpa adanya suatu peringatan ataupun pemberitahuan sebelumnya. Dibutuhkan sesuatu yang mampu memberi manfaat bagi penggunanya berupa rasa aman dan perlindungan, pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil, dapat dijadikan sebagai jaminan untuk memperoleh kredit, berfungsi sebagai tabungan, mampu sebagai alat penyebar resiko serta membantu meningkatkan kegiatan usaha yaitu berupa produk jasa asuransi. Siamat Dahlan (2005:656).



Di tengah hancurnya sistem perbankan dan anjloknya perekonomian Indonesia, premi pada industri asuransi terus meningkat dalam jumlah yang signifikan 20% dalam satu tahun. Secara umum pasar potensial industri asuransi setelah krisis mengalami penyempitan dengan adanya pertambahan angka pengangguran, restrukturisasi perbankan sehingga karyawan bank yang dianggap segmen menengah yang potensial mengganggur, diperkirakan pasar industri asuransi mengalami kemerosotan, dan tidak kenyataannya. Pasar asuransi Indonesia merupakan sesuatu yang unik dan potensial.

AJB BumiPutera Malang, salah satu industri yang bergerak di bidang jasa asuransi. Peluang penguasaan terhadap pasar agar asuransi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat bukanlah hal yang mudah, ditambah bagaimana menghadapi para pesaing yang berbekal lebih. Sehingga dibutuhkan dukungan teknologi informasi yang kuat, inovatif dalam produk serta bentuk pelayanan yang mudah dan cepat kepada masyarakat agar mampu bertahan dan cepat melakukan penyesuaian dengan perubahan tuntutan pasar sehingga mampu meningkatkan pangsa pasar di segmen kelas menengah dan bawah serta optimalisasi surplus operasional.

Pengukuran kinerja kantor wilayah AJB Bumiputera yang hanya dinilai dari target yang telah dianggarkan oleh kantor pusat dengan dibandingkan dengan realisasi yang diperoleh dari operasional kantor rayon di wilayahnya pada periode tersebut, dengan anggapan bahwa hasil bisnis dinyatakan baik dengan pencapaian target tersebut akan mampu memberikan hasil yang memuaskan setidak-tidaknya bagi kantor pusat, karyawan, bahkan pemilik polis. Namun pengukuran kinerja yang hanya menunjukkan hasil-hasil dari pencapaian nominal anggaran dan realisasi pada periode tersebut, ditambah nilai target yang dianggarkan telah ditentukan oleh pusat yang artinya kantor wilayah hanya sebagai sarana bisnis untuk berinvestasi yang seluruh kebijakannya berdasarkan keputusan pusatnya, tentu saja hal seperti ini kurang mendukung keberlangsungan suatu usaha karena sifatnya hanya suatu pelaksanaan instruksi. Dapat diketahui bahwa pengukuran kinerja kantor wilayah dikatakan baik bila pihak-pihak yang terkait didalamnya mendapatkan keuntungan. Ditambah dengan tidak adanya alat ukur kinerja standar yang dapat digunakan karena perbedaan potensi setiap kantor wilayah. Pengukuran kinerja yang hanya menunjukkan hasil-hasil dari keputusan masa lalu serta tidak memperhatikan faktor-faktor di luar keuangan yang merupakan faktor pemicu kinerja masa mendatang dianggap kurang relevan dengan perubahan tuntutan pasar dalam era globalisasi. Dengan adanya kelemahan-kelemahan dan mengingat keterbatasan-keterbatasan diatas dalam hal pengukuran kinerja untuk menilai kinerja kantor wilayah sebagai pelaksana operasional kantor pusat berkeinginan untuk mendapatkan suatu hasil pengukuran kinerja secara lengkap dan terintegrasi.

Pemilihan model sistem pengukuran kinerja Balanced Scorecard yang diperkenalkan oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton (1992) ini memungkinkan manajer perusahaan untuk mengukur bagaimana unit bisnis melakukan penciptaan nilai saat ini dengan mempertimbangkan kepentingan-kepentingan masa yang akan datang. Dengan menggunakan model Balanced Scorecard akan mencakup aktivitas penciptaan nilai yang dihasilkan oleh seperangkat komponen perusahaan yang berasal dari intern maupun ekstern, misalnya produtivitas agen, pelaksanaan BNS dan lain sebagainya.

Tujuan suatu unit usaha dalam Balanced Scorecard tidak hanya dinyatakan dalam suatu ukuran finansial, melainkan dijabarkan lebih lanjut kedalam pengukuran bagaimana unit usaha tersebut menciptakan kepentingan-kepentingan masa yang akan datang. Tujuan dan pengukuran tersebut memandang kinerja perusahaan dari empat komponen atau perspektif yang membentuk Balanced Scorecard yaitu : Keuangan (Finansial), Pelanggan (Customers), Proses Bisnis Internal (Internal Business Process), serta Proses Belajar dan Pertumbuhan (Learning and Growth).
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Penerapan Balanced Scorecard Dalam Penilaian Kinerja AJB BumiPutera Malang”

Read More »»

PENGARUH PEMBERIAN KOMPENSASI TERHADAP PRESTASI KERJA GURU DI SMK YKTB 2 BOGOR …(PEND-55)

Prestasi kerja pengajar dari suatu lembaga pendidikan, selalu menekankan pelaksanaan tugas pengajar, sedangkan tugas-tugas yang harus dilaksanakan adalah bagian dari pekerjaan atau posisi dalam lembaga pendidikan.
Para pimpinan lembaga pendidikan secara rutin menilai keefektifan individu melalui proses evaluasi prestasi kerja, evaluasi prestasi kerja ini menjadi dasar untuk kenaikan gaji, promosi, insentif, kompensasi dan jenis imbalan lain yang diberikan lembaga bimbingan belajar itu.



Menurut situasi yang lazim setiap individu bekerja dalam kelompok unit kerja, dalam beberapa hal keefektifan kelompok adalah jumlah sumbangan dari seluruh anggautanya, dalam hal lain keefektifan kelompok unit kerja melebihi jumlah sumbangan individual. Karena organisasi terdiri dari individu dan kelompok unit kerja, keefektifan organisasi adalah fungsi dari keefektifan individu dan kelompok unit kerja, walaupun demikian keefektifan organisasi melebihi jumlah keefektifan individu dan kelompok unit kerja.
Lembaga pendidikan dapat memperoleh tingkat prestasi kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah prestasi kerja masing-masing bagian individu dan kelompok unit kerja. Lembaga bimbingan belajar sebagai alat untuk mengerjakan pekerjaan dapat menyelesaikan pekerjaan lebih baik dari usaha individu manapun.

Prestasi kerja suatu lembaga pendidikan menunjukkan bahwa keefektifan kelompok unit kerja tergantung pada keefektifan individu dan keefektifan organisasi tergantung pada keefektifan kelompok unit kerja. Hubungan yang pasti antara ketiga perspektif itu bervariasi tergantung pada berbagai faktor seperti macam organisasi lembaga pendidikan, pekerjaan yang dilakukan dan penggunaan teknologi dalam melakukan pekerjaan tersebut.
Prestasi kerja individu menjadi bagian dari prestasi kerja kelompok unit kerja, yang pada gilirannya menjadi bagian dari prestasi kerja organisasi lembaga pendidikan. Di dalam lembaga pendidikan yang efektif, manajemen membantu prestasi kerja secara keseluruhan, yaitu suatu keseluruhan yang lebih besar dari sekedar penjumlahan kelompok-kelompok unit kerja. Tidak ada suatu ukuran atau kriteria yang memadai, yang dapat mencerminkan prestasi kerja lembaga pendidikan.

Prestasi kerja lembaga pendidikan harus dilihat dalam hubungan ukuran berganda di dalam suatu kerangka. Tetapi ketidak efektifan prestasi kerja sesuatu tingkatan organisasi lembaga pendidikan merupakan pertanda bagi manajemen untuk mengambil tindakan korektif. Semua tindakan korektif manajemen akan berpusat pada elemen perilaku organisasi lembaga pendidikan, struktur, dan proses.

Jadi keefektifan kelompok unit kerja lebih besar dibandingkan dengan jumlah keefektifan individual karena perolehan terwujud melalui usaha gabungan individual dan kelompok unit kerja. Tugas manajemen adalah mengindentifikasi sebab-sebab keefektifan organisasi lembaga pendidikan, kelompok unit kerja dan individu.
Prestasi kerja organisasi lembaga pendidikan mencerminkan kemampuan organisasi untuk menghasilkan jumlah dan kualitas keluaran yang dibutuhkan lingkungan. Ukuran prestasi kerja organisasi lembaga pendidikan berhubungan secara langsung dengan keluaran yang diterima oleh organisasi bersangkutan.

Salah satu dorongan seseorang mengejar prestasi kerja pada suatu organisasi lembaga pendidikan adalah adanya kompensasi, sudah menjadi sifat dasar dari manusia pada umumnya untuk menjadi lebih baik, lebih maju dari posisi yang dipunyai pada saat ini. Para pengajar juga mulai memikirkan bahwa kerja bukanlah hanya sekedar untuk memperoleh pendapatan, tetapi juga memikirkan untuk menyatakan dirinya (Self Actualization), karena itulah mereka menginginkan suatu dorong an dalam hidupnya.
Dengan meningkatnya kemajuan teknologi mengakibatkan semakin berkembangnya pemahaman manusia tentang pentingnya aspek sumber daya manusia dalam suatu organisasi lembaga pendidikan. Bagaimanapun tingginya teknologi tanpa didukung oleh manusia sebagai pelaksana operasionalnya, tidak akan mampu menghasilkan suatu output yang sesuai dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Betapapun modernnya mesin-mesin yang digunakan, unsur manusia masih akan tetap memegang peranan yang sangat menentukan. Oleh karena itu pemahaman dan pengembangan sumber daya manusia didalam suatu organisasi lembaga pendidikan menjadi sangat penting.

Dalam kehidupan modern dewasa ini, faktor manusia sangatlah diutamakan dengan menitikberatkan secara mendasar pada pengukuran hasil nyata yang mampu dicapai oleh seorang tenaga kerja yang terlibat dalam proses penentuan sasaran.
Prestasi kerja didalam organisasi lembaga pendidikan diukur dari mampu tidaknya mewujudkan sasaran yang telah diterapkan sebelumnya dan bila mampu jauh hasil nyatanya dibandingkan dengan sasaran tersebut. Ketidak jelasan dalam menetapkan sasaran, akan mengakibatkan tenaga kerja tidak dapat mengevaluasi dan tidak mengetahui sampai sejauh mana prestasi kerja yang telah dicapainya.

Read More »»

ANALISIS PENGARUH PERILAKU KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU SMK PGRI ……KABUPATEN ..(PEND-54)

Guru merupakan ujung tombak yang berada pada garis terdepan yang langsung berhadapan dengan siswa melalui kegiatan pembelajaran di kelas ataupun di luar kelas. Para guru jelas dituntut pula dapat melaksanakan seluruh fungsi profesionalnya secara efektif dan efisien



Baik dari kepentingan pendidikan nasional maupun tugas fungsional guru, semuanya menuntut agar pendidikan dan pengajaran dilaksanakan secara profesional artinya dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan didukung oleh para guru yang mempunyai kinerja yang baik.
Kinerja guru atau prestasi kerja, istilah Saydam (2005: 486) ”merupakan hasil pelaksanaan pekerjaan yang dicapai oleh seorang karyawan (guru) dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya”. Peranan prestasi kerja sendiri dimana diharapkan nantinya bisa menjadi pertimbangan organsisasi guna meningkatkan kesejahteraan karyawannya. UU Ketenagakerjaan pasal 100 ayat 1 (2003: 65) menyebutkan “untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja/buruh dan keluarganya, pengusaha wajib menyediakan fasilitas- fasilitas kesejahteraan”.
Disamping sekolah sebagai organisasi, pada umumnya kinerja guru sangat ditentukan oleh efektivitas kepemimpinan. Kepemimpinan yang efektif akan membawa dampak pada tingginya kinerja dan sebaliknya kepemimpinan yang tidak efektif membawa dampak psikologis yang diwujudkan dengan tidak peduli terhadap pekerjaan dan tidak bertanggung jawab terhadap kemajuan organisasi yang pada akhirnya menghasilkan kinerja yang rendah.
Dengan demikian diharapkan perilaku pemimpin dapat membangun dan mempertahankan kinerja (unjuk kerja) guru dengan baik, seorang pemimpin harus memperhatikan hak guru karena guru tidak hanya dituntut untuk menjalankan tugas atau melaksanakan kewajiban saja, melainkan juga harus mendapatkan perhatian yang serius dari pihak pemimpin. Perhatian tersebut dapat ditunjukan malalui perilaku pemimpin yang berorientasi pada tugas maupun pada hubungan social, yang keduanya mampu mempengaruhi prestasi kerja guru. Gibson et al (1996:24) menyebutkan “Agar bawahan /anggota organisasi dapat memenuhi tugas–tugas organisasinya, sebagian besar tergantung pada gaya kepemimpinan yang digunakan oleh pemimpin”.

Dilain pihak motivasi merupakan salah satu alat bagi kepemimpinan atau seorang pemimpin dalam menggunakan jenis pengaruhnya yang bukan paksaan (non coersive) dalam rangka meningkatkan kinerja bawahannya. Kemampuan memotivasi karyawan merupakan keterampilan manajerial yang harus dikuasai oleh seorang pimpinan. Secara psikologis pimpinan tidak mungkin mampu mempengaruhi motivasi guru tanpa sebelumnya memahami apa yang dibutuhkan oleh guru yang bersangkutan. Dengan memahami peranan penting motivasi kerja guru akan mempermudah pimpinan mengharapkan prestasi kerja. Guru akan terdorong untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki.
Semakin tinggi tingkat motivasi seseorang, akan berdampak pada meningkatnya tingkat kinerja seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa hal penting yang harus dilakukan adalah mengusahakan agar tingkat motivasi seseorang itu selalu mengalami peningkatan.

Read More »»

PERANAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X SISWA SMA ...... (PEND-53)

Agar lulusan Pendidikan Nasioanal memiliki keunggulan kompetetif dan kooperatif sesuai standar mutu nasional dan internasional kurikulum perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi. Hal ini dilakukan agar sistem pendidikan Nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). Dasar kompetensi dapat menjamin pertumbuhan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan
Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai yang diamanatkan dalam Undang –Undang Dasar 1945.



Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 mengatakan setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat 2 mengatakan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayai.
Peningkatan mutu lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) hanya dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas praktisi pendidikan, yaitu kualitas pembelajaran. Guru dituntut untuk mampu mengembangkan cara mengajar dan belajar siswa. Jadi semua komponen MIPA haruslah dapat membantu terlaksananya pembelajaran dengan sistem pembelajaran aktif dan kreatif serta menyenangkan bagi para siswa. Oleh karena itu guru dapat mengembangkan model pembelajaran dan strategi yang digunakan dalam belajar mengajar serta perlu adanya pemberian motivasi belajar dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Sasaran di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang digalakkan pemerintah di bidang pendidikan adalah tercapainya kemampuan nasional dalam pemanfaatan pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan peradaban serta ketangguhan dan daya saing bangsa. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus ditunjang oleh kemampuan pemanfaatan pengembangan dan penunjangan berbagai teknik produksi, teknologi, ilmu pengetahuan terapan dan ilmu pengetahuan dasar secara seimbang, dinamis, dan efektif untuk mencapai kesejahteraan bangsa.
Biologi merupakan cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Dalam mempelajari Biologi hendaknya menggunakan strategi dan metode yang tepat agar siswa mampu memahami konsep-konsep Biologi. Dalam pembelajaran Biologi hendaknya dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang guru agar memantapkan berbagai konsep IPA (Biologi) anak didik. Mata pelajaran Biologi dapat membosankan dan menjenuhkan karena lebih banyak menggunakan istilah-istilah Latin yang kurang dipahami dan dimengerti oleh siswa. Dewasa ini muncul berbagai pendekatan pembelajaran sebagai alternatif dalam pemecahan masalah kesulitan belajar.

Pembelajaran kontekstual (CTL) dijadikan alternatif yang dapat memberdayakan siswa. Pembelajaran dengan menerapkan strategi kontekstual kelas dapat berfungsi sebagai tempat mendiskusikan hasil penemuan di lapangan. Pendekatan kontekstual (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Proses Pembelajaran kontekstual (CTL) dapat berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi dan proses pembelajaran ini lebih dipentingkan dari pada hasil.
Pengertian Pembelajaran adalah ”upaya untuk membelajarkan siswa” (Degeng, 1990; 2). Upaya tersebut tidak hanya berupa bagaimana siswa belajar sendiri, melainkan bertujuan dan terkontrol. Lebih lanjut Degeng (1990:2) mengemukakan bahwa pembelajaran memiliki makna yang lebih dalam untuk mengungkapkan hakikat perancangan (desain) upaya membelajarkan siswa. Guru senantiasa mengupayakan perbaikan kualitas pembelajaran melalui berbagai usaha yang langsung berhubungan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Salah satu usaha guru adalah memberikan atau mendorong motivasi belajar kepada siswanya. Motivasi atau minat siswa bertujuan agar siswa senantiasa rajin belajar merupakan tugas guru sebagai motivator. Rendahnya motivasi belajar siswa disebabkan karena beban belajar siswa yang berlebihan. Keberhasilan atau kegagalan siswa seringkali dikaitkan dengan tinggi rendahnya motivasi belajar.
Berdasarkan masalah yang ditemukan di atas, jika diidentifikasikan dengan permasalahannya yang selanjutnya mempengaruhi hasil belajar atau prestasi belajar siswa maka ditemukan masalah-masalah yang sedemikian kompleks termasuk kemungkinan adanya faktor-faktor yang tidak diketahui.

Read More »»

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TANYA JAWAB DAN DISKUSI TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI SISWA MATA PELAJARAN BHS INDO..(PEND-52)

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TANYA JAWAB DAN DISKUSI TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI SISWA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS X SMK NEGERI I DAN SMKST. …….DI KABUPATEN ……..


Dalam proses belajar mengajar, harus dipahami sebagai suatu realitas serentak tantangan bagi guru untuk mendesain pembelajaran sehingga menghasilkan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Pertimbangan dalam mendesain pembelajaran ini karena siswa sebagai subjek belajar mempunyai keunggulan pada aspek tertentu, disini guru harus mengembangkan secara optimal dan menerapkan aktivitas belajar yang bermakna dan menyenangkan. Target ketercapaian kurikulum mengeliminasi hak siswa dan akan menghambat proses pencapaian tujuan pendidikan secara mendasar yaitu menjadi manusia seutuhnya. Bertautan dengan realita yang dihadapi dalam uraian ini, guru perlu menerapkan metode yang menghasilkan pembelajaran yang relevan untuk siswa adalah Tanya jawab dan diskusi.



Penerapan pembelajaran dengan metode Tanya jawab dan diskusi akan sangat menarik untuk dikaji secara detail. Metode Tanya jawab menawarkan keterampilan dalam mengkaji problem pendidikan dengan cara diskusi sebagai solusi menghidupkan proses pembelajaran. Sebagian besar siswa berpikiran bahwa belajar merupakan aktivitas yang menjenuhkan sekali sering banyak siswa beranggapan duduk di ruang kelas ibarat sebuah ruang tahanan. Problem demikian mungkin ada benarnya akibat siswa harus berjam-jam dengan kerja pikiran pada sebuah pembahasan, bahkan beranggapan belajar lebih menjadi beban yang menimbulkan gejolak daripada upaya mendapatkan ilmu pengetahuan. Mungkin diantara siswa yang masih mau mengenyam pendidikan yang tidak lebih dari sekedar menyatakan kehadiran di kelas atau sekedar mendapatkan nilai tanpa kesadaran mengembangkan pengetahuan atau mengasah keterampilan berpikir.
Lenyapnya motivasi belajar siswa mungkin berakar penyebab pada keterbatasan metode yang diterapkan guru yang membatasi kemampuan mengasah keterampilan. Beberapa resep yang bisa dipakai dalam menciptakan hasrat positif yaitu menetapkan siswa secara nyaman, memposisikan siswa yang cocok saat pelajaran berlangsung, meningkatkan partisipasi aktif pribadi siswa dan memakai media yang melahirkan kesan sembari menekankan ilmu pengetahuan serta menyiapkan fasilitator yang telaten dalam menerapkan proses pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.

Mendesain proses pengajaran yang memuaskan siswa merupakan salah satu aspek lingkungan serta pengawasan turut menekankan rasa aman-nyaman sebuah proses pembelajaran di kelas. Selain itu guru menciptakan motivasi dan menyiapkan
siswa untuk meraih sukses melalui tanya jawab dan diskusi serentak mengasah keterampilan berpikir siswa. Hal ini telah dinyatakan Djamarah dan Zain (1996:107) bahwa metode bertanya merupakan teknik penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa dan dapat pula dari siswa kepada guru. Bersamaan pikiran tersebut, Alipandie (1985:97) mengatakan metode tanya jawab adalah penyampaian pelajaran oleh guru dengan jalan mengajukan pertanyaan dan siswa menjawab. Definisi yang sama juga datang dari Djajojodisastro (1984:97) bahwa metode Tanya jawab merupakan suatu cara menyampaikan bahan pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab oleh murid pada saat itu juga. Hakekat metode tanya ini dilakukan secara lisan. Bertolak dari definisi-definisi diatas dapat dinyatakan bahwa metode tanya jawab merupakan metode dimana guru mengajukan pertanyaan secara lisan kepada siswa untuk dijawab. Sebaliknya demikian pertanyaan menciptakan sugesti untuk menggiatkan pola berpkir siswa. Jika ada ketidak-jelasan sesuatu memotivasi seseorang berupaya memaknainya.

Mengikut proses pembelajran dikelas, yang lazim disaksikan adalah aktivitas verbal dalam wujud berbicara. Hal demikian mengindikasikan suatu keterampilan verbal yang dimiliki oleh seorang guru adalah terampil bertanya. Menurut kamus Bahasa Indonesia (Yandianto, 2000:608), bertanya artinya meminta keterangan, penjelasan, meminta supaya diberitahu. Sementara Hasibuan dan Moedjiono (1986:62) bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respons seseorang yang dikenai. Maksud respon berupa pengetahuan dan hal yang butuh pertimbangan siswa.

Mengajukan pertanyaan kepada siswa saat proses pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak dipisahkan dari metode apapun yang dipakai, tujuan yang ingin dicapai, bagaimanapun kondisi siswa yang dihadapi. Pertanyaan yang diajukan mengumpan siswa berpikir kritis pada pokok bahasan yang sedang dipelajari. Guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Karena itu adanya inovasi pendidikan khususnya kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang diproduk dari upaya pendidikan bermuara pada faktor guru. Eksistensi peran guru dalam upaya membelajarkan siswa sungguh dituntut multi peran sehngga menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif.

Metode yang relatif tua namun masih dapat diandalkan dalam teknik pembelajaran apapun adalah metode tanya jawab. Luar biasa terjadi alur komunikasi yang diduga berpengaruh pada respon siswa dan pada gilirannya akan berpengaruh pada prestasi belajar. Motivasi berprestasi adalah suatu kondisi yang bisa menciptakan daya dorong atau sugesti beraktivitas.

Read More »»

PENGARUH INTERAKSI PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPA DI SMA NEGERI 2 ……… (PEND-51)

Dedy Supriyadi (1998 : 34 ), menyatakan bahwa permasalahan yang acap muncul kepermukaan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah adalah “ Rendahnya out put (keluaran) atau hasil pendidikan “. Lembaga pendidikan yang lebih tinggi berpendapat bahwa rendahnya kualitas out put adalah akibat dari masukan (input) yang diterima kualitasnya rendah. Sumber lain menyatakan bahwa daya serap siswa terhadap pelajaran yang diberikan di sekolah masih sangat rendah. Prosentase daya serap pada tingkat sekolah dasar adalah 59% dari bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh murid sekolah dasar, sedangkan pada tingkat SLTP dan SLTA lebih rendahnya lagi daya serapnya yaitu 58% (Dirjen Dikdasmen 1983 : 3 ). Rendahnya daya serap siswa mungkin penyebab utamanya adalah strategi yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar kurang memadai atau kurang tepat.



Matulada (1989 : 4 ) menyatakan bahwa rendahnya mutu pendidikan disebabkan oleh mutu tenaga kependidikan yang masih rendah dan kurang memadai.
Radikun (1989) menyatakan bahwa rendahnya kualitas pengajar disebabkan pengajaran yang kurang efektif, kurang efisien dan kurang membangkitkan siswa untuk belajar.
Teknologi pembelajaran adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi, untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan – pemecahan masalah dalam situasi dimana keiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol ( AECT 1978 : 3)
Dalam teknologi pembelajaran, cara pemecahan masalahan berupa komponen system pembelajaran (instruksional) yang telah disusun dalam fungsi desain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan, serta dikombinasikan sehingga menjadi system pembelajaran yang lengkap. Komponen – komponen itu meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik dan latar. Proses analisis masalah dan mencari cara pemecahan masalah, implementasi pemecahan itu diidentifikasi melalui fungsi pengembangan yang meliputi riset – teori, desain, produksi, evaluasi, pemilihan, pemanfaatan, penyebarluasan. Dalam kaitan ini, penelitian ini merupakan bagian dari teknologi pembelajaran dimana pemberian pendekatan keterampilan proses merupakan salah satu teknik, yang merupakan bagian dari komponen system pembelajaran, yang digunakan oleh peneliti untuk memecahkan masalah pembelajaran, khususnya terkait dengan masalah kualitas proses belajar mengajar.
Salah satu cara belajar mengajar yang menekankan berbagai kegiatan dan tindakan adalah menggunakan pendekatan (teknik) tertentu dalam belajar mengajar, karena pendekatan dalam belajar mengajar pada hakekatnya merupakan suatu upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan guru.

Pada dasarnya pendekatan dalam belajar mengajar adalah melakukan proses belajar mengajar yang menekankan pentingya belajar melalui proses mengalami untuk memperoleh pemahaman. Pendekatan ini mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan berhasil tidaknya belajar yang diinginkan.

Hill (1980) bahwa pendekatan keterampilan proses dilakukan sebagai interaksi antara guru dan siswa yang dipakai untuk merespon siswa dalam mengerjakan tes atau latihan. Anderson dan Faust (1973 : 270 – 295) mengemukakan bahwa pendekatan keterampilan proses yang diberikan kepada siswa akan mendorong siswa belajar apabila pemberian informasi itu dapat menjelaskan kekurangan siswa sekaligus memberi petunjuk agar siswa dapat memperbaiki kekurangannya.

Rocklin dan Thomson (1979) bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pemberian informasi kepada siswa tentang pemahamannya dalam mengerjakan test atau latihan setelah menyelesaikan suatu pokok bahasan yang diberikan oleh guru setelah selang waktu tertentu. Pemahaman atas keberhasilan terhadap hasil kerja yang dilakukannya akan memberikan rasa kepuasan tersendiri bagi siswa.

Benne dkk (1975) bahwa dengan pemberian pendekatan keterampilan proses, siswa akan mengetahui kesalahan dan kekurangan, dan mengetahui penilaian atau komentar , yang diberikan oleh guru tentang tampilan siswa dalam mengerjakan test atau latihan. Pendekatan keterampilan proses itu dapat berfungsi sebagai perbaikan atau penguat. Pendekatan keterampilan proses berfungsi sebagai perbaikan atau penguat apabila memberikan informasi kepada penerima pendekatan keterampilan proses tentang bagian – bagian mana dari perbuatan atau tingkah laku penerima pendekatan keterampilan proses kurang atau tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Gagne (1975 : 43) mengemukakan bahwa pendekatan keterampilan proses, merupakan suatu proses penguatan , sedangkan penguatan itu penting sekali bagi siswa, khususnya dalam kaitannya dengan belajar.

Pencapaian tujuan belajar akan menjadi semakin mantap, jika siswa aktif dalam proses belajar, misalnya dalam diskusi tentang hasil belajar yang telah dicapainya. Masilh banyak guru yang kurang memperhatikan pendekatan keterampilan proses hasil belajar dalam mengerjakan soal latihan kepada siswanya, jadi bukan hanya sebatas memberikan skor yang dicapai siswa, tetapi guru juga harus memberikan komentar tentang hasil pekerjaan setiap siswa. Pendekatan keterampilan proses adalah merupakan salah satu teknik untuk membuat siswa termotivasi mempelajari kembali kegagalannya dalam mengerjakan test atau latihan soal.

Cardelle (1985 : 162 – 173) menyatakan bahwa dengan adanya latihan yang diberikan kepada siswa akan mempermudah siswa belajar, apabila guru memberikan pendekatan keterampilan proses dan penjelasan terhadap pekerjaan , dengan pemberian informasi yang jelas tentang kekurangan itu , maka siswa akan melakukan perbaikan tentang kekurangannya.

Read More »»

PENGARUH METODE PEMEBERIAN TUGAS DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL PRESTASI BELAJAR PADA KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING KELAS X SMA ..(PEND-50)

Dalam konteks pembaharuan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu di soroti, yaitu ; Pembaharuan, Peningkatan Kualitas Pembelajaran, dan Efektifitas Metode Pembelajaran. Kurikulum pendidikan harus komprehensif dan responsif terhadap dinamika sosial, relevan dan tidak over loat, serta mampu mengakomodasikan keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi. Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan demi untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Dan secara makro harus ditemukan strategi atau pendekataan pembelajaran yang efektif dikelas, yang lebih memperdayakan potensi siswa.



Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pengajaran. Ada dua buah konsep pendidikan yang berkaitan dengan lainnnya, yaitu belajar (Learning) dan pembelajaran (Intruction) . Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik (siswa) dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik (guru). Kegiatan belajar mengajar melibatkan bebarapa komponen ; yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pendidkan/pembelajaran, isi pelajaran. metode mengajar, media dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan tingkah laku (over behaver) yang dapat diamati melalui alat indra oleh orang lain baik lewat tutur katanya, metorik dan gaya hidupnya. Pendidikan merupakan sustu sistem yang secara garis besar terdapat komponen masukan, proses dan keluaran (Munandir, 1993 ; 23).Pada sisi input, maka kita akan melihat masukan dalam pproses pendidikan tersebut seperti siswa (kemampuan akademis dan kemampuan non akademis), guru (komponen, indeks prestasi, pengalaman) dan lain-lain. Pada sisi proses, maka kita akan melihat jalannya proses pembelajaran, kurikulum, penerapan teknologi dan lain sebagainya. Selanjutnya pada sisi keluaran maka kita akan melihat mutu tamatan yang dihasilkan.

Proses pembelajaran di sekolah tidak akan dapat lepas dari Layanan Bimibingan dan Konseling. Program bimbingan dan konseling di sekolah tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran yang lainnya, dengan kata lain bahwa layanan bimbingan pribadi/sosial akan dapat mengisi kekurangan yang terdapat pada mata pelajaran umum. Layanan bimbingan dan konseling khususmya bimbingan pribadi /sosial membantu siswa dalam pengembangan ranah kognitif serta motorik. Hal ini senada dengan pendapat Bruner (dalam Snelbecker, 1993; 415) yang menyatakan bahwa sekolah mempunyai sebagai tempat menumbuhkan intelektual.

Berdasarkan pengertian di atas bahwa pelaksanaan pembelajaran di sekolah dialaksanakan antara lain sesuai dengan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing pengajar. Dengan demikian, kegitan pembelajaran di sekolah menuntut agar masing-masing tenaga yang ada mempunyai spesialiasasi sendiri-sendiri. Sebagai contoh, guru bidang studi biologi mempunyai spesialisasi dalam mata pelajaran biologi, guru bahasa inggris mempunyai spesialisasi dalam bidang bahasa inggris, dan konselor mempunyai spesialisasi dalam usaha memabantu siswa yang bermasalah. Perbedaan spesialisasi ini tidak berarti bahwa mereka berjalan secara terpisah. Antara guru dan konselor mempunyai kegiatan sendiri-sendiri dan juga mempunyai identitas sendiri-sendiri ( winkel,1991;102-104).
Apabila kita mengacu pada hasil atau mutu pendidikan, maka produk pendidikan kita saat ini diasumsikan masih jauh dari memadai, terlebih jika diakitkan dengan upaya mempersiapkan manusia Indonesia di masa depan (Mustaji, 2000 ;69; Miarso, 1998 ; 1620). Ada banyak faktor yang dapat dijadikan sebagai penentu ketidak berhasilan pendidikan kita antara lain pemahaman terhadap proses pendidikan.

Undang-undang No.2 tahun 1989 tentan Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa " Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan /atau latihan bagi perannya dimasa datang". Upaya pendidikan secara menyeluruh meliputi tiga kawasan kegiatan, yaitu kawasan bimbingan, kawasan pengajaran, dan kawasan latihan. Ketga kawasan itu saling mengait, saling menunjang, bahkan sering kali yang satu tidak dipisahkan dari yang l,ainnya. Suatu upaya pendidikan yang menyeluruh, lengkap, dan mantap harus meliputi secara terpadu ketiga kawasan tersebut. Meskipun kawasan kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan harus dalam keadaan saling terkait dan terpadu, namun ketiganya harus dapat dipilah, dibedakan, bahkan dan di pisahkan. Tujuan pem-bedaan dan pemisahan itu adalah tidak lain untuk dapat dikembang – kannya masing-masing kawasan kegiatan itu.

Menurut Buchori (2001) dalam khabibah (2006 ; 1), bahwa "Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk suatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan kita dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap siswa. Hal ini adalah bahwa masih rendahnya daya serap siswa. Hal ini nampak pada rata-rata hasil belajar siswa yang sentiasa masih sangat memprihatinkan. Prestasi itu tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional yaitu bagaiaman sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar ). Dalam arti yang lebih subtansial, bahwa proses pembelajaran hingga saat ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan aksis bagi siswa untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikinya.

Dipihak lain secara empiris, berdasarkan hasil bahwa rendahnya hasil belajar siswa , disebabkan pada proses pembelajaran yang masih di dominasi oleh pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran ini suasana kelas cenderung teacher – centerd, sehingga siswa menjadi pasif. Meskipun demikian guru lebih suka menerapkan model tersebut, sebab itu tidak menjelaskan konsep-konsep yang ada pada bahan ajar atau referensi lainnya. Dalam hal ini siswa tidak diajarkan berpikir yang dapat memahami bagaimana belajar berpikir dan memotivasi diri sendiri. Apabila kita ingin meningkatkan prestasi, tentunya tidak terlepas dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.Misalnya dengan adanya penataran guru, penyedian buku paket dan alat-alat laboratorium serta penyempurnaan kurikulum. Salah satu perubahan paradigma pembelajaran adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru ( teacher centered) beralih berpusat pada murid (student centered); metodologi yang semula lebih di domonasi ekspositori berganti ke partisipatori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut dimaksud untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan.( Komarudin ( , shn ;2)

Read More »»

PENGARUH PENDEKATAN METODE PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA ..(PEND-49)

PENGARUH PENDEKATAN METODE PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA KELAS XI SMAN 2 .......... DAN SMAK ........... KABUPATEN ..

Dalam interaksi belajar mengajar, metode dipandang sebagai salah satu komponen yang ada di dalamya, dimana komponen yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Tujuan akan mempengaruhi bahan, metode dan juga penilaian. Demikian juga bahan akan mempengaruhi metode dan penilaian, hasil penilaian akan mempengaruhi tujuan. Dalam interaksi tersebut, siswa diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran melalaui bahan pengajaran yang dipelajari oleh guru untuk menggunakan metode dan alat untuk kemudian dinilai ada tidaknya perubahan pada diri siswa setelah ia menyelesaikan proses belajar mengajar.



Metode mengajar adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pengajaran yang ingin dicapai, sehingga semakin baik penggunaan metode mengajar semakin berhasilah pencapaian tujuan. Dalam interaksi tersebut, siswa diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran melalui metode dan alat untuk pengajaran yang dipelajari siswa dengan menggunakan metode dan alat untuk kemudian dinilai ada tidaknya perubahan pada diri siswa setelah ia menyelesaikan proses belajar mengajar.
Metode mengajar adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran untuk mencapai pengajaran yang ingin dicapai, sehingga semakin baik penggunaan metode mengajar semakin berhasillah tujuan. Apabila guru dapat memilih metode yang tepat sesuai dengan bahan pengajaran, situasi, kondisi, media pengajaran, maka semakin berhasilah tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Metode yang tepat untuk salah satu tujuan pengajaran, pembelajar, situasi, kondisi, media pengajaran, maka semakin berhasillah tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Metode yang tepat untuk salah satu tujuan pengajaran atau bahan pengajaran belum tentu tepat untuk pengajaran atau bahan pengajaran yang berbeda. Sehingga pemilihan metode mengajar merupakan hal yang spesifik pada interaksi belajar mengajar tertentu.
Namun ada ketentuan umum dalam masing-masing metode mengajar, khususnya metode mengajar Bahasa Indonasia. Guru dapat memilih metode yang tepat yang akan dilaksanakan berdasarkan kelebihan dan kelemahan metode yang digunakan. Beberapa diantara metode yang dapat dipakai guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, khususnya Bahasa Indonasia, diantaranya adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, demonstrasi dan eksperimen pemecahan masalah.

Dalam mempelajari bahasa Indonasia perlu dilakukan usaha meningkatkan peran dan tugas guru di kelas. Hal ini penting diperhatikan karena efisien dan mutu pendidikan dapat dicapai jika didukung oleh peningkatan kualitas dalam melaksanakan tugas pembelajarannya, sebagaimana diungkapkan oleh Reigeluth (1983), peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan denan memperbaiki kualitas pengajaran.

Kualitas pembelajaran dapat ditempuh dengan meningkatkan pengetahuan guru tentang bagaimana memilih metode pengajaran yang tepat sehingga menjadi efektif, efisien dan menarik. Guru sebagai salah satu komponen kegiatan belajar mengajar, memiliki posisi yang sangat menentukan dalam keberhasilan pembelajaran. Menurut Gagne ( 1992 ), tugas utama guru adalah mengaitkan seperangkat konsep yang telah diorganisasi dengan pengetahuan siswa sehingga informasi baru tersebut menjadi bagian dari sistem pengetahuan siswa. Oleh karena itu pembelajaran yang efektif dan efisien perlu dilakukan oleh guru. Akan tetapi dari praktek di lapangan sehari-hari, dapat kita jumpai kehidupan kelas yang menunjukkan aktifitas belajar mengajar bersifat klasikal, guru cenderung mendominasi kegiatan dalam proses belajar mengajar, hubungan langsung antara guru dan siswa cenderung bertingkahlaku pasif, yakni datang, dengar, baca dan tulis. Siswa hampir tidak pernah terlibat dalam proses pengambilan keputusan pengajaran. Tatap muka siswa dengan siswa hampir tidak pernah dikerjakan dengan berbagai alasan, misalnya seting kelas tidak memungkinkan jumlah siswa terlalu banyak. Agar siswa terlibat aktif dalam proses belajar dan dapat memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka sangatlah diperlukan suatu metode pengajaran yang sesuai.

Agar Bahasa Indonasia yang dipelajari siswa di SMAN 2 Maumere dan SMA Yohanes Paulus II Maumere dapat dipakai siswa sebagai alat komunikasi, alat tukar menukar pengalaman dan pikiran sebagai dasar untuk meningkatkan kemampuan bahasanya secara mandiri, maka menurut peneliti perlu dilakukan penelitian eksperimen dalam penggunaan metode atau pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dalam pembelajaran bahasa Indonasia di SMA Negeri 2 Maumere dan SMA Yohanes II Maumere.

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning ) dapat dijadikan alternaltif strategi belajar yang lebih memperdayakan siswa. Pendekatan CTL ini sangat cocok untuk menyampaikan pelajaran, karena pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran juga berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Jadi dalam hal ini, strategi dan proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Keberhasilan atau kegagalan siswa dalam berprestasi seringkali juga dikaitkan dengan tinggi rendahnya motivasi belajar siswa. Kekhasan (dalam Panjaitan , 1993:14), mengatakan bahwa siswa yang memiliki motivasi tinggi selalu berusaha menyelesaikan tugas dengan baik, membandingkan prestasi diri sendiri dengan prestasi sebelumnya atau prestasi orang lain.

Temuan penelitian sebelumnya, Morgan ( dalam Panjaitan 1993 : 16 ), menunjukkan adanya hasil yang tidak konsisten yaitu disatu pihak menemukan bahwa tinggi rendahnya tingkat motivasi berprestasi tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar siswa, sedangkan dipihak lain menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi, hasil belajarnya lebih baik dibandingkan dengan siswa yang motivasi berprestasinya rendah.

Read More »»

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW DAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN IPS...(PEND-48)

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW DAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PADA SISWA KELAS VI SDK ............ DAN SISWA KELASA VI SD. .............

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 dikatakan bahwa, pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan situasi belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi yang ada pada dirinya untuk memperoleh kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan baik untuk dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara.



Namun demikian, salah satu permasalahan pendidikan yang sampai saat ini masih dihadapi oleh Bangsa Indonesia adalah rendahnya "mutu hasil belajar" pada setiap, jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya melalui pengembangan kurikulum nasional maupun lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, peningkatan kesejahteraan bagi guru, pengadaan buku dan alat-alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana sekolah, namun berbagai indikator tersebut belum mampu meningkatkan mutu hasil pembelajaran yang berarti.
Rendahnya mutu hasil belajar, dari beberapa ahli (Djemari Mardapi 1999: 11) mengatakan bahwa, dalam lima tahun terakhir hasil Ujian Nasional (UN) murni Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) menunjukkan angka naik turun dengan rata-rata Nilai Ujian Nasional (UN) murni bergerak antara 4,00-6,00. Sementara (Achmad Lutfi, 2002: 35) mengatakan, rendahnya mutu hasil belajar disebabkan oleh keuletan siswa pada umumnya rendah. Pada proses pembelajaran, kebanyakan siswa kurang berani mengambil resiko, mereka sering mencontoh pekerjaan teman, kurang berani bertanya kepada guru, kurang berani mengemukakan pendapat dan terlihat cemas".

Belum baiknya kualitas hasil belajar tersebut tampaknya berpengaruh terhadap daya saing kualitas angkatan kerja di tingkat dunia. Menurut (Suyanto, 2001: 55), dilihat dari pendidikannya, angkatan kerja bangsa kita sangat memprihatinkan. Hal tersebut dikarenakan, 53 % -nya tidak berpendidikan, 34 % berpendidikan Sekolah Dasar (SD), 11 % berpendidikan menengah, dan sisanya yaitu 2% yang berpendidikan tinggi." Sedangkan menurut laporan dari human development report 2006, tentang indeks kualitas sumber daya manusia (Human Development Indexs-HDI) dari 174 negara di dunia (Suyanto, 2001: 56) mengatakan, bahwa Indonesia berada pada peringkat ke 102, dan pada tahun 2007 HDI Indonesia berada pada peringkat 109 berada di bawah Negara Vietnam yang berada pada peringkat 108.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, betapa rendahnya kualitas hasil belajar dan kualitas angkatan kerja bangsa kita ini. Kalau sudah demikian siapa sebenarnya yang salah? Kurang berhasilnya di bidang pendidikan, sampai saat ini guru masih menjadi sasaran surnber kegagalan, tetapi manakala keberhasilan tercapai, guru terlupakan sumbangannya sebagai salah satu unsur pendidikan. Diakui memang, faktor guru berada di barisan terdepan. Sebagi pendidik, selain menguasai ilmu yang akan diajarkan, guru dituntut mampu, mengelola program belajar, mampu mengelola manajemen kelas, mampu mengelola manajemen siswa, mampu memilih metode belajar yang sesuai dan berwawasan jauh kedepan demi kualitas hasil belajar siswa.

Terkait dengan masalah mutu, pendekatan dalam pembelajaran mempunyai nilai strategis. Pada pendekatan belajar tradisional misalnya, guru terlalu dominan berperan dalam setiap kegiatan, guru kurang memberdayakan siswa. Akibatnyai siswa cenderung bersifat pasif, dan kegiatannya tidak bervariasi, kerja sama antar teman rendah, tidak beranii bertanya kepada guru, apalagi mengemukakan pendapat dihadapan teman-temannya, padahal setiap siswa memiliki potensi yang selalu dapat dikembangkan. Untuk mengatasi keadaan seperti tersebut di atas, perlu ada upaya perbaikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Di sektor pengelolaan proses belajar mengajar, mungkin paling tepat bila dilakukan perbaikan, karena masalah pengelolaan proses belajar mengajarlah yang sebenarnya sebagi inti persoalan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Pengelolaan dengan berbagai model manajemen pembelajaran, dirasakan sudah merupakan keharusan untuk dilaksanakan. Melalui berbagai model manajemen pembelajaran tersebut, akan membuat proses belajar menjadi bervariasi. Keadaan pembelajaran yang bervariasi akan membuat siswa menjadi tidak mudah jenuh, siswa termotivasi dengan rasa ingin tahu, dan kegiatan belajar akan cenderung aktif.

Kegiatan belajar aktif bukan untuk menciptakan kondisi belajar secara individu, melainkan kondisi belajar secara bersama-sama, atau belajar dengan kelompok. Melalui belajar kelompok diharapkan mampu menumbuhkan rasa kebersamaan, solidaritas, saling membantu dan sebagainya. Dalam keadaan demikian, guru bukan satu-satunya informasi, guru berfungsi sebagai fasilitator, Inovator dan pencegah bila terjadi konflik.
Masalahnya sekarang adalah, proses manajemen pembelajaran di sekolah selama ini belum mampu meningkatkan kualitas hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan, apalagi kalau hasil belajar tersebut dikaitkan dengan masalah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Dari studi awal menunjukan, bahwa pada umumnya siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep akademik, terutama pada mata pelajaran yang bersifat abstrak seperti pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Hal tersebut akan menjadi lebih sulit lagi kalau konsep materinya hanya disajikan melalui cara ceramah. Masalah lainnya adalah bagaimana menemukan cara terbaik untuk mengajarkan berbagai konsep materi ajar kepada siswa, sehingga siswa dapat menggunakan dan mengingat dalam waktu yang lama. Keadaan yang kurang menyenangkan tersebut juga terjadi di Sekolah Dasar (SD) yang menyelenggarakan pembelajaran secara monoton yang mengakibatkan siswa menjadi jenuh, bosan.

Paradigma pendidikan masa depan menurut Zamroni (2001 : 47) guru merupakan kreator proses belajar mengajar. Ia adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekpresikan ide-ide kreativitasnya dalam batas-batas norma yang ditegakkan secara konsisten.

Read More »»

PENGARUH METODE PENDIDIKAN GERAK DAN PENDEKATAN TRADISIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN SISWA KLAS VII SMPN ..(PEND-46)

“pendidikan jasmani di sekolah dasar dan menengah berfungsi untuk (a) merangsang pertumbuhan jasmani dan perkembangan sikap, mental, sosial, dan emosional yang serasi, selaras dan seimbnag, (b) memberikan pemahaman tentang manfaat pendidikan jasmani dan kesehatan serta memenuhi hasrat bergerak, (c) memacu perkembangan dan aktifitas system peredaran darah, pencernaan, pernafasan dan syaraf, (d) memberikan kemampuan untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan.”



Berdasarkan paparan di atas dapat ditegaskan bahwa penguasaan keterampilan motorik dalam konteks domain psikomotorik merupakan tujuan utama, sementara perkembangan sifat-sifat psikologis dalam domain afektif (misalnya, pergaulan sosial, kejujuran mengikuti peraturan) dan perkembangan n dampak pengiring. Dalam proses pendidikan jasmani yang lebih diutamakan adalah pemahaman tentang karakteristik pertumbuhan dan perkembangan proposional dari domain belajar yaitu psikomotor, kognitif, dan afektif. Oleh karena itu program yang memberikanperhatian secara cukup dan seimbang kepada ke tiga domain tersebut. Jika tidak, maka program bersangkutan tidak lagi bisa disebut sebagai pendidikan jasmani.
Penyelenggaraan proses belajar mengajar dalam pendidikan jasmani sedemikian kompleks karena melibatkan sejumlah variable, mulai dari karakteritik socio-anthropologis peserta didik, rumusan tujuan, karakteristik pangalaman belajar sebagai substansi, pemilihan strategi, metode dan teknik, serta evaluasi. Sedangkan guru pendidikan jasmani harus mempunyai inovasi tentang pembelajaran yang efektif dan efisien. Seperti pendapat Rusli Lutan (1988:26) bahwa ada dua kriteria yang dapat dipakai untuk menilai efektivitas dalam mencapai tujuan pengajaran/ latihan, yaitu : (1).kriteria korelatif yakni suatu latihan/pengajaran dikatakan efektif dalam kaitannya dengan tujuan yang diharapkan. Semakin mendekati tujuan yang ingin dicapai, semakin efektif pengajaran/latihan itu. (2) konsepsi normatif yakni suatu pengajaran / latihan dikatakan efektif atau tiadak, dinilai berdasarkan suatu model mengajar/melatih yang baik yang diperoloh dari teori.
Salah satu definisi keberhasilan tujuan pembelajaran, menurut Graham (1992) yang dikutip oleh Adang Suherman (1996;10), yakni :
“Keberhasilan mengajar tidak hanya sekedar memelihara siswa aktif, senang, dan merasa segar kembali pada waktu dan setelah melakukan pendidikan jasmani. Lebih dari itu keberhasilan mengajar mengandung arti siswa belajar dan mengembangkan sikap positif, guru mendapat kepuasan dari mengajarnya, dan program pendidikan jasmani yang sudah diberikan sesuai dengan semua tujuan sekolah.”
Dari definisi itu, terlihat ada tiga karakteristik yang terlibat untuk mencapai pembelajaran yang sukses, mencakup respon emosional (kepuasan) baik dari siswa maupun guru, sementara pembelajaran itu merupakan pencapaian tujuan sekolah.
Sehubungan dengan itu perlu dipersiapkan secara matang semua upaya yang ditujukan untuk mengembangkan kematangan motorik ini, mulai dari persiapannya, pelaksanaannya, dan tindak lanjutnya dengan strategi yang bersinambung meningkat dan tidak terputus, serta dengan penggarapan yang profesional agar tujuan tercapai. Guru-guru yang profesional akan selalu berupaya untuk makin memantapkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman-pengalaman praktis maupun teoritis, serta mengkaji apa-apa yang telah dilaksanakan untuk melihat kelemahan dan keuntungan upaya-upayanya.
Kurikulum pendidikan jasmani pada hakekatnya merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional, seperti tertuang dalam tujuan kurikulum pendidikan jasmani di sekolah menengah pertama tahun 1996 sebagai berikut :
Membantu siswa untukmeningkatkan derajat kesehatan dan kesegaran jasmani melalui pengetahuan, pengembangan sikap positif dan keterampilan gerak dasar serta berbagai aktivitas jasmani agar dapat:
1. Memacu pertumbuhan badan termasuk bertambahnya tinggi dan berat badan.
2. mengembangkan kesehatan dan kesegaran jasmani, keterampilan gerak dan cabang olahraga.
3. mengerti akan pentingnya kesehatan, kesegaran jasmani dan olahraga terhadap perkembangan jasmani dan mental.
4. Mengerti peratuan dan dapat mewasiti pertandingan cabang olahraga.
5. Menumbuhkan sikap positif dan mampu mengisi waktu luang dengan bermain.
6. membiasakan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional maka upaya yang harus dilakukan paling tepat yaitu dari pihak guru untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan pada umumnya dan pendidikan jasmani pada khususnya di sekolah.

Read More »»

PENGARUH PENGGUNAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CTL) DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS X ..(PEND-46)

PENGARUH PENGGUNAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CTL) DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 DAN SMAK ...... TAHUN PEMBELAJARAN 2007/2008

Negara Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam, namun sumber daya alam ini tidak dapat dimanfaatkan dengan maksimal jika tidak dibarengi dengan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dibutuhkan pendidikan. Dimana peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan cerdas, damai, terbuka dan demokratis, oleh sebab itu pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.



Karena kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus adaptif terhadap perubahan zaman.

Memasuki abab ke-21 ini, keadaan S.D.M kita ini sangat tidak kompetitif. Menrut catatan hukum Development Report Tahun 2003 versi UNDP, peringkat HDI (Human Development Indeks) atau kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia berada di urutan 112. Indonesia berada jauh di bawah Filipina (85), Thailand (74), Malaysia (58), Brunei Darussalam (31), Korea Selatan (30), dan Singapura (28). Organisasi Internasioal yang juga menguatkan hal itu International Education Archieviement (IEA) melaporkan bahwa

kemampuan membaca siswa SD Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara yang disurvei, sementara itu Third Matematichs and Sience Study (TiMSS) lembaga yang mengukur hasil pendidikan di dunia, melaporkan bahwa kemampuan siswa SMP kita berada pada urutan 34 dari 38 negara, sedangkan kemampuan IPA berada pada urutan 32 dari 38 negara. Jadi keadaan pendidikan negara kita memang sangat memprihatinkan, sehingga pendidikan harus menjadi kebutuhan utama dan menjadi posisi sentral dalam upaya-upaya menata pembangunan bangsa.

Berbicara tentang mutu pendidikan sebenarnya erat berkaitan dengan bagaimana proses pembelajaran harus diselenggarakan, sengaja disini menggunakan kata pembelajaran bukan dari mengajar. Kata mengajar atau pengajaran lebih cenderung diartikan sebagai kegiatan seorang guru yang sedang menyampaikan pembelajaran atau mengajar sekelompok siswa di kelas atau guru sedang mentransfer pengetahuannya kepada siswa, sehingga peran guru dalam mengajar sebagai satu-satunya sumber belajar dalam kegiatan belajar siswa. Harus diakui bahwa selama dekade ini proses pembelajaran di Indonesia masih didominasi pandangan bahwa pengetahuan adalah seperangkat fakta-fakta yang harus dihafal dan guru sebagai narasumber pembelajaran, metode ceramalah yang menjadi pilihan satu-satunya dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang selama ini mereka terima hanyalah penonjolan hafalan dari sekian rentetan topik atau pokok bahasan tapi tidak pemahaman atau pengertian yang mendalam yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya.

Apabila proses pembelajaran yang telah digambarkan di atas, maka guru akan mengalami kesulitan dan tidak mempunyai waktu untuk melihat faktor-faktor yang menghambat siswa untuk belajar memahami apakah materi yang dibahas sudah diketahui siswa atau belum, guru sibuk dengan dirinya sendiri untuk mentransfer ilmu pengetahuannya kepada siswa; dengan demikian siswa tidak mendapatkan sumber-sumber yang relevan yang dapat memperkaya pemahaman siswa.

Untuk mencegah terjadinya proses pembelajaran yang demikian maka secepat mungkin sejak dini istilah mengajar (teaching) diganti dengan pembelajaran (instruction). Pengertian pembelajaran adalah “upaya untuk membelajarkan siswa“ (Degeng, 1990). Upaya tersebut tidak hanya berupa bagaimana siswa belajar dengan sendiri, melainkan bertujuan dan terkontrol. Lebih lanjut Degeng (1990: 3) mengemukakan bahwa ungkapan pembelajaran memiliki makna yang lebih dalam untuk mengungkapkan hakikat perancangan (desain) upaya pembelajaran.

Belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari dirinya sendiri, guru sekadar pembimbing dan pengarah (John Dewey 1916; Davis 1937; 31) dan pembelajaran sebenarnya adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan kondisi (Gagne, Briggs dan Wagner (1993, hlm 3-11) menyatakan bahwa proses belajar sesorang dapat dipengaruhi oleh faktor interval peserta didik itu sendiri dan faktor eksternal yaitu pengaturan kondisi belajar.

Read More »»

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA KRITIS CERPEN DENGAN STRATEGI SQ4R DAN JIGSAW PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 KANDANGAN DAN SMP N..(PEND-45)

Pembelajaran bahasa mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Kelima aspek tersebut disajikan secara terpadu dalam porsi yang seimbang. Artinya pembelajaran apresiasi sastra tidak diajarkan secara terpisah, tetapi terpadu dengan aspek membaca, menulis, dan menyimak.



Membaca merupakan aktivitas yang tidak bisa lepas dari menyimak, berbicara, dan menulis. Untuk memperoleh pemahaman yang akurat, pembaca menyimak bahan yang dibaca sambil mencatat perolehannya. Setelah itu, pembaca mengkomunikasikan hasil bacaannya secara lisan. Dengan demikian membaca merupakan keterampilan berbahasa yang saling berkaitan.

Selanjutnya Syafii (1993:25) mengatakan bahwa keterampilan membaca tidak hanya dibutuhkan oleh masyarakat akademi saja tetapi juga dibutuhkan oleh siapa saja yang memerlukan informasi dari media cetak. Dengan demikian membaca telah menjadi kebutuhan dan bagian dari gaya hidup bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini didasarkan pada semakin banyaknya orang yang merasakan manfaat dari keterampilan membaca.

Membaca merupakan suatu proses, yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media tulis (Tarigan,2000). Perolehan pesan itu merupakan kegiatan yang menuntut keaktifan pembaca. Di dalam diri pembaca ada aktivitas berpikir. Dalam proses berpikir inilah pembaca memerlukan kemampuan dalam mengelola bahan bacaan secara kritis untuk menentukan keseluruhan makna bahan bacaan, baik makna tersurat maupun makna tersiratnya, melalui tahap mengenal, memahami, menganalisis, mensintesis, dan menilai. Dengan pemahaman ini, siswa diharapkan terampil memprediksi isi teks bacaan dengan melihat judul, menilai kesesuaian judul dengan isi bacaan, menilai keutuhan gagasan, menemukan tujuan pengarang, menyusun ikhtisar, dan membuat simpulan (Nurhadi, 1996).

Sejalan dengan itu, Saksomo Dwi mengatakan bahwa membaca kritis adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dengan tujuan untuk menemukan keseluruhan makna bahan bacaan, baik makna baris-baris bacaan, makna antarbaris, dan makna di balik baris.

Kegiatan membaca kritis yang dapat dilakukan antara lain: menemukan informasi faktual, menemukan unsur urutan, unsur perbandingan, unsur sebab akibat yang tersirat, membuat kesimpulan, menemukan tujuan pengarang, membedakan opini dan fakta, menilai keutuhan antargagasan, menilai keruntutan gagasan, membuat kerangka bahan bacaan, baik makna baris-baris bacaan, makna antarbaris, dan makna di balik baris.

Read More »»

PENGARUH PENGGUNAAN METODE DISKUSI, PEMBERIAN TUGAS DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PENINGKATAN DAYA SERAP SISWA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI .(PEND-44)

PENGARUH PENGGUNAAN METODE DISKUSI, PEMBERIAN TUGAS DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PENINGKATAN DAYA SERAP SISWA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI KELAS X SMA NEGERI 2 DAN SMAK ..


Dalam beberapa tahun terakhir ini minat belajar dan motivasi belajar siswa dirasakan sangat menurun, hal ini dibuktikan dengan nilai UN yang semakin rendah. Disamping itu pula nilai ulangan harian, ulangan blok dan ulangan umum setiap semester selalu tidak mencapai standar ketuntasan belajar minimal, baik yang terjadi pada mata pelajaran lain umumnya maupun mata pelajaran ekonomi khususnya.



Masalah diatas merupakan topik sentral yang dibicarakan dan dipersoalkan masyarakat dalam dunia pendidikan saat ini. Banyak kendala yang menjadi tantangan dan tidak dapat diatasi. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, saya mencoba mengidentifikasi sebab terjadinya masalah tersebut. Setelah merefleksi kegiatan dan tugas saya sebagai guru maka saya dapat menjawab hal itu disebabkan karena pendekatan pembelajaran yang kurang sesuai, metode mengajar yang kurang tepat, teknik penilaian yang kurang sesuai, serta kurangnya sumber dan sarana belajar yang mendukung. Faktor-faktor inilah yang menjadi sebab rendahnya minat belajar, kurangnya aktivitas dalam mengerjakan tugas, kurangnya inisiatif dan berpikir kritis dalam memecahkan masalah dan menemukan jawaban sendiri secara tepat dan benar.



Untuk menjawab sebab terjadinya masalah diatas saya mencoba meneliti cara belajar siswa dan konsep mengajar yang sejalan kira-kira sesuai dengan perkembangan teknologi dan sistem pendidikan dewasa ini. Oleh karena itu metode yang paling tepat dan cara pendekatan lebih kontekstual yaitu diskusi dan pemberian tugas serta pemberian motivasi belajar.

Saya yakin metode tersebut dapat mempengaruhi perubahan tingkah laku siswa dalam belajar dan akan berpengaruh pula pada peningkatan daya serap siswa atau tercapainya standar ketuntasan minimal belajar sesuai dengan ketentuan sekolah dalam mencapai tujuan kurikulum.

Pada metode ini penekanan pembelajarannya lebih difokuskan pada siswa sebagai subjek dalam belajar sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator, motivator, pembimbing dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini berbeda dengan paradigma lama dimana guru sebagai subjek dalam pembelajaran sedang siswa pasif dan mendengar. Strategi metode ini lebih diarahkan pada sistem konstruksivistik yakni memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar mandiri untuk mencapai suatu tujuan.

Read More »»

PENGARUH PENGGUNAAN METODE KONTEKSTUAL (CTL) DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA SISWA SMK NEGERI I ..(PEND-43)

Dalam proses belajar mengajar,keberagaman itu perlu dipahami sebagai suatu realita sekaligus tantangan bagi guru dalam menciptakan suasana belajar yang bermakna dan menyenangkan, karena setiap siswa memiliki potensi pada bidang-bidang tertentu, guru perlu mengembangkan secara optimal dengan membudayakan aktivitas belajar yang meyenangkan dan nyaman bagi siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran.Tujuan pembelajaran hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik di masa yang akan datang.



Menurut Buchori (2001) dalam Khabibah (2006:1), bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk suatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal (Sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik.
Hal ini merupakan rata-rata hasil belajar siswa yang senantiasa masih sangat memprihatinkan.Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ramah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar).
Dalam arti yang lebih substansial,bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih mencirikan dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.
Dipihak lain secara empiris berdasarkan hasil analisis penelitian terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik, hal tersebut disebabkan proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran ini suasana kelas cenderung Teaching Central sehingga siswa menjadi pasif meskipun demikian guru lebih suka menerapkan model tersebut, sebab tidak memerlukan alat dan bahan praktek.Cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku ajar atau referensi lain. Dalam hal ini siswa tidak diajarkan strategi belajar yang dapat memahami bagaimana belajar, berpikir dan memotivasi diri sendiri.Masalah ini banyak dijumpai dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas, oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar yang dapat membantu siswa untuk memahami materi ajar dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.Berlakunya kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi yang telah direvisi melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran, khususnya pada jenis dan jenjang pendidikan formal.

Perubahan tersebut harus pula diikuti oleh guru yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas.
Salah satu perubahan paradigma pembelajaran tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru ( Teacher Centered) beralih berpusat pada murid (Student Centered); metodologi yang semula lebih didominasi Ekspositori berganti ke Partisipatori ; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual.Semua perubahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan.Untuk itu guru harus bijaksana dalam menentukan suatu model metode pembelajaran yang sesuai yang dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapakan.

Berbicara masalah penggunaan metode dan pendekatannya dalam kaitan dengan proses pembelajaran,guru harus tepat dalam memilih dan menentukan metode dan pendekatan yang secara rasional dipandang paling cocok. Mengingat tujuan pembelajaran yang hendak dicapai sangat beragam,maka jenis metode dan pendekatan yang digunakan atau dipilih guru juga harus beragam ( Multi Metode). Sesuai dengan karakteristik tujuan pembelajaran tersebut.

Pendekatan kontekstual ( Contextual Teaching And Learning /CTL ) dengan demikian dapat dijadikan alternatif strategi belajar yang lebih memberdayakan siswa.Pendekatan CTL ini sangat cocok untuk menyampaikan pelajaran, karena pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapanya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan metode dan pendekatan CTL , hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran juga berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja mengalami , bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Jadi dalam hal ini strategi dan proses pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.

Guru juga harus mengupayakan perbaikan-perbaikan kualitas pembelajaran melalui serangkaian usaha yang langsung berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab profesional guru.Salah satu tugas dan tanggung jawab guru adalah memberikan motivasi agar siswa senantiasa rajin belajar adalah bagian tugas guru sebagai motivator.Kadang-kadang rendahnya motivasi belajar siswa disebabkan karena beban belajar siswa yang banyak.Maka tugas guru dalam hal ini adalah senantiasa memberikan dorongan agar siswa tetap mau belajar.

Read More »»

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA INTERAKTIF DAN GAYA BELAJAR TERHADAP PEROLEHAN HASIL BELAJAR KKPI SISWA KELAS XI SMK NEGERI 1 DAN SMK .....(PEND-42)

Pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan saat ini semakin tinggi. Hasil teknologi banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Penemun kertas, mesin cetak, radio film, TV, komputer dan lain-lain segera dimanfaatkan bagi dunia pendidikan. Pada dasarnya alat-alat tersebut ternyata tidak secara khusus dibuat untuk keperluan pendidikan. Akan tetapi alat-alat tersebut ternyata dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan.



Teknologi pendidikan bukan hanya terbatas pada hardware seperti telah diurikan diatas, akan tetapi haruslah mencakup aspek software yaitu mendesain urutan atau langka-langkah belajar berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan metode panyajian yang serasi serta sistem evaluasi pencapaian atau keberhasilan siswa.
Sekolah yang merupakan komponen penting dalam pendidikan, senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa melalui berbagai macam cara. Pengadaan dan pemenuhan sarana dan prasarana serta media pendidikan, peningkatan kualitas guru, dan yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan kualitas proses belajar mengajar itu sendiri. Peningkatan kualitas hasil belajar siswa tentunya dengan pemanfaatan hardaware (media) dan software (metode/langkah kerja) yang sesuai dengan tujuan mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum.

Mata pelajaran KKPI ( ketrampilan komputer dan pengolahan informasi ) merupakan salah satu mata pelajaran kelompok adaptif dalam kurikulum SMK 2004 dan Kurikulum KTSP. Mata pelajaran ini pada kurikulum sebelumya yaitu kurkulum SMK edisi 99 dengan nama komputer. Perubahan nama dari komputer ke KKPI hanyalah untuk lebih menegaskan akan tujuan yang ingin dicapai yaitu siswa diharapkan bukan saja mempunyai ketrampilan dalam mengoperasikan komputer tetapi disisi lain ia juga dituntut untuk menggunakan komputer untuk mengolah data dan menyajikannya menjadi informasi yang berguna untuk peningkatan kompetensinya.

Sejauh pengamatan penulis di SMK Negeri 1 Maumere, hasil belajar KKPI, masih jauh dari harapan. Ada terdapat perbedaan atau defiasi yang besar antar perolehan nilai tertinggi dan terendah. Nilai tertinggi 7,0 dan terendah 2,0. rendahnya prestasi belajar KKPI ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : 1) kualitas guru mencakup latar belakang pendidikan serta pengalaman mengikuti diklat sesuai bidang ajar masih kurang, 2) kurang tersediannya sarana-prasarana, 3) penggunaan metode pengajaran yang kurang sesuai, 4) kurangya motivasi belajar siswa, 5) model pembelajaran yang kurang menarik dan interaktif.

Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru disekolah kebanyakan tidak membangun motivasi dan potensi otak, melainkan menghambat perkembangan potensi otak. Siswa masuk ruang belajar bukan karena tertarik tetapi lebih dikarenakan aturan dan jadwal. Suasana belajar membuat siswa jenuh dan bosan. Peserta didik dipaksa mendengarkan dan menerima semua informasi dari guru dan harus mentaatinya. Tidak ada waktu bagi siswa untuk mengembangkan pola berpikirnya sendiri. Penggunaan metode pembelajaran kurang variasi, karena guru beranggapan bahwa semua siswa adalah sama ( identik ). Padahal sesungguhnya potensi siswa tidaklah sama (seragam) satu dengan yang lainnya. Gaya belajar mereka, kemampuan, bakat, bahkkan psikologi mereka cukup bervariasi.

Read More »»

PENGARUH METODE DISKUSI, PEMBERIAN TUGAS DAN MOTIVASI BELAJAR, DALAM PENCAPAIAN KELULUSAN UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS ..(PEND-41)

PENGARUH METODE DISKUSI, PEMBERIAN TUGAS DAN MOTIVASI BELAJAR, DALAM PENCAPAIAN KELULUSAN UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS TAHUN PELAJARAN 2007 / 2008 DI SMA NEGERI I DAN SMAK ...

Menurunnya minat serta motivasi belajar siswa menyebabkan nilai ulangan harian (formatif), ulangan block maupun ulangan umum semester tidak dapat mencapai standar ketuntasan minimum (SKM) bagi kebanyakan mata pelajaran



Nilai UN yang tidak dapat mencapai nilai minimal dan rata-rata minimal merupakan dampak dari penurunan motivasi dan minat belajar siswa. PERMENDIKNAS TENTANG UN SMP/MTS/SMPLB, SMA/MA/SMALB DAN SMK TAHUN PELAJARAN 2007/2008 DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) dan PROSEDUR OPERASI STANDAR (POS) UJIAN NASIONAL yang diterbitkan BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN 2007 menetapkan bahwa peserta UN 2008 dinyatakan lulus apabila memenuhi standar kelulusan UN sebagai berikut :

1. Memiliki nilai rata-rata minimal 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan tidak ada nilai di bawah 4,25 dan khusus SMK, nilai mata pelajaran kompetensi keahlian kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN.
2. Memiliki nilai minimal 4,00 paa salah satu mata pelajaran dan nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00 dan khusus SMK, nialai mata pelajaran kompetensi keahlian kejuruan minimum 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN.
Bahasa Inggris yang digunakan dalam pergaulan internasional justru kurang menarik minat kebanyakan siswa untuk mempelajarinya. Banyak siswa merasa terbebani untuk belajar bahasa Inggris. Mereka tidak dapat menunjukkan secara optimal peraihan kompetensi bahasa Inggris yakni listening, speaking, reading, writing setelah belajar kurang lebih tiga atau empat tahun di SMP dan di tambah tiga atau empat tahun lagi di SMA.

Strategi pembelajaran yang kurang mengakomodir secara maksimal Praktek Listening Skill, menyulitkan siswa dalam menghadapi ujian nasional, pada halnya listening merupakan kompetensi kebahasaan yang berkaitan sangat erat dengan speaking, reading dan writing.
Para siswa pada umumnya memiliki kompetensi reading yang belum memadai. Mereka tidak dilatih untuk menguasai teknik membaca cepat seperti membaca untuk menemukan informasi tertentu, informasi khusus, pikiran utama dan isi ringkas wacana serta membaca untuk comprehension.

Teks wacana yang ada hanya berupa text book, dan kurang kontekstual. Para siswa mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan reading UN pada tahun pelajaran yang silam, karena pada umumnya teks wacana UN diambil dari authentic reading material yang tidak terdapat dalam buku-buku pelajaran bahasa Inggris.
Minimnya perbendaharaan kosa kata bahasa Inggris (English Vocabularies) dan terbatasnya pengetahuan structure juga menjadi penyebab mengapa peserta UN bahasa Inggris SMA mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan wacana.
Masalah diatas menjadi topik sentral diskusi di sekolah-sekolah saat ini. Kendala-kendala ini menjadi tantangan yang belum teratasi. Terhadap masalah-masalah tersebut diatas, saya mencoba mencari penyebabnya yang antara lain karena pendekatan pembelajaran yang kurang sesuai, strategi pembelajaran yang kurang terarah, metode mengajar yang kurang mendukung strategi pembelajaran, media yang kurang tepat, materi pembelajaran yang kurang bervariasi dan penilaian yang kurang sesuai.
Faktor-faktor penyebab diatas, pada gilirannya menyebabkan rendahnya minat belajar siswa, tidak aktifnya para siswa dalam proses pembelajaran di kelas, berkurangnya inisiatif serta kreatifitas berpikir siswa untuk memecahkan masalah dalam rangka menemukan jawaban yang benar dan tepat.

Untuk mencari jalan keluar dari akar permasalahan ini, saya mencoba meneliti cara belajar siswa dan konsep mengajar yang sesuai dengan perkembangan teknologi pembelajaran dan sistem pendidikan dewasa ini. Hemat saya, metode yang paling tepat adalah Diskusi dan Pemberian Tugas yang bersumber pada pendekatan kontekstual dan motivasi belajar.

Metode diskusi dan pemberian tugas, hemat saya, dapat mempengaruhi tingkah laku siswa dalam belajar yakni siswa belajar bagaimana cara belajar (Bobbi De Porter & Mike Hernacki,1999). Berbekalkan cara belajar ini, daya serap siswa dalam arti pencapaian standar ketuntasan minimum yang ditetapkan sekolah dapat ditingkatkan dalam rangka pencapaian tujuan kurikulum dan diraihnya standar kelulusan UN.
Metode diskusi dan pemberian tugas membuat penekanan pada proses pembelajaran dimana siswa adalah subjek belajar, sedangkan guru berperan sebagai motivator, fasilitator dan supervisor dalam suatu kolaborasi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan kurikulum. Hal ini sungguh berbeda dari paradigma lama dimana guru adalah subjek belajar sedangkan murid adalah objek yang duduk dan mendengarkan informasi tentang ilmu pengetahuan dari guru dengan setia.

Read More »»

HUBUNGAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR DENGAN PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI DALAM KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS VIII PELAJARAN BI..(PEND-40)

HUBUNGAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR DENGAN PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI DALAM KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS VIII MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI ... DAN ... KABUPATEN ....


Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan, karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan, maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika, dan aji mumpung.



Pada masa yang akan datang tantangan bagi penyelenggaraan sistem pendidikan akan semakin sulit. Dimana mereka harus bisa membuat lembaga mereka diminati oleh publik. Dari banyaknya lembaga pendidikan yang ada, mereka pasti memiliki lembaga pendidikan yang kualitasnya baik. Aspek kualitas itu dilihat dari mata kuliah yang dibuat sesuai dengan tuntutan kebutuhan di masyarakat.

Untuk itu para pembaharu pendidikan harus memahami lembaga dan cara mengoperasikannya. Ini tidak dimaksudkan pada orientasi kepemimpinan tapi lebih ditekankan pada pentingnya memahami aspek sejarah, sosiologi dan ekonomi sekolah. Sebagai contoh, dengan membuka wawasan tentang pentingnya organisasi yang informal dan perbedaan antara fungsi nyata dan fungsi yang belum terlihat, sosiologi membuka wawasan yang penting bagi suksesnya perubahan orientasi kepemimpinan.

Di samping itu tim pengajar, kelas yang tidak dikelompokkan, dan program anggaran adalah contoh prosedur yang dikemas untuk implementasi yang mudah. Analisa biaya dan keuntungan dari inovasi ini adalah elemen yang penting dalam kesuksesan.
Tugas utama penyelenggaraan pendidikan adalah menciptakan dan melaksanakan sistem yang produktif. Ini artinya ia harus mengerahkan kekuatannya untuk mencapai tujuan dari sistem sebisa mungkin. Sistem adalah serangkaian kegiatan yang saling berhubungan. Sistem buatan manusia direncanakan untuk mencapai tujuan atau serangkaian tujuan. Sistem pendidikan terdiri dari komponen-komponen yang saling berhubungan yaitu manusia, bangunan, buku-buku dan peralatan dan dikonstruksi untuk memberikan perubahan yang diinginkan pada sikap klien.

Sistem yang paling sering digunakan adalah sistem terbuka. Sistem terbuka mendapat dukungan dari lingkungan dan memberikan hasil yang berguna bagi sekitarnya .
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi semua umat. Pendidikan selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan individu dan masyarakat, sebagai salah satu alat untuk dapat memajukan peradaban, mengembangkan masyarakat dan membuat generasi berbuat banyak untuk kepentingan mereka. Sejarah perkembangan ekonomi di banyak negara industri telah terbukti tesis human investment, pentingnya peran kualitas sumber daya manusia dalam pembangunan .

Pendidikan tertuang dalam Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 dikemukakan bahwa hakikatnya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Pengembangan pendidikan adalah proses sepanjang hayat yang meliputi berbagai bidang kehidupan. Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan lebih ditekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi yang dibutuhkan oleh dunia kerja dalam upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas proses produksi dan mempertahankan keseimbangan ekonomi.

Sehubungan dengan pengembangan pendidikan untuk peningkatan kualitas, adalah proses kontekstual, sehingga kesetaraan pendidikan bukanlah sebatas menyiapkan manusia yang menguasai pengetahuan dan keterampilan yang cocok dengan dunia kerja pada saat ini, melainkan juga manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat
Menurut H.A.R. Tilaar (2002), pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti
perangkat pembawaanya yang baik dengan lengkap. Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesama (subjek) yang masing-masing bernilai setara.

Tidak ada perbedaan hakiki dalam nilai orang perorang karena interaksi antar pribadi (interpersonal) itu merupakan perluasan dari interaksi internal dari seseorang dengan dirinya sebagai orang lain, atau antara saya sebagai orang kesatu (yaitu aku) dan saya sebagai orang kedua atau ketiga (yaitu daku atau -ku; harap bandingkan dengan pandangan orang Inggris antara I dan me).

Pembangunan nasional pada intinya bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu menuju masyarakat adil dan makmur serta sejahtera. Pembangunan Nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk mewujudkan Pembangunan nasional diperlukan manusia-manusia yang terampil, berpengetahuan yang luas, memiliki mental yang tangguh serta mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap tugas-tugasnya.

Oleh karena itu, kualitas manusia Indonesia perlu terus dibina dan ditingkatkan agar dapat menjadi manusia-manusia pembangunan yang berdaya guna dan berhasil guna. Manusia merupakan kekuatan utama pembangunan dan sekaligus tujuan pembangunan, maka perlu ditingkatkan kualitas manusia sebagai sumber daya insani.

Read More »»

STRATEGI PENYAMPAIAN METODE CERAMAH DAN METODE DIALOG PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MENINGKATKAN MORALITAS SISWA ...(PEND-39)

Pendidikan tertuang dalam Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 dikemukakan bahwa hakikatnya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.


Pengembangan pendidikan adalah proses sepanjang hayat yang meliputi berbagai bidang kehidupan. Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan lebih ditekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi yang dibutuhkan oleh dunia kerja dalam upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas proses produksi dan mempertahankan keseimbangan ekonomi. Sehubungan dengan pengembangan pendidikan untuk peningkatan kualitas, adalah proses kontekstual, sehingga kesetaraan pendidikan bukanlah sebatas menyiapkan manusia yang menguasai pengetahuan dan keterampilan yang cocok dengan dunia kerja pada saat ini, melainkan juga manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat (Hasbullah, 1999: 63).
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 3 menyebutkan dengan tegas bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Menurut Mohamad Surya, saat ini pendidikan nasional Indonesia berada dalam situasi kritis. Ada beberapa pihak yang menuding bahwa krisis nasional sekarang ini bersumber dari bidang pendidikan, dan lebih jauh ditudingkan sebagai kesalahan guru. (2005:1). Guru merupakan subjek utama dan pertama dalam proses pendidikan di lapis terdepan. Membenahi pendidikan nasional harus dimulai dari unsur guru. (Moh. Surya, 2005:2).

Guru merupakan komponen pendidikan terpenting, terutama dalam mengatasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan. Dalam kaitan ini, yang dapat memperbaiki situasi pendidikan pada akhirnya berpulang kepada guru yang sehari-hari bekerja di lapangan. (Abuddin, 2001:132).

Dengan demikian, untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia, perlu dikaji eksistensi guru sebagai current issue. Guru merupakan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa). (A. Tafsir, 1992:74-75).

Menurut Balitbang Depdiknas (dalam A. Amiruddin, 2003:50), lebih dari 30 persen guru yang ada sekarang ini sebenarnya tidak layak untuk mengajar. Mungkin menjadi pendidik karena sulit mencari pekerjaan yang lain, atau karena koneksi. Mereka sebenarnya tidak terpanggil untuk menjadi pendidik, namun hanya karena keterpaksaan. (Mukhtar, 2003:85-86). Dengan keadaan demikian, akan melahirkan komitmen yang rendah dari guru terhadap sekolahnya. Dari aspek kualitas, sebagian besar guru-guru dewasa ini masih belum memiliki pendidikan minimal yang dituntut. (M. Surya, 2005:4).
Rata-rata pendidikan mereka berada di bawah standar (under-qualified) dan guru “salah kamar” (mismatch), yaitu bidang studi yang diajarkan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. (Qodri, 2003:60). Sebagian besar guru belum menguasai mata pelajaran yang mestinya menjadi bidang keahliannya, termasuk Pendidikan Agama Islam yang para gurunya masih belum seluruhnya bisa menulis dan membaca al-Quran dengan benar dan baik. (Muhaimin, 2006:79). Sistem pendidikan guru, masih belum memberikan jaminan untuk menghasilkan guru yang bermutu dan berkewenangan, di samping belum terkait dengan sistem lainnya. Pola pendidikan guru hingga saat ini masih terlalu menekankan pada sisi akademik, dan kurangnya keterkaitan dengan tuntutan perkembangan lingkungan (M. Surya, 2005:6).
Lingkungan adalah “the set of forces surrounding an organization that have the potential to affect the way it operates and its access to scarce resources”.(Jones, 2004:60).

Untuk mewujudkan fungsi dan tujuan tersebut, seyogianya sedini mungkin semua potensi yang ada dikembangkan dan difungsikan secara maksimal, diintegrasikan melalui peran guru di sekolah. Salah satu upaya mencapai tujuan pendidikan tersebut dapat ditempuh melalui guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Menurut SISDIKNAS pasal 37 disebutkan bahwa pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib dipelajari oleh siswa mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi (Depdiknas 2003). Dengan adanya kebijakan tersebut, pembelajaran PKn dapat digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia. PKn merupakan pendidikan untuk membentuk karakter para peserta didik sebagai warga negara yang baik dan memiliki komitmen tinggi terhadap negara Kesatuan Republik Indonesia, serta hak dan kewajiban warga negara khususnya hubungan dengan negara dan pendidikan bela negara. Materi pelajaran PKn Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditekankan pada pengamalan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang ditunjang oleh pengetahuan dan pengertian sederhana sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan selanjutnya. Dari sini terlihat bahwa materi dan lingkup PKn di SMP adalah berfungsi sebagai wahana untuk membentuk masyarakat yang cerdas, terampil, berkarakter yang baik, setia terhadap bangsa dan negara Indonesia, yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir serta bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945, kewajiban warga negara untuk kepentingan kehidupan sehari-hari dan sebagai dasar pendidikan di SMP.

Jabaran tujuan pembelajaran PKn di SMP perlu diwujudkan pula sebagai perilaku secara nyata (overt behavior), yang berarti bahwa konsep nilai yang diajarkan tidak boleh berhenti pada pikiran dan perkataan semata, tetapi harus terwujudkan dalam perbuatan nyata. Untuk itu, pembelajaran PKn menuntut terwujudkannya semua dimensi belajar, yakni belajar kognitif, afektif, dan psikomotorik, belajar nilai dan sikap yang tidak dipisah-pisahkan, tetapi melalui proses pendidikan yang terpadu utuh, sehingga diperlukan persiapan guru secara profesional untuk suatu perwujudan bahwa nilai itu bukan hanya dipahami (bersifat kognitif), tetapi dihayati (bersifat afektif), dan dilaksanakan (bersifat psikomotorik/ perilaku).


Read More »»

PENGARUH TIPE POLA ASUH DEMOKRATIS – OTORITER DAN GAYA BELAJAR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR BIDANG STUDI PKN DI KELAS VIII SMPN 1 DAN 2 ....(PEND-37)

Pola mempunyai arti bentuk/model (Kamus Besar Bahasa Indonesia : 403). Asuh adalah bimbingan, membantu, mendidik, mela-tih supaya dapat berdiri sendiri (Kamus Besar Bahasa Indonesia : 54). Konsep pola asuh otoriter menurut Gunarsa (1991:114) adalah merupakan cara didikan orang tua/guru yang dilakukan dengan mem-beri perintah secara paksa, dimana orang tua/guru menentukan aturan-aturan/kepatuhan-kepatuhan yang ada. Orang tua/guru sebagai peme-gang kekuasaan, dan anak tidak diberi kesempatan untuk mengemuka-kan pendapatnya walau akhirnya
orang tua/guru memperbolehkan anak mengemukakan pendapatnya
tetapi pendapat anak itu tidak diikutsertakan, orang tua/guru tetap sebagai pemegang kendali.



Pola asuh orang tua/guru merupakan pola interaksi orang tua/guru dengan anak remajanya yang berkaitan dengan perkembangan pribadi remaja yang meliputi cara pemberian kasih sayang dan pendidikan remaja. Dengan kata lain orang tua/guru merupakan model bagi perilaku remaja. Orang tua/guru dapat membentuk perilaku remaja dengan cara memberi contoh melalui perilakunya, mendorong remaja untuk berbuat sesuatu yang baik, menunjukkan kepada remajanya bagaimana cara bertindak berkenaan dengan pola asuh orang tua/guru yang terjadi dan salah satunya akan terlihat dalam suatu keluarga, ketiga pola asuh yang dimaksud adalah pola asuh otoriter, bebas, demokratis. Penggolongan ini sesuai dengan sifat dan titik berat orang tua /guru dalam berinteraksi dengan anak remajanya.

Selama ini pembelajaran dalam arti luas lebih bersifat konseptual, guru lebih menekankan konsep-konsep tertentu dalam pembelajaran teta-pi mengesampingkan pola asuh yang justru sangat penting bagi anak atau siswa. Sedangkan strategi, metode, dan teknik lebih bersifat operasional (Winataputra, 1994:125). Padahal strategi yang digunakan guru dalam proses pembelajaran di sekolah merupakan salah satu hal yang penting pula di samping pola asuh, karena kemampuan memilih dan mengguna-kan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajarannya dapat mempermudah siswa dalam menerima dan memahami materi yang
diberikan.

Pemilihan metode pola asuh, pemilihan penggunaan media dalam proses pembelajaran sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan riil dari siswa yang diajar. Penggunaan komputer misalnya, harus disesuaikan dengan kemampuan ekonomi siswa apabila sekolah tidak mampu mem-biayainya, mengingat penggunaan media ini memerlukan biaya yang rela-tif lebih mahal apabila dibandingkan dengan media gambar misalnya. Demikian pula sebaliknya belum tentu penggunaan media yang mahal mampu meningkatkan daya serap atau kualitas anak didik. Hal ini sering-kali tidak disadari oleh kaum pendidik atau guru yang terkadang ada kesan memaksakan diri untuk menggunakan media tertentu.

Kenyataan menunjukkan bahwa manusia dalam segala hal selalu berusaha mencari efisiensi-efisiensi kerja dengan jalan memilih dan menggunakan suatu pendekatan yang dianggap terbaik untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Demikian pula halnya dalam bidang pengajaran di sekolah, guru selalu berusaha memilih pendekatan pembelajaran yang setepat-tepatnya, yang dipandang lebih efektif sehingga kecakapan dan pengetahuan dapat dikuasai siswa dengan baik. Sebanyak apapun pendekatan pembelajaran yang akan mungkin digunakan oleh sekolah ha-rus melalui proses pemikiran yang hati-hati dan cermat sehingga efektifitas pengajaran dapat dicapai dengan tetap mempertimbangkan prinsip efisiensi.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa gaya belajar mempengaruhi motivasi belajar siswa. Tentu saja setelah memperhatikan variabel lain yang dimiliki anak didik. Sikap dan perilaku, latar belakang dan sebagainya walaupun hal ini turut mempengaruhi motivasi belajar, namun harus diakui bahwa gaya belajar juga berperan banyak dalam menentukan mo-tivasi belajar anak didik.

Read More »»

PENGARUH SRATEGI PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CTL) DAN KREATIVITAS TERHADAP HASIL BELAJAR KELAS VI PELAJARAN BHS INDONESIA ..(PEND-35)

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Manajemen Sekolah dan Kurikulum yang diikuti oleh perubahan-perubahan teknis, lainnya. Adanya perubahan-perubahan tersebut diharapkan dapat memecahkan berbagai permasalahan pendidikan menuju penyempurnaan kurikulum tentang standar Nasional Pendidikan diantaranya Standart Proses PP. No.19 Tahun 2005, pasal 19 ayat 1 yaitu proses pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan yang diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi, peserta didik untuk dapat berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (Degeng ; 2006)



Efektivitas pendidikan sering kali dilihat pada kualitas hasil belajar para lulusan (Martiniore ; 1993), sedangkan hasil belajar dikatakan efektif bila tujuan pembelajaran dapat dicapai (Degeng dan Miarso ; 2003) Salah satu komponen yang berpengaruh terhadap efektifitas hasil pembelajaran adalah strategi pembelajaran. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa pembelajaran memberikan kontribusi terhadap komponen pembelajaran lainnya termasuk hasil pembelajaran sangat dipengaruhi oleh pengaruh interpertasi antara komponen kondisi pembelajaran, metode pembelajaran dan hasil pembelajaran (Degeng; 1988) Untuk memudahkan mencapai tujuan dalam proses pembelajaran diperlukan kegiatan untuk memilih, menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik pembelajaran dan karaktersitik bidang study (mata pelajaran) baik untuk pelajaran Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), maupun mata pelajaran lainnya.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran para siswa dapat diupayakan dengan meperbaiki kualitas strategi pembelajaran (Reigeluth ; 1983). Dengan demikian untuk mencapai efisiensi dan efektivitas hasil pembelajaran diperlukan adanya pengembangan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pembelajaran. Salah satu komponen penting dari strategi pembelajaran tersebut dalam kaitannya dengan pendekatan konstektual (CTL) sebagai metode yang sangat cocok dalam proses pembelajaran siswa.
Degeng (1997), mengutarakan bahwa strategi pembelajaran diartikan sebagai cara-cara, sehinga terwujud suatu urutan langkah prosedural yang dapat dilakukan untuk mencapai kondisi pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mencapai kondisi pembelajaran dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu strategi pengoperasian pembelajaran, setrategi penyampaian isi pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran.

a. Staregi pengoperasian isi pembelajaran, mengacu pada penataan cara-cara pengurutan isi bidang studi (mata pelajaran) agar terjadi keterkaitan antara topik satu dengan topik yang lain yang terdapat dalam bidang studi tersbut. Keterkaitan antara topik yang satu dengan topik yang lain akan lebih memberikan makna pada siswa.
b. Strategi penyampaian isi pembelajaran, menggacu pada cara-cara untuk menentukan metode pembelajaran sekaligus untuk merespon masukan siswa serta penataan cara-cara menentukan bentuk belajar mengajar
c. Strategi pengelolaan pembelajaran, mengacu pada penataan cara-cara terjadi suatu interaksi antara siswa dengan strategi lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi penjadwalan, pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, pengelolaan motivation, sertta kontrol belajar (Merrill ; 1979, Reigeluth ; 1983, Degeng ; 1989).

Jadi pengembangan strategi pembelajaran merupakan komponen yang perlu dirancang dan dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Gegne : bahwa dalam proses pembelajaran, seorang guru berkewajiban untuk merancang, mengelola dan mengadakan penilaian hasil pembelajaran (Gegne : 1988).

Selain itu guru harus mampu untuk mengkaitkan seperangkat konsep yang terorganisir dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik, sehingga informasi baru tersebut selain memperlambat juga menjadi bagian seluruh ilmu pengetahuan.
Meskipun guru bukan satu-satunya variabel yang menentukan dalam meningkatkan hasil pembelajaran, namun peran guru dalam proses pembelajaran sangat dominan. Oleh sebab itu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sudah selayaknya guru-guru Sekolah Dasar (SD) harus menguasai dan mampu mengembangkan strategi pembelajaran.
Keadaan dilapangan menunjukan masih ada guru Sekolah Dasar (SD) yang belum dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara optimal didalam proses pembelajaran, sehingga kualitas pendidikan masih rendah.

Salah satu tugas guru adalah merancang aktivitas pembelajaran, aktivitas secara garis besar berisi pemikiran tentang strategi pembelajaran sebagai acuan untuk direalisasikan di dapan kelas. Didalam menyusun rancangan aktivitas pembelajaran, selain harus memperhatikan kondisi lingkungan, karakteristik mata pelajaran, serta karakteristik siswa (Gegne ;1988) perlu berpedoman pada dokumen resmi, minimal pada kurikulum, GBPP, dan program pengajaran.

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru-guru merupakan salah satu perwujudan dari rancangan aktivitas pembelajaran yang disusun oleh guru, minimal terdapat bagian-bagian dari komponen tujuan dengan taksonomi perilakunya, kegiatan utama pembelajaran, proses pembelajaran, materi pembelajaran, kegiatan utama pembelajaran, materi pembelajaran, pendekatan, metode, teknik dan alat, evaluasi serta keputusan kapan rancangan tersebut dilaksanakan (Damyati ; 1994). Oleh sebab itu, sudah selayaknya bila didalam membuat RPP dirancang adanya bagian-bagian dari komponen tujuan dengan taksonomi perilakunya, kegiatan utama pembelajaran, proses pembelajaran, pendekatan, metode, teknik dan alat, evaluasi serta keputusan kapan rancangan tersebut dilaksanakan.

Pada kurikulum pendidikan Dasar 1994 terlebih kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pembelajaran mempunyai karaktersitik tersendiri serta tujuan pembelajaran yang berbeda. Dengan demikian pendekatan yang digunakan untuk setiap mata pembelajaran (termasuk IPA dan Bahasa Indonesia) berbeda pula.

Pada penyajian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Bahasa Indonesia terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakan dalam aktivitas pembelajaran, yaitu : pendekatan faktual, pendekatan konseptual serta pendekatan kontekstual (CTL). Pembelajaran IPA dan Bahasa Indonesia dengan pendekatan faktual adalah penyampaian informasi tentang fakta-fakta dari produk penemuan IPA dan Bahasa Indonesi tanpa diketahui bagaimana proses terjadinya produk tersebut. Pembelajaran IPA dan Bahasa Indonesia dengan pendekatan konseptual yaitu pembelajaran dengan kecenderungan memberikan gambaran tentang sifat-sifat IPA dan Bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Bahasa Indonesia, sehingga siswa dapat mengorganisasi tentang sifat-sifat kedua matapelajaran tersebut.

Sedangkan pembelajaran IPA dan Bahasa Indonesia dengan pendekatan CTL yaitu pembelajaran yang didasarkan pada pengamatan terhadap proses bagaimana produk-produk IPA dan Bahasa Indonesia tersebut diperoleh. Dengan digunakannya pendekatan CTL pada pembelajaran IPA dan Bahasa Indonesia dapat melatih siswa dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan pendekatan faktual dan konseptual dalam pembelajaran IPA dan Bahasa Indonesia lebih banyak bersifat informatik, sehingga menimbulkan kesan bahwa pelajaran IPA dan Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang penuh informasi. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Bahasa Indonesia dengan pendekatan faktual maupun dengan menggunakan pendekatan koseptual kurang dapat mengembangkan perbendaharaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang tetap dimiliki siswa (Carn 1985, Funk 1985, Subiyanto 1988).

Namun hasil pengamatan sementara dalam pra penelitian terhadap persipan mengajar yang dibuat oleh sebagian guru di Sekolah Dasar (SD) ternyata terdapat beberapa RPP yang belum sesuai dengan apa yang diprogramkan, seperti alat peraga, alat evaluasi, karakteristik dari tujuan pembelajaran atau inti dari materi. Pelaksanaannya sebagian besar dengan pendekatan faktual dan konseptual, sehingga menimbulkan kesan penuh informasi dan proses belajar mengajar cenderung hanya alih informasi.
Dengan pertimbangan judul yang ditulis ini, dalam kaitannya dengan pernyataan yang disampaikan oleh Degeng (1997) diatas, untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran dengan pendekatan Kontekstual (CTL) yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dan kondisi siswa. Landasan filosofi CTL, adalah kontruktivisme, yaitu belajar bukan hanya sekedar menghapal, namun siswa dituntut untuk menginstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Kontruksivisme berakar pada filsafat pragmatisme dan dikembangkan oleh John Dewey (1916) yaitu filosofi belajar yang menekankan pada engembangan minat dan pengalaman siswa.
Hasil pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa pada penyajian mata pelajara IPA dan Bahasa Indonesia, di Sekolah Dasar guru cenderunf menggunakan pendekatan faktual dan konseptual, dimana metode dan teknik penyajiannya digunakan sebagian besar adalah dengan membaca, menerangkan, resitasi latihan dan ceramah disertai motivasi tinggi, sehingga dapat menarik perhatian siswa, tetapi pembelajaran demikian belum tentu dapat menunjukkan gambaran yang benar tentang sifat-sifat Ilmu Pengetahuan Alam dan Bahasa Indonesia.

Penerapan-penerapan strategi pembelajaran dengan pendekatan CTL pada matapelajaran IPA dan Bahasa Indonesia mempunyai implikasi terhadap penggunaan metode dan penyajian, indikasi kemampuan dan ketrampilan siswa yang perlu dikembangkan dalam penerapan pendekatan CTL antara lain : kemampuan untuk melakukan observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, inferensi, serta ketrampilan-ketrampilan terpadu lainnya.

Keadaan sekolah menunjukkan bahwa sebagian besar guru-guru Sekolah Dasar (SD) belum banyak mengembangkan kemampuan siswa untuk melakukan observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, inferensi serta ketrampilan-ketrampilan proses lainnya. Dengan adanya indikasi tesebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran IPA dan Bahasa Indonesai yang dilakukan oleh guru-guru Sekolah Dasar (SD) masih memerlukan adanya peningkatan dalam penerapan pembelajaran dengan pendekatan CTL.

Read More »»

PENGARUH PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS 8 DI ..SMP.... .(PEND-33)

Peningkatan sumber daya manusia melalui jalur pendidikan khususnya ilmu pengetahuan alam arah perkembangannya, tidak terlepas dari Kurikulum SMP 1994, yang bertujuan meningkatkan keterampilan proses untuk memperoleh konsep-konsep IPA dan menumbuhkan nilai dan sikap ilmiah dan menerapkan konsep dan prinsip IPA untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia.



Pada penyajian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakan dalam aktivitas pembelajaran yaitu: pendekatan faktual, pendekatan konseptual serta pendekatan keterampilan proses (Funk, 1985; Subiyanto, 1988).

Pembelajaran IPA dengan pendekatan faktual adalah penyampaian informasi tentang fakta-fakta dari produk penemuan IPA tanpa diketahui bagaimana proses terjadinya produk IPA tersebut. Pembelajaran IPA dengan pendekatan konseptual yaitu pembelajaran dengan kecenderungan memberikan gambaran tentang sifat-sifat IPA yang dikembangkan oleh Ilmu Pengetahuan Alam, sehingga siswa dapat mengorganisasikan tentang sifat-sifat alam semesta.

Sedangkan pembelajaran keterampilan proses yaitu pembelajaran IPA yang didasarkan atas pengamatan terhadap proses bagaimana produk-produk IPA tersebut diperoleh. Dengan digunakannya pendekatan keterampilan proses pada pembelajaran IPA, dapat melatih siswa untuk mengembangkan pikiran baik secara rasional, logis, realistis dan melatih siswa untuk menyelesaikan masalah (Carin dan Sund, 1985).
Penggunaan pendekatan faktual dan konseptual dalam pembelajaran IPA lebih banyak bersifat informatik, sehingga menimbulkan kesan bahwa mata pelajaran IPA merupakan mata pelajaran penuh informasi. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan pendekatan faktual maupun dengan pendekatan konseptual kurang dapat mengembangkan perbendaharaan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang telah dimiliki siswa. (Carin, 1985; Funk, 1985; Subiyanto, 1988).

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik dan tujuan tersendiri. misalnya IPS tentang refleksi kehidupan masyarakat. Bahasa tentang retensi kata dan keterangan, sedangkan untuk IPA tentang alam dan gejalanya. Salah satu fungsi dan tujuan mata pelajaran IPA adalah mengembangkan keterampilan proses sehingga anak memiliki keterampilan proses (Depdikbud, 1993).

Perkembangan IPA tidak hanya ditunjukkan oleh kumpulan fakta saja (produk ilmiah) tetapi juga oleh timbulnya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Jadi, proses atau keterampilan proses atau metode ilmiah itu merupakan bagian dari IPA. Selama siswa menggunakan sikap ilmiah, maka IPA merupakan pengetahuan yang dinamis tidak statis baik dalam teori maupun dalam praktek. IPA bukan sekedar pengetahuan, tetapi IPA adalah human enterprise yang melibatkan operasi mental, keterampilan, dan strategi, yang dirancang manusia untuk menemukan hakikat jagad raya.

Pendekatan IPA adalah pendekatan keterampilan proses yang menekankan pada keterampilan memperoleh pengetahuan dan meng-komunikasikan hasilnya (Kurikulum SMP 1994). Hal ini berarti bahwa proses belajar mengajar IPA di SMP tidak hanya berlandaskan pada teori pembelajaran perilaku, tetapi lebih menekankan pada prinsip-prinsip belajar dari teori kognitif. Namun kenyataan di lapangan proses belajar mengajar masih didominasi metode konvensional.

Proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses IPA, para guru sebaiknya membuat rencana pembelajaran untuk satu semester. Dalam perencanaan ini ditentukan semua konsep-konsep yang dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses IPA yang akan dikembangkan. Gagne dalam Dahar (1986) menyebutkan bahwa dengan mengembangkan keterampilan IPA anak akan dibuat kreatif, ia akan mampu mempelajari IPA di tingkat yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat.

Proses belajar mengajar di SMP tidak hanya berlandaskan pada teori pembelajaran perilaku, tetapi lebih menekankan pada penerapan prinsip-prinsip belajar dari teori kognitif. Implikasi teori belajar kognitif dalam pengajaran IPA adalah memusatkan kepada berpikir atau proses mental anak, dan tidak sekedar kepada hasilnya.
Agar tujuan pembelajaran mencapai sasaran dengan baik seperti yang tercantum dalam kurikulum, selain digunakan model pembelajaran yang sesuai, perlu adanya perangkat pembelajaran yang sesuai pula. Pendekatan keterampilan proses merupakan salah satu pendekatan dan model pembelajaran yang memperhatikan aspek-aspek keterampilan yang dimiliki oleh siswa. Mengingat pelajaran IPA masih dirasakan sulit oleh siswa, dengan pendekatan keterampilan proses kemampuan khusus siswa akan dieksplorasi dan dioptimalkan sehingga siswa lebih mudah memahami pelajaran IPA.

Read More »»

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN CTL DAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF SERTA GAYA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII ... (PEND-30)

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN CTL DAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF SERTA GAYA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII PADA MATA PELAJARAN FISIKA DI SMP NEGERI 1 ... DAN ... (2008)

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Ada dua buah konsep kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, yaitu belajar (learning) dan pembelajaran (intruction). Konsep belajar berakar pada pihak siswa dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik



Dalam proses belajar mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara siswa dan pendidik. Siswa adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari, penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar mengajar dan seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen, yaitu siswa, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, media dan evaluasi. Sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar (PBM), guru memiliki posisi yang menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran Gagne (1974), dalam Degeng, (1989) mengatakan bahwa guru bertugas mengalihkan seperangkat pengetahuan yang terorganisasikan sehingga pengetahuan itu menjadi bagian dari sistem pengetahuan siswa. Sejalan dengan itu pula, UU guru dan dosen pasal 6 mengamanatkan bahwa kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Menilik dari itu, keberadaan guru sangat menentukan karena gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada siswa.

Guru hanya berpeluang untuk memanipulasi strategi atau metode pembelajaran di bawah kendala karakteristik tujuan pembelajaran dan siswa. Hal ini diakui oleh Reigeluth,(1983) dalam Degeng, (1989) menyatakan bahwa pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang besar untuk dapat dimanipulasi oleh setiap guru dan perancang pembelajaran. Senada dengan itu Suhardjono, (2004) mengatakan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, banyak diantara pengaruh itu diluar kendali guru.

Dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, pada umumnya guru menggunakan metode secara sembarangan. Penggunaan metode secara sembarangan ini tidak berdasarkan pada analisis kesesuaian antara tipe isi pelajaran dengan tipe kinerja (performansi) yang menjadi sasaran belajar. Padahal keefektifan suatu metode pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara tipe isi dengan tipe performansi. Gagne dan Briggs (1979) dalam Dahar, (1988) mengatakan bahwa suatu prestasi belajar memerlukan kondisi belajar internal dan kondisi belajar eksternal yang berbeda. Sejalan dengan ini, Degeng, (1989) menyatakan, suatu metode pembelajaran seringkali hanya cocok untuk belajar tipe isi tertentu di bawah kondisi tertentu. Hal ini berarti bahwa untuk belajar tipe isi yang lain di bawah kondisi yang lain, diperlukan metode pembelajaran yang berbeda.

Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya.
Metode pembelajaran dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh guru, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara atau metode mengajar guru. Yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas Joice (1992) dalam Trianto (2007). Metode pembelajaran banyak ragamnya, salah satu diantaranya adalah metode pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). Metode CTL ialah suatu metode mengajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

Senada dengan hal tersebut diatas (Nurhadi, dkk, 2003), mengatakan CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliknya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri, bukan “mengetahuinya”. Dengan metode CTL diharapkan dapat membuka wawasan berfikir yang beragam dari seluruh siswa, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dengan kehidupan nyata. Metode CTL sebagai pilihan untuk “menghidupkan” kelas, agar siswa belajar dengan sesungguhnya belajar (learning how to learn). Sehingga pada akhirnya diharapkan siswa tidak bosan mengikuti pembelajaran dan terjadi interaksi multi arah.

Melihat karakteristik metode pembelajaran CTL ini, peneliti beranggapan sangat tepat bila metode ini diimplementasikan pada mata pelajaran Fisika. Sudah dikenal umum bahwa Fisika merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan alam yang tergolong “keras”, artinya tidak mudah dipahami. Bahkan telah berkembang dikalangan siswa suatu mitos bahwa Fisika memang sulit dipelajari. Fisika kemudian menjadi momok dan ditakuti banyak siswa. Fisika dianggap sebagai onggokan rumus-rumus, yang menjerumuskan siswa dengan hafalan yang memusingkan kepala, yang pada gilirannya nilai Fisika para siswa termasuk yang terendah di antara seluruh mata pelajaran di sekolah. Hal ini sungguh memprihatinkan, karena Fisika merupakan ilmu dasar yang harus dikuasai terlebih dulu dalam rangka penguasaan teknologi pada jaman modern ini. Fisika mempelajari watak dan perilaku alam, sehingga memungkinkan kita memanfaatkan dan mempekerjakan alam untuk kepentingan hidup manusia. Di negara maju, Fisika selalu bahu membahu dengan ilmu lain di garis depan dalam usaha untuk mengembangkan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Berangkat dari kondisi yang ada diatas, tidak hanya metode pembelajaran CTL saja yang diperlukan untuk mencapai prestasi siswa yang gemilang, tetapi lebih jauh pembelajaran yang berorientasi pada konstrutivistik yang lain juga diperlukan. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan konstruktivitistik adalah pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi alternatif untuk mencapai tujuan yang antara lain berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, berpikir kritis, dan pada saat yang sama meningkatkan prestasi akademiknya. Disamping itu pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit dan pada saat yang bersamaan sangat berguna untuk menumbuhkan kemauan kerja sama dan kemauan membantu teman. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif terhadap siswa yang rendah prestasi belajarnya karena siswa yang rendah prestasi belajarnya dapat meningkatkan motivasi untuk belajar lebih giat lagi dan mendapatkan materi pelajaran dalam waktu yang lebih lama (Lundgren, 1994) dalam (Aisyah, 2000).

Read More »»

ANALISIS KEBUTUHAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KOMPETENSI PADA SISWA SEKOLAH LANJUTAN TIN GKAT PERTAMA (SLTP) DI KOTA MATARAM. (PEND-29)

Konflik etnik tersebut memberi bukti bahwa kekokohan bangunan supra-struktur negara kebangsaan sangat rapuh. Ada dua faktor penyebab kerapuhan fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, doktrin ideologis ‘Bhineka Tunggal Ika’ telah diselewengkan oleh sebuah kekuatan yang berorientasi pada pemerintahan pusat. Akibatnya daerah-daerah kurang diberi kepercayaan untuk mengurus dirinya sendiri (cf.UndangUndang Nomor 22/1999 dan Nomor 25/2000; Asep, 2002; Suparlan, 2002). Kedua, Pembangunan yang dilakukan di atas sebuah komunitas plural lebih memaksakan pola yang berkarakteristik penyeragaman berbagai aspekdikesampingkan (cf.Abdullah, 2001; Baptiste Jr,1986; Suzuki, 1979). Ada tiga hal yang biasa melatar belakangi munculnya disinteraksi antara kelompok mayoritas dan orang-orang yang termasuk dalam kelompok minoritas (Purwasito, 2003: 147), yaitu: (1) prasangka historis, (2) diskriminasi dan (3) perasaan superioritas in-group feeling yang berlebihan dengan menganggap inferior pihak yang lain (out-group).


Terjadinya konflik yang benuansa SARA pada beberapa daerah di Indonesia, dari banyak studi yang dilakukan salah satu penyebabnya adalah, akibat dari lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearipan budaya. Konflik akan muncul apabila tidak ada distribusi nilai yang adil kepada masyarakat. Terdapat perbedaan ras pada masyarakat menjadi penanda awal yang secara budaya sudah dilabelkan hambatanhambatannya, yakni prasangka rasial. Prasangka rasial ini sangat sensitif karena melibatkan sikap seseorang ataupun kelompok ras tertentu terhadap ras lain. Prasangka ini juga bisa muncul oleh situasi sosial, sejarah masa lalu, stereotipe dan etnosentrisme yang menjadi bagian dalam kebudayaan kelompok tertentu. Dengan kata lain dinamika dan perkembangan masyarakat Indonesia kedepan sangat dipengaruhi oleh hubunganhubungan antar etnis.

Konsep kearipan budaya lokal, dalam kontek kehidupan dan relasi sosial ditengah komunitas yang majemuk memiliki kekuatan (power) dalam menciptakan suasana sosial yang kondusif. Maka dengan memahami dan mengangkat kearipan budaya lokal dalam kontek kehidupan ditengah masyarakat yang pluralis, secara sejatinya dapat memberikan peran bagi tertatanya hubungan sosial yang harmoni dengan semangat saling menghargai dan menghormati.

Di masa lalu, sistem pendidikan nasional kita lebih bercirikan ‘keseragaman’ yang berlandaskan pada budaya nasional yang berdiri di atas puncak-puncak kebudayaan daerah. Akibatnya, pendidikan diselenggarakan ‘within the context of majority rule amidst competing minorities’ dan dikelola ‘ as demands for substantial expansion or contraction of the net scope of authoritative allocation’ (cf.Sizemore, 1978; Greenfield, 1982; Crossley, 1985). Pendidikan yang dilaksanakan dengan dua prinsip tadi di sebut pendidikan monokultural. Pendidikan monokultural sangat rentan terhadap konflik SARA (Dove, 1983; Bray, 1986; Lillis, 1986).

Otonomi daerah berjalan seiring dengan proses desentralisasi pendidikan yang dalam melibatkan peran serta masyarakat mengisyaratkan pengakuan terhadap manusia Indonesia dan masyarakat setempat. Iniperspektif filosofis harus beranjak dari suatu paradigma baru pendidikan menuju ada pengakuan terhadap aspirasi masyarakat setempat dan dengan sendirinya pengakuan pada individu. Maka paradigma baru dalam Undangundang Sistem Pendidikan Nasional harus mengacu pada pendidikan multikultural yaitu adanya kebudayaan beragam dalam suatu masyarakat yang tetap merupakan kesatuan. Demikian juga kebutuhan pembelajaran individu berbeda dalam perbedaan realitas sosio-historis, sosio-ekonomis, suku-bangsa, sosio-psokologis. Artinya akan dihadirkan populasi sasaran beragam dalam konteks sistem persekolahan (Semiawan, 2002).

Pada masyarakat multikultural memiliki tipe/pola tingkah-laku yang khas. Sesuatu yang dianggap sangat tidak normal oleh budaya tertentu tetapi dianggap normal atau biasa-biasa saja oleh budaya lain. Perbedaan semacam inilah yang sering menyebabkan kontradiksi atau konflik, ketidak-sepahaman dan disinteraksi dalam masyarakat multikultur. Seperti yang dikatakan O’Sullivan (1994.67), bahwa setiap kebudayaan memiliki bentuk yang khas, tingkah laku yang unik, yang memiliki latar budaya yang berbeda.

Subkultur dan mikrokultur yang beragam di Indonesia mau tidak mau ditentukan sebagai bagian dari suatu entitas sosial dari budayamempunyai keunikan dan kekhasan dengan berbagai kebiasaan, adat istiadat dan pengalaman lokal, nilai-nilai sosial dan harapan-harapan hidup yang selalu tidak sama dengan budaya dominan. Hal ini berarti bahwa fungsi dan tugas lembaga pendidikan harus mengedepankan pola variatif dan mengakui pluralisme sehingga perbedaan tidak menjadi hambatan tetapi menjadi sumber kekuatan untuk hidup berdampingan. Bagaimana suatu lembaga pendidikan mampu mensosialisasikan nilai-nilai multikulturalisme akan lebih terarah bila terintegrasi dalam mata pelajaran atau dengan menjadi salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Penelitian ini merupakan sebuah investigasi terkendali yang dirancang dengan melakukan suatu analisis kebutuhan untuk mengembangkan model pendidikan multikultural (multicultural education) sebagai salah satu alat untuk menekan dan meminimalisir potensi konflik antar etnik. Salah satu batasan tentang pendidikan multikultural adalah apa yang disebutkan oleh Sizemore sebagai berikut:
“Multicultural education, then, is the process of acquiring knowledge and information about the efforts of many different groups against adverse agencies and conditions for control of their destinies through the study of the artifacts and substances which emanated the reform”(1978:2).

Pembatasan konsep pendidikan multikultural seperti di ataskelompok yang terancam ‘punah’. Secara teoritik pendidikan multikultural akan dapat mengembangkan pemahaman dan apresiasi antar etnik yang dimulai dari latar belakang etniknya sendiri dan baru kemudian diperluas kepada etnik lainnya (Suzuki, 1979).

Melalui pendekatan proses diharapkan dapat membuat kelompok etnik yang berbeda latar belakang sosial dan budaya akan berusaha mengembangkan pemahaman dan rasa hormat terhadap keragaman budaya, memperkecil etnosentrisme, memperkecil prasangka buruk kepada etnik lain dan meningkatkan pemahaman terhadap perbedaan sosial, ekonomi, etnik dan psikologi serta memperkecil kemungkinan terjadinya konflik antar etnik (Suzuki, 1979; Sizemore, 1979; Pachero, 1977; Gay, 1977).

Dalam literatur penelitian internasional telah banyak disimpulkan tentang kekuatan pendidikan multikultural dapat menekan konflik etnik pada sebuah masyarakat yang berbudaya plural (cultural pluralism). Hawkins (1972) menunjukkan bahwa pendidikan multikultural sangat efektif untuk meningkatkan kesadaran terhadap persamaan derajat (equality), sikap demokratis, toleransi dan rasionalitas antar budaya. Hawkins (1972) juga menyimpulkan dengan rancangan kurikulum pendidikan multikultural yang baik, maka kekuatan purbasangka dan diskriminasi etnik dapat ditekan secara maksimal.


Read More »»

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN KIT/SEQIP DAN PENGGUNAAN MEDIA LKS TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SDN ... DAN .... (PEND-24)

Belajar akan menghasilkan perubahan perubahan dalam diri seseorang . Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadei , perlu adanya penelian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seseorang belajarnya. Penelaian terhadap hasil belajar seseorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar.


Menurut Goleman ( 2002 : 44 ) kemunculan istilah kecerdasan emosional dalam pendidikan , bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai jawaban atas kejanggalan tersebut. Teori ini sesuai dengan judul penelitian dengan memberikandifinisi baru terhadap kata cerdas. Walaupun EQ merupakan hal yang relative baru dibandingkan IQ , namun beberapa penilaian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak kalah penting IQ . Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi ( to manage life with intelegensi ) menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya ( the appropri ateness o f emotion and its expression ) melalui ketrampilan kecerdasan pengendalian diri , empati dan ketrampilan sosial .
Binet dalam buku Winkel ( 1997 : 529 ) hakekat intelegensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan obyektif.
Kenyataan dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan intelegensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan intelegensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relative rendah, namun ada siswa yang walaupun kemampuan intelegensinyan relative rendah , dapat meraih prestasi belajar yang relative tinggi. Itu sebabnya taraf intelegensi bukan merupakan satu – satunya factor yaqng menentukan keberhasilan seseorang , karena ada factor lain yang mempengaruhi .

Goleman ( 2000 : 44 ) Kecerdasan intelektual ( IQ ) hanya menyumbang 20 % bagi kesusesan, sedangkan 80 % adalah sumbangan factor – factor kekuatan – kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau emotional quenent ( EQ ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri , mengatasi frustasi , mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati ( mood ), berempati, serta kemampuan bekerja sama.
Galeman ( 2002 : 512 ) Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi ( to manage our emotional life with intelligence ); menjaga keselarasan emosi dan mengungkapkannya ( the appropriateness of emotional and ist expression ) melalui ketrampilan kecerdasan diri , pengendalian diri, motivasi diri, empati dcan ketrampilan social.

Khusus pada orang- orang yang murni hanya memiliki kecerdasan akdemis yang tinggi, mereka cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralaasan, terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan dingin dan cenderung sulit mengekpresikan kesalahan dan kemarahannya secara tepat.

Bila didukung dengan rendahnya taraf kecerdasan emosionalnya maka orang – orang seperti ini sering menjadi sumber masalah. Karena sifat – sifatnya di atas, bila seseorang memiliki IQ tinggi namun taraf kecerdasan emosionalnya rendah maka cenderung akan terlihat sebagai orang yang keras kepala, sulit bergaul mudah frustasi, tidak mudah percaya kepada orang lain, tidak peka dengan kodisi lingkungan dan cenderung putus asa bila menmgalami stress. Kondisi sebalinya dialami oleh orang – orang yang memiliki taraf IQ rata – rata namun memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

Pada awal abad ke 21 pemanfaatan ilmu pengetahuan alam dan matematika berkembang sangat pesat. Kemajuan dan perkembangan suatu bangsa dan juga setiap manusia tergantung paqda pendidikanyang berperan sentral dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan alam serta pengembangan selanjutnya.

Reformasi sistem pendidikan yang ada mengakibatkan pendekatan-pendekatan komprehensif yang disesuaikan dengan budaya dan nilai-nilai yang dianut masyarakatnya. Contoh sukses dari sebuah pendekatan menyeluruh dalam hal reformasi pembelajaran IPA dapat dijumpai di Indonesia. Pendekatan ini disebut (Science Education Quality Improvement Project ) SEQIP, yang merupakan kerja sama bilateral antara pemerintah Indonesia dan Jerman.
Pendekatan pembaruan ini mengaplikasikan strategi multilevel dengan sejumlah intervensi yang dilakukan secara simultan di tingkat sekolah dan lingkungan sekolah. Kegiatan-kegiatan utama mencakup pelatihan bagi pihak-pihak terkait pada setiap tingkatan dalam system pendidikan dasar serta penyediaan peralatan eksperimen, buku panduan, dan buku pelajaran. Implementasi proyek ini dilaksanakan dalam skala besar dan melibatkan sekitar 33.000 sekolah di 17 provinsi di Indonesia.
Sistem pengawasan ekstensif dikembangkan untuk mengukur hasil-hasil pelatihan pada tingkatan yang berbeda-beda dengan tujuan untuk menentukan pemanfaatan materi-materi yang tersedia,menelusuri perubahan dalam metodologi pembelajaran dan yang terpenting untuk mengukur pencapaian belajar para siswa. Inovasi yang diperkenalkan dalam proses belajar ditindaklanjuti dalam sebuah sistem evaluasi pencapaian yang lebih menekankan pada pemahaman daripada pengetahuan factual. Skema pengamatan kegiatan belajar-mengajar di kelas diperkenalkan untuk membuktikan besarnya inovasi di kelas.

Implementasi pendekatan pembaruan ini menghasilkan perubahan mendasar dalam pembelajaran IPA,yaitu dari pendekatan tradisional yang berfokus pada guru menjadi pendekatan yang berfokus pada siswa dan berorientasi pada aktifitas. Untuk menjamin kesinambungan perubahan dan peningkatan yang telah dicapai, maka dikembangkan progam pelatihan untuk institusi-institusi pelatihan guru baik pre-service. Selain itu, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan ( Education Management Information System /Emis ) dibentuk pada tingkat kabupaten.

SEQIP merupakan pendekatan yang ditujukan untuk perbaikan pembelajaran IPA di sekolah dasar. Sejumlah komponen dikembangkan dengan berfokus pada penerapan konsep ( learning by doing ) Metode pembelajaran menekankan partisifasi aktif siswa dikelas dari pada pendekatan didaktis dimana para siswa hanya menerima imformasi secara pasif. Dengan cara ini para siswa mempelajari konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan alam secara lebih aktif melalui pengalaman pribadi.

Para siswa akan belajar untuk mempercayai kemampuan mereka sendiri untuk mengenali dan menjelaskan dampak dan penomena alam bila mereka dibimbing untuk memjformulasikan dan menguji hipotesa serta meningkatkan ketrampilan dalam mengemukakan pendapat pribadi.


Read More »»

PENGARUH MEDIA LABORATORIUM DAN MOTIVASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS KELAS XI DI MAN 1 DAN MAN 2 ..(PEND-20)

Dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dilakukan melalui 3 (tiga) jalur pendidikan yang kedudukannya sama diperlukan oleh setiap individu. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Bab VI, Pasal 13, 14, 26, dan pasal 27 (2003 : 16-21), disebutkan bahwa :


Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Pendidikan merupakan suatu proses kegiatan yang diarahkan untuk mengoptimalisasi kemampuan dan potensi yang dimiliki manusia menjadi kekuatan riil dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas kehidupan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Redja Mudyaharjo (1985 : 64), yaitu :
Pada dasarnya proses pendidikan adalah proses transformasi atau perubahan kualitas tingkah laku individu yang menjadi siswa. Perubahan tingkah laku yang diharapkan bukanlah sekedar perubahan dalam penambahan jenis tingkah lakunya, tetapi perubahan struktural yang berkenaan dengan perubahan dalam pola tingkah laku atau pola kepribadian yang makin sempurna. Dengan demikian, pendidikan adalah upaya manusia mentransformasikan atau mengubah kemampuan potensial seseorang menjadi kemampuan nyata yang diperlukan dalam meningkatkan taraf hidup lahir batin.

Pendidikan bagi manusia merupakan proses kegiatan yang sengaja, terencana dan terorganisir dalam mengoptimalkan kemampuan dan potensi yang dimiliki setiap manusia sehingga memperoleh pengetahuan, kemampuan serta ketrampilan tertentu yang dapat mendukung kiprah dan kehidupannya, kini maupun masa depan.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang kian rumit dan beragam, telah menuntut proses pendidikan yang lebih sederhana, sistematik, dan kreatif. Hal ini dilandasi semangat bahwa pengajaran yang baik akan menumbuhkan pemahaman yang maksimal. Sebanyak apapun informasi yang diajarkan akan sia-sia belaka jika pendengarnya tidak memahami makna informasi itu. Tentunya, lebih menyedihkan lagi jika kegagalan itu justru bukan bersumber pada mutu informasi, tetapi karena media pendidikan yang asal-asalan, kaku, dan membosankan. Diperlukan media pendidikan yang mampu memberi kapasitas perubahan dan adaptasi tehadap tuntutan siswa. Media pendidikan yang memberi kreativitas dan keberanian menyatukan alokasi dari semua potensi dan sumber daya intelektual yang ada. Media yang mampu mentranformaskan institusi pendidikan dengan menginventarisasi kembali sumber dayanya untuk menghasilkan pelayanan yang lebih baik terhadap siswanya. Menciptakan budaya pendidikan dengan prioritas kualitas dan inovasi terbaik bagi pembelajaran, riset, dan pelayanan.

Untuk efektivitas pencapaian tujuan pendidikan diperlukan alat, yaitu segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai syarat untuk mencapai suatu tujuan atau maksud. Alat-alat dimaksudkan itu disebut media pendidikan atau yang umum disebut dengan alat bantu pengajaran. Bentuk-bentuk media pendidikan itu berlangsung pada media laboratorium sekolah dalam bentuk media pendidikan interaksi edukatif antara murid dan guru.

Sekurang-kurangnya dibutuhkan tiga unsur untuk mewujudkan media laboratorium, yaitu: sumber (a source), pesan (the message), dan tujuan (the destination). Wilbur Schramm menggunakan empat macam istilah:
1. Message, ialah hal-hal yang merupakan kabar atau berita, penerangan-penerangan, pertanyaan-pertanyaan dan sebagainya.
2. Decoder, ialah orang atau pihak yang menerima message.
3. Interpreteur, ialah decoder yang kemudian mengadakan pertimbangan-pertimbangan atau penafsiran-penafsiran dan sebagainya atas message yang diterimanya.
4. Encoder, ialah decoder yang bertindak menyampaikan hasil dari interpretasinya atau penafsirannya tadi.

Hasil dari interpretasi media laboratorium sebagai message yang selanjutnya message tersebut diteruskan kepada decoder. Decoder kemudian mengadakan interpretasi lagi (interpreter) dan selanjutnya interpreter ini mengcode kembali message tadi (encoder). Demikian seterusnya berlangsung. Peningkatan dan pengembangannya bergantung pada faktor penunjang, yaitu sarana dan prasarana.

Menurut Mohamad Surya, saat ini pendidikan berada dalam situasi kritis. Ada beberapa pihak yang menuding bahwa krisis sekarang ini bersumber dari bidang pendidikan, dan lebih jauh ditudingkan sebagai kesalahan guru. (2005:1). Guru merupakan subjek utama dan pertama dalam proses pendidikan di lapis terdepan. Membenahi pendidikan nasional harus dimulai dari unsur guru. (Moh. Surya, 2005:2).

Guru merupakan komponen pendidikan terpenting, terutama dalam mengatasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan. Dalam kaitan ini, yang dapat memperbaiki situasi pendidikan pada akhirnya berpulang kepada guru yang sehari-hari bekerja di lapangan. (Abuddin, 2001:132).


Read More »»

PENGARUH TINGKAT KEMAMPUAN MENGGUNAKAN STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS I SMP ..(PEND-18

Di dalam berbahasa struktur dan kaidah bahasa diantaranya struktur kalimat perlu mendapat perhatian sehingga bahasa itu baik dan benar. Oleh karena itu struktur kalimat dalam bahasa Indonesia sangat eksplisit sehingga ada bentuk kalimat yang terdiri atas satu kata, seperti lari, ada yang terdiri atas dua kata, seperti jangan bicara, ada yang tediri atas tiga kata, yakni pergilah dari sini, dan seterusnya.



Demikianlah kalimat itu dapat ditentukan oleh intonasi tertentu. Hal ini kalimat adalah merupakan ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan batas keseluruhannya ditentukan oleh aturan dan turun naiknya suara. Sehingga terjadi pengucapan bahasa yang baik.

Melihat segi maknanya (nilai komunikatifnya) kalimat terbagi menjadi kalimat berita (kalimat deklaratif) kalimat perintah (kalimat imperatif), kalimat tanya (kalimat interogatif) dan kalimat seru (kalimat interjektif). Dalam hal ini kalimat tersebut di atas merupakan struktur kalimat yang sering diajarkan di sekolah pada umumnya dan khususnya di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Struktur kalimat ialah susunan bagian-bagian kalimat dalam dimensi linear, sedangkan yang dimaksud bagian-bagian kalimat adalah unsur kalimat yang menduduki salah satu fungsi dalam sebuah kalimat yang terdiri atas subyek (S), predikat (P), obyek (O) dan keterangan (K). Susunan unsur-unsur ini dalam dimensi linear disebut struktur kalimat.

Bahasa Indonesia sebagai pengantar di sekolah-sekolah, perlu disebar luaskan pemakaian dan penggunaannya, utamanya dalam menggunakan struktur kalimat. Mengingat bahwa struktur kalimat dalam bahasa Indonesia sebagian besar dipelajari oleh siswa sebagai bahasa kedua, terutama di desa yang memiliki bahasa daerah sebagai bahasa pengantar. Untuk itu perlu diupayakan pembelajaran bahasa Indonesia yang terencana dan terprogram secara baik agar siswa berbahasa Indonesia dengan menggunakan struktur kalimat yang baik pula.

Begitu pentingnya pengajaran struktur kalimat dalam bahasa Indonesia, karena merupakan pengetahuan dasar yang perlu dikembangkan dalam jalur pendidikan sekolah, utamanya ditingkat Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP). Oleh karena itu bahwa tingkat pengetahuan bahasa yang diartikan sebagai kemampuan membaca, menulis, berkomunikasi, dan mengemukakan ide dengan baik dan benar sehingga struktur kalimat perlu dikembangkan secara optimal.

Dengan demikian, tujuan akhir dari pengajaran bahasa Indonesia di sekolah yaitu kemampuan penguasaan berbahasa Indonesia dengan terampil menggunakan struktur kalimat dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk mencapai tujuan itu, tentu memerlukan usaha dan kerja keras dari guru bahasa Indonesia.

Read More »»

PENGARUH TINGKAT KEMAMPUAN MENGGUNAKAN STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHDP HASIL BELAJAR SISWA KELAS I SMP ..(PEND-18)

Di dalam berbahasa struktur dan kaidah bahasa diantaranya struktur kalimat perlu mendapat perhatian sehingga bahasa itu baik dan benar. Oleh karena itu struktur kalimat dalam bahasa Indonesia sangat eksplisit sehingga ada bentuk kalimat yang terdiri atas satu kata, seperti lari, ada yang terdiri atas dua kata, seperti jangan bicara, ada yang tediri atas tiga kata, yakni pergilah dari sini, dan seterusnya.



Demikianlah kalimat itu dapat ditentukan oleh intonasi tertentu. Hal ini kalimat adalah merupakan ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan batas keseluruhannya ditentukan oleh aturan dan turun naiknya suara. Sehingga terjadi pengucapan bahasa yang baik.

Melihat segi maknanya (nilai komunikatifnya) kalimat terbagi menjadi kalimat berita (kalimat deklaratif) kalimat perintah (kalimat imperatif), kalimat tanya (kalimat interogatif) dan kalimat seru (kalimat interjektif). Dalam hal ini kalimat tersebut di atas merupakan struktur kalimat yang sering diajarkan di sekolah pada umumnya dan khususnya di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Struktur kalimat ialah susunan bagian-bagian kalimat dalam dimensi linear, sedangkan yang dimaksud bagian-bagian kalimat adalah unsur kalimat yang menduduki salah satu fungsi dalam sebuah kalimat yang terdiri atas subyek (S), predikat (P), obyek (O) dan keterangan (K). Susunan unsur-unsur ini dalam dimensi linear disebut struktur kalimat.

Bahasa Indonesia sebagai pengantar di sekolah-sekolah, perlu disebar luaskan pemakaian dan penggunaannya, utamanya dalam menggunakan struktur kalimat. Mengingat bahwa struktur kalimat dalam bahasa Indonesia sebagian besar dipelajari oleh siswa sebagai bahasa kedua, terutama di desa yang memiliki bahasa daerah sebagai bahasa pengantar. Untuk itu perlu diupayakan pembelajaran bahasa Indonesia yang terencana dan terprogram secara baik agar siswa berbahasa Indonesia dengan menggunakan struktur kalimat yang baik pula.

Begitu pentingnya pengajaran struktur kalimat dalam bahasa Indonesia, karena merupakan pengetahuan dasar yang perlu dikembangkan dalam jalur pendidikan sekolah, utamanya ditingkat Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP). Oleh karena itu bahwa tingkat pengetahuan bahasa yang diartikan sebagai kemampuan membaca, menulis, berkomunikasi, dan mengemukakan ide dengan baik dan benar sehingga struktur kalimat perlu dikembangkan secara optimal.

Dengan demikian, tujuan akhir dari pengajaran bahasa Indonesia di sekolah yaitu kemampuan penguasaan berbahasa Indonesia dengan terampil menggunakan struktur kalimat dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk mencapai tujuan itu, tentu memerlukan usaha dan kerja keras dari guru bahasa Indonesia.

Read More »»

HUBUNGAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR DENGAN PENGGUNAAN MEDIA ELEKTRONIKA VCD DALAM PEMBELAJARAN PADA MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL SENI TARI .(PEND-16

Sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek dalam pembangunan, maka manusia Indonesia perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan kemampuannya melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan. Dengan semakin meningkatnya kualitas sumber daya manusia Indonesia, maka dapat menjadi bekal dalam persaingan global dengan bangsa-bangsa yang lain.



Dengan demikian, hanya melalui proses pendidikan yang semakin baik tujuan dari kegiatan pembangunan secara keseluruhan dapat dicapai dengan efektif dan efisien. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Hamidjojo (1982;18) yaitu pendidikan merupakan suatu usaha terarah ke arah dinamisasi dan pencerdasan masyarakat dengan tujuan mempertinggi daya pikir dan daya kerja rakyat melalui bentuk dan prosedur kooperatif yang berswadaya.
Sejalan dengan pemikiran di atas, Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Demikian juga, dengan pendidikan nasional yang tercantum dalam penjelasan Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa:
Pendidikan nasional mempunyai visi sebagai panduan demi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas, sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. (UU 20 / 2003).

Adapun tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU 20/2003). Untuk mencapai tujuan tersebut, bukan merupakan upaya yang sederhana, melainkan suatu kegiatan yang dinamis dan penuh tantangan. Pendidikan akan selalu berubah seiring dengan perubahan jaman. Fattah (2004;1).
Menurut Engkoswara dan Ismuhadjar (2004;15), menata pendidikan secara perspektif terpadu dan profesional mencakup 3 ( tiga) tingkatan, yaitu tingkat makro (nasional, propinsi, kabupaten/ kota, kecamatan bahkan desa), tingkat messo (kelembagaan), maupun pada tingkat mikro (proses pendidikan). Mengingat luasnya cakupan yang terkandung di dalamnya, maka setiap tingkatan tersebut harus didekati secara sistematik.
Schermerhorn (2005;175) menjelaskan tentang pemikiran sistematik sebagai berikut:

In systematic thinking a person approaches problems in a rational, step-by-step, and analytical fashion. This type of thinking involves breaking a complex problem into smaller components and then addressing them in a logical and integrated fashion. Managers who are systematic can be expected to make a plan before taking action and then to search for information to facilitate problem solving in a step-by-step fashion.

Dengan demikian, keunggulan suatu bangsa tidak lagi bertumpu pada kekayaan alam, melainkan pada keunggulan sumber daya manusia, yaitu tenaga terdidik yang mampu menjawab tantangan-tantangan yang sangat cepat. Sejumlah pembicara dalam berbagai seminar, diskusi atau tulisan di media masa mengisyaratkan bahwa, secara keseluruhan, mutu SDM Indonesia saat ini masih ketinggalan dan berada di belakang SDM negara-negara maju dan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand.
Pendidikan sebagai media pembelajaran manusia untuk mengangkat derajatnya (Almujadalah:11) dan mengerjakan sesuatu dengan memiliki ilmunya (Al'Isra':36). Pendidikan seyogianyalah menjadi desain percontohan yang berdaya saing. Di dalam pembelajaran, media merupakan bagian yag sangat penting di dalam pembelajaran khususnya seni tari yang mengunakan media elektronik yaitu vcd, karena dengan menggunakan media proses pembelajaran menjadi efektif dan efesien dan penggunaan media juga menjadi sarana memotivasi siswa untuk belajar lebih baik lagi dengan hasil pembelajaran yang maksimal. Setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik.

Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik.
Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu.
Munandir (2001) menyatakan bahwa belajar sebagai perbuatan yang paling banyak di lakukan orang. Perbuatan ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, seperti belajar di tempat rekreasi, belajar di sekolah, belajar di bermotor (bus, kereta api pesawat udara) dalam perjalanan menuju ke sesuatu tempat tertentu. Singkatnya, aktivitas belajarnya tidak dibatasi oleh tempat danwaktu.

Pada umumnya para ahli psikologi dan pendidikan berpendapat bahwa belajar adalahaktivitas yang mengacu ke terjadinya perubahan dalam diri seseorang, yaitu perubahan tingkah laku melalui pengalaman, dan bukan perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh faktor kematangan,kecelakaan, bencana alam, atau faktor-faktor lain di luar perencanaan manusia.

Read More »»

PENGARUH MEDIA BUKU BACAAN DAN MOTIVASI TERHADAP PRESTASI SISWA KELAS VI PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SDN 1 DAN SDN 2 ... (PEND-12)

Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan seluas-luasnya dengan tidak ada perbedaan, baik itu jenis kelamin, latar belakang sosial ekonomi dan lain sebagainya. Dalam kehidupan masyarakat dewasa ini menginginkan pendidikan untuk kaum remaja agar dilaksanakan seimbang antara pengetahuuan dan pembentukan kepribadian. Maka dari itu pendidikan dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia terutama fkiran, perasaan dan tingkah lakunya.


Sebab hal tersebut juga mengindikasikan suatu keberhasilan program pendidikan dalam suatu bangsa didalam melaksanakan pembangunan di segala bidang akan tergantung pada kemampuan bangsa itu sendiri dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk mewujudkan hal tersebut pendidikan merupakan salah satu bidang yang cukup penting yang harus mampu menanggapi dan mengikuti perubahan yang terjadi dalam usaha pembangunan serta mampu menjawab tuntutan masyarakat. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang mutlak dalam kehidupan bangsa dan negara bahkan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dalam fungsinya untuk meningkatkan mutu kehidupan secara individual dan sebagai kelompok dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui pendidikan, pribadi dan kemampuan seseorang akan berkembang, juga akan menghasilkan manusia yang beradab dan cerdas. Sekolah Dasar sebagai suatu lembaga pendidikan yang memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan dasar. Dengan demikian, tercipta sumber daya manusia yang bermutu dalam hal pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berorientasi pada peningkatan penguasaan iptek, kemampuan profesional, dan produktivitas kerja yang dituntut oleh kebutuhan pembangunan. Dengan karakteristik mutu sumber daya manusia demikian, maka bangsa Indonesia diharapkan mampu bersaing dalam era globalisasi.
Dalam memenuhi tuntutan mutu sumber daya manusia tersebut, maka yang di tempuh oleh pemerintah adalah meningkatkan mutu pendidikan di semua jenis dan jenjang pendidikan. Berbagai upaya telah dilakukan secara maksimal oleh pemerintah seperti pelaksanaan wajib belajar 9 (sembilan) tahun, penyempurnaan kurikulum, menyediakan sarana dan prasarana pendidikan secera lebih memadai, meningkatkan mutu guru dengan berbagai macam penataran dan program penyetaraan guru serta meningkatkan penyediaan dana operasional pendidikan, perwujudan di lapangan sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar siswa.
Prestasi belajar merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor dalam belajar, baik faktor internal maupun eksternal. Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar itu dapat digolongkan menjadi empat, yaitu : (1) bahan atau hal yang harus dipelajari ; (2) faktor lingkungan ; (3) faktor-faktor instrumental ; (4) kondisi individu si pelajar (Depdikbud, 1994 : h.14). Semua faktor tersebut baik secara terpisah maupun bersama-sama memberikan kontribusi tertentu terhadap prestasi belajar yang dicapai.
Faktor internal yang datang dari dalam dari siswa adalah terutama kemampuan yang dimiliki, motivasi belajar, minat belajar, sifat dan kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi siswa, faktor fisik dan psikis siswa. Faktor yang datang dari diri siswa antara lain adalah lingkungan belajar, mutu pengajaran di sekolah dalam pengertian sejauh mana proses belajar mengajar di sekolah itu dapat berlangsung secara efeklif.
Proses membangkitkan minat belajar siswa pada dasarnya adalah membentuk siswa agar dapat melihat bagaimana hubungan antara materi pelajaran yang diharapkan untuk dipelajari dengan dirinya sendiri sebagai individu, sehingga siswa dapat mengerti bagaimana pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dalam proses belajar akan mempengaruhi dirinya (Sugiharti, 1995 : h. 3).
Agar minat siswa dapat dibangkitkan, maka guru harus melakukan usaha-usaha dengan berbagai cara ataupun pendekatan untuk meningkatkan kesenangan atau minat siswa dalam belajar.
Slameto (1988 : h. 183) juga mengungkapkan bahwa:
“minat yang telah ada belum cukup untuk membangkitkan minat belajar siswa, tetapi guru harus membentuk rninat-minat baru pada siswa. Pembentukan minat baru dapat di capai dengan jalan memberikan informasi mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan yang lalu dan mcnguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang”.

Nana Sudjana (1988 : h. 14) menyebutkan pula bahwa :

“guru merupakan ujung tombak pendidikan, sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina dan mengembangkan kemampuan minat siswa, guru dituntut untuk menguasai bahan yang diajarkan dan terampil dalam cara mengajarkannya. Guru dituntut untuk dapat menguasai materi dan terampil dalam cara menyajikan materi tersebut. Ada guru-guru tertentu dalam mengajar hanya berusaha melakukan transfer ilmu saja, tidak ada usaha untuk menarik minat siswa, atau dengan kata lain mengajar hanya semata-mata berorientasi pada hasil (by product), dan tidak berorientasi pada proses (by process) “.

Guru menempati fungsi sentral dan strategis dalam proses pembelajaran karena secara teknis dapat menterjemahkan proses perbaikan dalam sistem pendidikan di dalam satu aktivitas di kelasnya, sebagaimana disebabkan oleh Gaffar yang dikutip oleh Dedi Supriadi (1998 : h. 15) bahwa :



“peran guru sulit digantikan oleh yang lain. Dipandang dari dimensi pembelajaran, peran guru dalam masyarakat Indonesia tetap dominan sekalipun teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran berkembang sangat cepat. Hal ini disebabkan karena ada dimensi-dimensi proses pendidikan, atau lebih khusus proses pembelajaran, yang diperankan oleh guru tidak dapat digantikan oleh teknologi”.


Read More »»

PENGARUH PEMBELAJARAN KLASIKAL DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI HASIL BELAJAR DALAM BIDANG STUDI IPA SISWA KELAS V DAN VI SD....(PEND-10)

Proses pembelajaran dewasa ini, aktivitas yang menonjol terjadi pada siswa, guru lebih cenderung berperan sebagai fasilitator dan motivator, dalam hal ini guru berhadapan dengan benda hidup yang mempunyai karakterisktik yang berbeda, oleh karena itu guru dituntut memiliki kesabaran dan kecintaan dalam memahami dan mengelola proses pembelajaran karena itu hal demikian merupakan kunci keberhasilan seorang guru dalam mengajar.



Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, sudah banyak metode dan model yang diciptakan oleh pada ahli pendidikan dalam melalukan pendekatan agar ketiga ranah yaitu kognotif, afektif, psikomotor dapat tercapai secara utuh dan tidak terpotong – potong karena suatu aktivitas pembelajaran siswa terlibat secara menyeluruh tidak terpisah – pisah, secara byata yang dapat diamati habnya aspek afektif dan spikomotornya saja namun perlu disadari bahwa motor dari kedua aspek itu adalah kognitif.

Pembelajaran bertujuan membuat siswa aktif melakaukan tugas – tugas belajar, siswa bukanlah obyek yang bersifat pasif ketika merespon materi yang disampaikan oleh guru, respon yang diberikan siswa kepada guru merupakan umpan balik bagi guru yang bersangkutan. Dimana perubahan perilaku yang terjadi pada siswa dipengaruhi oleh interaksi guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan siswa oleh karena itu suasana ini harus diciptakan atau dikondisikan karena faktor ini turut memperlancar proses pembelajaran siswa.

Pembelajaran klasikal khususnya masih mengalami permasalahan yang cukup serius baik dalam hasil belajar siswa. Dan beberapa pengamat dan hasil penelitian emperis ditemukan bahwa, pelaksanaan pembelajaran klasikal disekolah – sekolah di Indonesia masih banyak dikalukan, walaupun terdapat perbedaan intensitasnya di masing-masing sekolah.

Dan berdasarkan pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa terdapat banyak siswa yang motivasi belajarnya rendah terhadap mata pelajaran khususnya pada mata pelajaran IPA, ini ditandai dengan sikap pasif para siswa saat mengikuti pelajaran, hal ini jelas akan menghambat perolehan hasil belajar yang maksimal.

Melihat kenyataan tersebut maka peran guru sebagai pendidik perlu mendapatkan perhatian khusus didalam penerapan model pembelajaran yang tepat, karena dengan penerapan model pembelajaran yang taepat akan dapat memacu semangat siswa dalam mengikuti pelajaran dan mendorong siswa membuat relasi antara pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan yang didapatkan dari sekolah sehingga para siswa akan bersikap aktif dalam mengikuti pelajaran.

Berdasarkan uraian diatas penulis memberikan salah satu alternative pemecahan masalahan yaitu dengan menerapkan model pembelajaran klasikal yang bertujuan untk mengajak para siswa leboh berperan aktif dalam proses pembelajaran. Dalam model pembelajaran ini, siswa belajar dalam kelompok – kelompok kecil untuk mempelajari materi dan memecahkan masalah yang diberikan. Setelah siswa dapat menyelesaikan materi dan permasalahan yang diberikan siswa akan diberikan penghargaan secara kelompok dengan demikian siswa akan berusaha untuk dapat menguasai materi dengan sebaik – baiknya.

Read More »»

EFEKTIVITAS METODE CERAMAH DAN METODE DIALOG DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS V PADA MATA PELAJARAN FIQIH DI MI .... (PEND-7)

Paradigma baru pendidikan sebagai out came based mengaharuskan setiap tetesan dana, tenaga, dan waktu yang dikeluarkan harus dipertanggungjawabkan secara terukur (Asher, 1999: 2). Diskursus paradigma pendidikan antara investment based vs out came based membawa implikasi imperatif Terhadap penataan manajemen pendidikan di era otonomi daerah.



Dalam era ini, manajemen perlu ditata secara demokratis, kreatif, dan menguntungkan bersama. Fungsi pendidikan perlu ditata ulang tidak hanya sekedar menjalankan tugas rutin mengajar. Namun lebih dari itu, yakni mewujudkan educated man yang mempunyai life skills berkulitas tinggi (Hopson and Scally, 1980: 19).
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena peradaban bangsa ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakatnya. Sebagai bangsa yang sedang membangun menyadari betul akan peran serta pendidikan terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa. Dalam rangka menyongsong era globalisasi dan persaingan bebas di tahun 2010, serta untuk mengimbangi kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, maka tuntutan peningkatan mutu pendidikan tidak dapat ditawar lagi.

Nasution (1982: 11) mengemukakan bahwa “teknologi pendidikan adalah pemikiran yang sistematis tentang pendidikan, penerapan metode problem solving dalam pendidikan, yang dapat dilakukan dengan alat-alat komunikasi modern, akan tetapi juga tanpa alat-alat itu. Pada hakekatnya teknologi pendidikan merupakan suatu pendekatan yang sistematis dan kritis tentang pendidikan. Teknologi Pendidikan memandang soal mengajar dan belajar sebagai problema yang harus dihadapi secara rasional dan ilmiah”.

Teknologi pendidikan merupakan pengembangan, penerapan, penilaian dari sistem, teknik dan peralatan yang digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Hal ini merupakan aplikasi dari ilmu pengetahuan dan kondisi pembelajaran secara efektif dan efisien. Dalam teknologi pendidikan akan tercakup teknik penampilan, penyusunan kegiatan/program pengorganisasian lingkungan sekolah, juga meliputi apa dan bagaimana sesuatu diajarkan, diantaranya isi dan strategi pembelajaran,besar dan bentuk pengelompokkan siswa, pengorganisasian tenaga kependidikan, suasana lingkungan dan sampai kepada masalah aspek pisik dari dunia pendidikan.
Adanya perubahan dan pembaharuan dalam bidang media pendidikan diharapkan fungsi pendidikan nasional dapat berjalan dengan baik dan sempurna, sebagaimana tercantum dalam UU RI 20/2003. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Fungsi dan tujuan tersebut mengusahakan agar anak didik dapat mengambil bagian dalam segala macam hubungan dengan Tuhan, manusia dan alam sekitarnya. Salah satu aspek yang paling penting dalam hubungan ini adalah mempersiapkan anak didik untuk mencapai manusia pembangunan yang berguna untuk dirinya maupun masyarakat.
Untuk tercapainya hal tersebut, diharapkan guru dapat mengkomunikasikan setiap materi-materi kegiatan pembelajaran di SDN, dapat memiliki kompetensi dasar dalam melaksanakan fungsinya sebagai pelaksana pendidikan di tempatnya bertugas. Hal ini merupakan bekal yang paling pokok bagi keberhasilan suatu proses pendidikan yang sedang dilaksanakan, walaupun masalah keberhasilan sebetulnya tidak hanya ditentukan oleh guru saja, namun ada faktor lain yang berpengaruh dalam mewujudkan proses pembelajaran yang lebih baik.

Read More »»

PENGARUH PENGGUNAAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN ....(PEND-5)

PENGARUH PENGGUNAAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN/PENGETAHUAN SOSIAL (PKPS) PADA SISWA KELAS VI SDN I DAN SDN II …… KECAMATAN ………. KABUPATEN ………. (2008)

Pendidikan dapat dipahami sebagai proses pendewasaan sosial manusia menuju pada tatanan ideal. Makna yang tekandung di dalamnya menyangkut tujuan memelihara dan mengembangkan seutuhnya (insan kamil). Penghargaan terhadap kebebasan untuk berkembang dan bepikir maju tentu saja sangat besar, mengingat manusia merupakan makhluk yang berpikir dan memiliki kesadaran. Praktek-praktek pendidikanpun harus senantiasa mengacu pada eksistensi manusia itu sendiri. Proses pendidikan senantiasa membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi-potensinya untuk tahu lebih banyak dan belajar terus dalam arti seluas mungkin



Kepercayaan terhadap potensi individual memberi tekanan khusus pada pentingnya (pemunculan) kesadaran kritis, sebagai penggerak emansipasi kultural sehingga individu dapat memahami realitas objektifnya secara benar.
Artinya, tidak ada siswa yang sama sekali tanpa daya, karena, kalau demikian akan sudah punah. Upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya. Keluasan lingkup potensi yang bertujuan pada pembentukan-diri ini, memuat dari tiga karakteristik inhern yang ada dalam sifat manusia, antara lain: a) keluasan dan kesadaran manusia. Manusia mampu mengembangkan dan cakupan wawasannya menukik ke inti terdalam dari hakikat alam melalui perangkat pengetahuannya, mereka juga mampu mempelajari hukum-hukum dan aturan-aturan alam, sehingga memungkinkan mereka untuk menempatkan alam semesta dan kehidupan manusia pada suatu masyarakat yang lebih tinggi. b) keluasan wilayah yang dapat dicakup oleh kehendak-kehendak manusia. c) kemampuan inhern untuk membentuk dan memberdayakan diri. Manusia mempunyai potensi kemerdekaan untuk meraih dan melakukan berbagai macam tindakan sesuai dengan pilihannya. Manusia juga mampu melakukan distansiasi dengan lingkungan eksternalnya, serta manusia juga mampu melakukan banyak perubahan sesuai dengan cita-citanya.

Dengan demikian, pendidikan dapat diartikan sebagai proses pembangunan kesadaran kritis (critical consciousness) yang dilakukan secara transformatif, partisipatif, sistematis, dan berkesinambungan (sustainability) melalui pengorganisasian dan peningkatan kemampuan (skill) menangani berbagai persoalan dasar yang mereka hadapi untuk mengarah kepada perubahan kondisi hidup yang semakin baik sesuai dengan tujuan pendidikan. Sehubungan dengan pengembangan pendidikan untuk peningkatan kualitas, kesetaraan pendidikan bukanlah sebatas menyiapkan manusia yang menguasai pengetahuan dan keterampilan yang cocok dengan dunia kerja pada saat ini, melainkan juga manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat Hasbullah (1999; 63).
Menurut. Tilaar (2002), pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti perangkat pembawaanya yang baik dengan lengkap. Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesama (subjek) yang masing-masing bernilai setara. Tidak ada perbedaan hakiki dalam nilai orang perorang karena interaksi antar pribadi (interpersonal) itu merupakan perluasan dari interaksi internal dari seseorang dengan dirinya sebagai orang lain, atau antara saya sebagai orang kesatu (yaitu aku) dan saya sebagai orang kedua atau ketiga (yaitu daku atau-ku; harap bandingkan dengan pandangan orang Inggris antara I dan me).

Pada skala makro, masyarakat melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosial yaitu pelimpahan harta budaya dan pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi muda dalam kehidupan masyarakat. Diharapkan dengan adanya pendidikan dalam arti luas dan skala makro maka perubahan sosial dan kestabilan masyarakat berlangsung dengan baik dan bersama-sama. Pada skala makro ini pendidikan sebagai gejala sosial sering terwujud dalam bentuk komunikasi terutama komunikasi dua arah. Pendidikan adalah pengukuhan manusia sebagai subjek yang merupakan rangkaian tentang kesadaran akan dunia (realitas) yang mendalam (kritis) sebagai man of action Freire ( 2000; 123).

Secara makro pendidikan menurut Mulyasa (2003;21) bertujuan membentuk organisasi pedidikan yang bersifat otonom sehingga mampu melakukan inovasi dalam pendidikan untuk menuju suatu lembaga yang beretika, selalu menggunakan nalar, berkemampuan komunikasi sosial yang positif dan memiliki sumber daya manusia yang sehat dan tangguh.

Belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan. Sehingga derajat kehidupannya meningkat. Pendidikan umumnya secara legal dilaksanakan di sekolah. Sehingga sekolah pada masyarakat modern dipandang sebagai lembaga yang bertugas meneruskan nilai-nilai terpilih dan terakumulasi dalam masyarakat kepada generasi muda. Sekolah mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar siswa dalam rangka meningkatkan ketaqwan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Begitu kompleknya tugas yang diemban oleh sekolah dalam pelaksanaannya. Target yang harus dicapai sangat berat dan sangat bervariasi. Sehingga masalah ini harus dibina dan ditangani dengan benar, oleh pemerintah sebagai penyedia rambu berupa kurikulum maupun kepada penyelenggara. Dalam hal ini sekolah sebagai fasilitator penyedia sarana dan sumber daya pengajar, maupun siswa sebagi peserta didik.

Read More »»

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR DAN PENEMPATAN TEMPAT DUDUK TERHADAP HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM SISWA KELAS V DI SDN..... DAN ...(PEND-3)

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan sesungguhnya banyak usaha yang telah ditempuh pemerintah, antara lain berupa pembaharuan kurikulum dan metode mengajar, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan pengadaan buku pelajaran dan buku bacaan, dan peningkatan kualitas guru Sekolah Dasar.Dari usaha ini banyak hasil yang telah dicapai masih perlu ditingkatkan agar dapat mencapai standar kualitas yang diharapkan.



Peningkatan kualitas Pendidikan Dasar berdasarkan petunjuk dari Depdikbud ( 1996 ), khususnya pada sekolah dasar harus dilaksanakan secara terpadu, sistematis, bertahap dan berkesinambungan. Hal ini dilaksanakan terhadap :
1. Kesiswaan,terutama yang menyangkut aspek terjadinya drop out dan mengulang kelas, pembinaan pertumbuhan fisik siswa dan pembinaan mutu proses dan hasil belajarnya.
2. Ketenagaan, baik guru maupun non guru ;
3. Kurikulum serta sarana dan prasarana ;
4. Penyediaan dana dan pengelolaannya ;
5. Organisasi dan manajemen sekolah ;
6. Proses belajar mengajar
7. Kerjasama sekolah dan masyarakat melalui komite sekolah

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar terdapat banyak faktor penentu keberhasilannya. Akan tetapi yang dipandang sebagai kunci utamanya adalah pengelolaan sekolah, sedangkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan Sekolah Dasar tersebut sangat ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah.

Keberhasilan pengelolaan sekolah ditentukan pula oleh pengelolaan situasi dan kondisi kelas ( pengelolaan kelas ) pengelolaan kelas yang baik merupakan whana bagi terjadinya interaksi belajar mengajar yang baik dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan. Pengelolaan kelas yang efektif dan efesien harus didukung oleh motivasi dan kompetensi serta kreatifitas guru yang bersangkutan.
Bertolak dari uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keberhasilan peningkatankualitas pendidikan di sekolah dasar akan ditentukan oleh keberhasilan guru kelas dalam pengelolaan kelasnya yang lebih efektif.

Pengelolaan kelas yaitu kepemimpinan atau ketatalaksanaan guru kelas dalam menyelenggarakan kelasnya. Hal ini mencakup kegiatan – kegiatan menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif ( Ametembun, 1981 : 3 ). Pengelolaan kelas yang efektif merupakan “ conditiosine quo non “ ( persyaratan mutlak ) bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif.

Dalam peranannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu di organisir lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Pengawasan terhadap lingkungan belajar turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan yang baik ialah lingkungan yang bersifa tmanantang dan merangsang siswa untuk belajar,memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan ( Uzer Usman,1995;10 ).

Sebagai pengelola kelas guru bertanggung jawab memelihara lingkungan kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses-proses intelelktual dan sosial didalam kelasnya. Dengandemikian guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif dikalangan siswa.

Tindakan pengolahan kelas adalah tindakan yang dilakukan guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Tindakan guru tersebut dapat berupa tindakan pencegahan yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosio-emosional sehingga terasa benar peserta didik rasa kenyamanan dan keamanan untuk belajar ( Rohani,1990;120 )
Tindakan lain dapat berupa tindakan korektif terhadap tingkah laku peserta didik yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi proses pembelajaran berlangsung.
Guru sebagai peran utama dalam pengelolaan kelas harus menyadari bahwa suasana atau kondisi kelas yang tertib merupakan suatu persyaratan perting bagai terwujudnya proses pembelajaran yang efektif. Kondisi kelas yang tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan yang telah ada dengan senang hati.( Ametembun,1981;9 )

Sebagai landasan bagi terciptanya kondisi kelas yang efektif maka pembinaan disiplin kelas harus diarahkan kepada pengaturan orang-orang selain fasilitas dalam kelas. Dalam hal ini penulis menaruh perhatian kepada pengaturan posisi tempat duduk sisiwa merupakan strategi guru dalam menanggulangi masalah-masalah yang sedang di hadapi di dalam kelas.

Dalam melaksanakan tugasnya dikelas guru sering berhadapn dengan masalah-masalah yang terkait prilaku peserta didik yang menyimpang dan merusak kondisi bagi terciptanya proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Tugas dan tanggungjawab utama seorang guru adalah mengelola pengajaran serta lebih efektif, dinamis, efisien dan positif yang di tandai dengan adanya kesadaran dan ketrerlibatan aktif diantara dua subyek pengajaran;guru sebagai penginisiatif awal dan pengarah serta pembimbing, sedang peserta didik sebagai yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan diri dalam pengajaran.

Read More »»

KORELASI ANTARA KOMPETENSI GURU DALAM MENYAMPAIKAN PEMBELAJARAN DAN MENGGUNAKAN MEDIA OHP MENURUT PERSEPSI SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR ..(PEND-1)

KORELASI ANTARA KOMPETENSI GURU DALAM MENYAMPAIKAN PEMBELAJARAN DAN MENGGUNAKAN MEDIA OHP MENURUT PERSEPSI SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 DAN 2 ...... KABUPATEN
Kualitas pendidikan di negara kita menjadi sorotan di kalangan masyarakat karena terasa sekali kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang telah menamatkan dari lembaga pendidikan belum memenuhi komptensi lulusan. Ada anggapan bahwa gurunya kurang terampil mengajar atau belum mampu mengelola pembelajaran


Tugas guru pada dasarnya ada dua macam yaitu mendidik dan mengajar. Mendidik dalam arti menanamkan nilai-nilai pada diri anak didik seperti budi pekerti, nilai keimanan, dan ketaqwaan (imtaq) kepada Tuhan Yang Maha Esa, nilai sopan santun, dan sebagainya, yang semua itu ditanamkan oleh guru dengan cara mengintegrasikan materi-materi tersebut melalui mata pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya. Sedangkan dalam tugas mengajar, guru diharapkan mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi penguasaan ilmu pengetahuan oleh anak didik sesuai dengan bidang mata pelajarannya. Keberhasilan tugas guru dalam jangka pendek dapat dilihat pada setiap akhir periode pembelajaran melalui tes formatif, tes sumatif maupun ujian nasional di setiap jenjang pendidikan.(Majlis Diklitbang PP Muh. 2004:14)
Seorang guru, tidak sekedar dituntut kecakapannya menstransfer ilmu pengetahuan dan memperhatikan aspek sosialisasi moral anak didik saja, namun lebih dari itu guru juga dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya agar guru mampu mencerdaskan anak didik dengan informasi terkini dalam memenuhi kebutuhan zaman untuk menghadapi era globalisasi. Harapan guru yang ideal bila dilihat di lapangan sangat sulit ditemukan. Banyak guru yang menemui kendala dalam menyajikan proses pembelajaran, misalnya saja kemampuan mengelola pembelajaran, penguasaan materi pembelajaran, mengembangkan standar isi dan standar kompetensi lulusan ke dalam proses pembelajaran, penerapan pendekatan, penggunaan metode,dan menggunakan media pembelajaran yang berhubungan dengan kompetensi guru. Apalagi jika dikaitkan dengan faktor di luar guru, misalnya input (siswa), sarana dan prasarana sekolah, dan hal lainnya sehingga dapat menimbulkan hasil pembelajaran yang tidak optimal atau tidak mencapai SKL (Standar Kompetensi Lulusan).
Berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Namun apa yang terjadi pada pembelajaran Bahasa Indonesia yang sekarang terus bergulir bagai roda itu masih saja model lama. Keterampilan berbahasa baik lisan maupun tulisan diabaikan saja tanpa dipacu ke arah penggunaan dalam situasi yang sebenarnya. Dalam proses mengajar guru masih saja memulainyai dengan penguasaan kebahasaan.Padahal sudah jelas bahwa pada Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sekarang sedang digulirkan bahwa pembelajaran kebahasaan merupakan pemaknaan dari berkomunikasi. Pembelajarannya dimulai dari berkomunikasi, yaitu kalimat atau wacana. Apabila model pembelajaran kembali kepada kebahasaan yang mengabaikan komunikasi maka yang terjadi siswa tahu akan kaidah bahasa, tetapi belum tentu terampil menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan standar kompetensi. Hal ini pun diungkapkan oleh J.S. Badudu ( 1993:131) bahwa kesalahan pengajaran Bahasa Indonesia yang terjadi yaitu guru terlalu banyak menyiapkan materi, tetapi kurang sekali menyuruh siswa aktif dalam melakukan keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis yang akhirnya pengajaran Bahasa Indonesia kurang berhasil.
Selain itu, guru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kurang bervariasi dalam melakukan interaksi belajar mengajar. Dari hari ke hari begitu saja. Para siswa disuruh membuka buku paket atau LKS kemudian siswa mengerjakan atau mencatat teori-teori kebahasaan atau sastra. Para siswa pun merasa jenuh karena mereka tidak terlibat secara aktif. Guru aktif sendiri, sedangkan siswanya duduk, catat, kerjakan latihan. Bahkan latihan yang dikerjakan siswa tidak dikoreksi. Proses pembelajaran seperti ini tentunya tidak akan meningkatkan prestasi belajar siswa.Apalagi guru tersebut tidak menggunakan media pembelajaran dan tidak adanya interaktif. Suasananya diam, menegangkan, mencekam, tidak menarik, pasti akan cepat membosankan para siswa. Apakah hal seperti ini masih sesuai atau dipertahankan? Sampai kapan?


Read More »»

ANALISA PENGARUH BUDAYA KERJA TERHADAP KOMITMEN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI .......(167)

Harus disadari pula bahwa budaya erat kaitannya dengan manusia. Kuatnya budaya kerja akan terlihat dari bagaimana pegawai memandang budaya kerja sehingga berpengaruh terhadap perilaku yang digambarkan memiliki motivasi, dedikasi, kreativitas, kemampuan dan komitmen yang tinggi. Semakin kuat budaya kerja, semakin tinggi komitmen dan yang dirasakan pegawai.



Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh budaya kerja yang terdiri dari budaya kejujuran, budaya ketekunan, budaya kreativitas, budaya kedisiplinan, budaya iptek berpengaruh terhadap komitmen pegawai negeri sipil di Badan Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur. Metode yang dipakai dalam penelitian ini analisa regresi linear berganda dengan uji validitas dan reliabilitas data serta uji asumsi klasik statistik dan pengujian hipotesis uji F dan uji t dengan membandingkan hasil perhitungan dengan tabel statistik.
Secara simultan budaya kerja yang terdiri dari budaya kejujuran, budaya ketekunan, budaya kreativitas, budaya kedisiplinan, budaya iptek berpengaruh terhadap komitmen pegawai negeri sipil di Badan Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur. Secara partial budaya kerja yang terdiri dari budaya kejujuran, budaya ketekunan, budaya kreativitas, budaya kedisiplinan, budaya iptek berpengaruh terhadap komitmen pegawai negeri sipil di Badan Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur. Budaya yang paling dominan dalam mempengaruhi komitmen Pegawai Negeri Sipil dalam budaya kerja adalah budaya ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena memiliki nilai beta yang paling tinggi yaitu 0,313

Read More »»

PENGARUH PERILAKU PEMIMPIN , MOTIVASI KERJA, ARUS KOMUNIKASI, DAN PRAKTEK PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP KEPUASAN KERJA BAGI PNS...(166)

Di era otonomi dan globalisasi seiring dengan kemajuan teknologi yang berbasis Teknologi Informatika ( TI ) dituntut untuk semakin efektif, efisien dan lebih meningkatkan kinerjanya. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kinerja pada suatu organisasi atau unit kerja pada lembaga instansi pemerintah guna meningkatkan pelayanan prima, maka diperlukan kualitas Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang kompetitif.



Kualitas SDM atau disebut juga Pemberdayaan Sumber Daya Manusia ( Empowerment of Human Resources ) merupakan salah satu alat penting dan strategis untuk memperbaiki, memperbaharui dan meningkatkan kinerja baik organisasi yang bergerak di bidang pendidikan yang menuju kepada layanan publik non profit maupun organisasi swasta / perusahaan yang bergerak dibidang profit, karena didalam layanan tersebut memberikan daya lebih daripada daya sebelumnya. Empowerment dalam SDM dapat juga meliputi kemampuan ( competency ), Penempatan personil sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan organisasi, kewenangan yang jelas, tanggung jawab, kepercayaan, dukungan, kepemimpinan dan motivasi. Didalam kompetensi ada pengetahuan ( knowlegde ), ketrampilan ( skill ) dan sikap atau prilaku (attitude ) yang terdapat dalam diri pribadi manusia. Sehingga SDM ini digunakan untuk menggerakkan dan menjalankan kegiatan organisasi atau perusahaan. Jelas ini akan berdampak terhadap pelayanan publik diharapkan mampu menuju good governance.
Diantara seluruh sumber daya yang dimiliki suatu organisasi, kualitas Sumber Daya Manusia yang paling dominan. Teori Gomes mengatakan “ Unsur manusia didalam organisasi mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena kapabilitas manusialah yang bisa mengetahui input – input apa yang diambil dari lingkungan dan bagaimana caranya untuk mendapatkan serta cara – cara memperoleh input – input tersebut, teknologi yang bagaimana yang cocok dan dianggap tepat untuk mengolah dan mentransformasikan input – input diproses menjadi output yang dapat memenuhi keinginan publik, serta bagaimana outcome ( hasil ) yang bermanfaat. Sehingga Benefit ( azas manfaat ) dari kapabilitas sumber daya manusia yang mengolah input akan memiliki Impact ( Dampak ) terhadap suatu analisis kebutuhan masyarakat khususnya peningkatan dalam memberikan pelayanan publik. Dari hasil mulai input , proses pengolahan data, Output, Outcome, Benefit serta Impact akan tersajikan dengan baik apabila adanya semacam Feedback ( Umpan balik ) individu - individu yang berada di lingkungan Kantor Cabang Dinas P dan K Kecamatan Bakung, khususnya Pegawai Negeri Sipil. Harapan dari kesemua itu dengan sikap dan prilaku Kepemimpinan yang ada mampu untuk memotivasi dan membentuk pola sikap prilaku sehingga akan memberikan layanan ( servis publik ) menjadi optimal dan seefektif mungkin.
Supaya dapat meningkatkan motivasi kinerja serta pembentukan pola prilaku sikap manusia, selain meningkatkan ketrampilan dan pengetahuannya, juga sangat penting sekali seorang pemimpin dalam memimpin, mengarahkan dan mengawasi bawahannya menerapkan Pola Kepemimpinan sesuai dengan situasi dan kondisi yang berada di lingkungan, bisa saja pada saat tertentu seorang pemimpin dibutuhkan menggunakan kepemimpinan otoriter, pada saat kondisi tertentu pula menggunakan gaya kepemimpinan partisipatif. Menurut Drucker dalam Rasimin mengatakan “ Bekerja adalah sesuatu kegiatan yang unik menyangkut faktor psikologis, kekuasaan, kepribadian, masyarakat, dan ekonomi. Kemudian Rasimin mengatakan juga bahwa bekerja adalah kegiatan pokok dari suatu aktifitas yang dapat dibagi menjadi sejumlah dimensi ikatan sosial, ekonomis dan psikologi. Salah satu dimensi kekuasaan tersebut adalah gaya seorang pemimpin dalam memimpin, mengarahkan dan mengawasi bawahannya dalam mencapai suatu tujuan organisasi.
Menurut Ary Ginanjar Agustian ( ESQ ) dalam Adam Ibrahim Indrawijaya dan Wahyu Suprapti mengatakan bahwa keberhasilan seorang pemimpin terletak pada kemampuan Spiritual Quotient ( SQ ) dan Emotional Quotient ( EQ ), dimana kemampuan Inteligence Quotient ( IQ ) hanya 20 % sedangkan 80 % adalah EQ dan SQ. Artinya Kepemimpinan yang berhasil adalah seorang pemimpin yang mampu untuk menciptakan kecerdasan emosi dan spiritual. Dengan berbagai macam pendapat tersebut diatas kesemua itu mengarah kepada Kepemimpinan yang bersifat visioner artinya mampu untuk menjawab tantangan dikehidupan yang akan datang dengan berpegang teguh pada prinsip kebersamaan dan memiliki komitmen tinggi didalam pengembangan organisasi yang maju, dinamis dan akutabilitas sesuai dengan tuntunan zaman.
Dalam kondisi yang demikian bagi suatu perusahaan atau instansi harus memiliki keunggulan yang bersifat kompetitif akan survive, mampu memenangkan persaingan serta meraih peluang untuk berkembang. Menghadapi kenyataan yang demikian semua fihak haruslah sepakat bahwa sumber daya manusia melalui segala bentuk dan aktualisasi potensinya merupakan faktor utama pembentukan keunggulan tersebut dan aktualisasi potensinya merupakan faktor utama pembentukan keunggulan tersebut, dan menjadi kunci kemajuan dimasa – masa yang akan datang. Oleh karenanya, upaya meningkatkan performa kerja para karyawan menjadi program sangat penting di lingkungan perusahaan ataupun instansi pemerintah yang bergerak dibidang apapun juga baik di bidang pendidikan, pemerintahan maupun bidang – bidang lainnya yang tujuannya memberikan service kepada masyarakat.
Sikap organisasi sangat penting bagi manajemen sumber daya manusia, karena sikap ini akan mempengaruhi perilaku –perilaku organisasi. Sikap – sikap yang berkaitan dengan kepuasan kerja dan memfokuskan pada sikap karyawan terhadap keseluruhan ( Luthan , 1985 ).

Read More »»

Pengaruh faktor psikografi terhadap keputusan pembelian konsumen McDonald’s di Bali (165)

Usaha restoran, dewasa ini menunjukkan perkembangan yang relatif pesat, terbukti semakin banyaknya restoran asing yang siap saji merambah Bali. Hal tersebut mengindikasikan bahwa intensitas persaingan dalam bisnis restoran semakin kuat. Jenis restoran seperti ini umumnya berada di lokasi-lokasi yang strategis. Sementara restoran-restoran tradisional atau lokal yang bercirikan lambat dalam pelayanan, relatif kalah bersaing dilokasi dimana terdapat restoran siap saji tersebut. Jenis restoran yang menyajikan makanan dengan sangat cepat atau siap saji dikenal dengan sebutan restoran fast food (Emerson, 1989:4). Tampilan restoran semacam ini, mulai dari lokasi, jenis dan rasa makanan, penataan, sistim pelayanan, dan sebagainya membawa kesan bagi sebagian orang bahwa citra restoran tersebut mewah atau bergengsi. Sehingga bagi konsumen yang datang dan makan di restoran semacam ini, sedikit tidak akan terpengaruh dan tidak jarang datang kembali untuk melakukan pembelian (repeat buying).



Kecenderungan penduduk kota seperti di Denpasar misalnya, bahwa makan di restoran fast food masih dinilai memiliki nilai sosial atau gengsi tersendiri, yang mampu mengangkat kesan akan status dirinya. Kemudian sering pula ditemui bahwa restoran semacam ini tidak hanya dimanfaatkan untuk tempat makan saja, tetapi juga untuk tempat perayaan acara-acara ulang tahun, syukuran, sambil rekreasi dan sebagainya. Peluang semacam ini telah dimanfaatkan oleh restoran untuk menyediakan model pelayanan jasa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat sekitarnya. Di beberapa restoran seperti ini, kadang juga disediakan tempat khusus bagi anak-anak untuk bermain, agar tidak mengganggu orang yang sedang menikmati makanannya. Sehingga sangatlah wajar apabila dikatakan bahwa variasi dan sistem pelayanan restoran fast food pada kenyataannya relatif dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam proses pembeliannya.
Kegiatan pembelian, apabila ditelusuri lebih dalam hanyalah merupakan salah satu tahap dari keseluruhan proses keputusan pembelian konsumen. Menurut Pride dan ferrel (1993:185), proses keputusan pembelian konsumen meliputi tahap : pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian, dan evaluasi proses pembelian. Namun tidak selalu semua tahap tersebut dilalui atau dilaksanakan oleh konsumen. Keseluruhan proses tersebut biasanya dilakukan pada situasi tertentu saja, misalnya pada pembelian pertama dan atau pembelian barang-barang yang harga atau nilainya relatif tinggi.
Pada dasarnya, konsumen akan lebih mudah mengambil keputusan pembelian yang sifatnya pengulangan atau terus menerus terhadap produk yang sama. Apabila faktor-faktor yang mempengaruhinya berubah, maka konsumen akan melakukan pertimbangan kembali dalam keputusan pembeliannya. Keputusan yang menjadi pertimbangan konsumen meliputi keputusan tentang : jenis produk, bentuk produk, merek produk, jumlah produk, waktu pembelian, dan cara pembayaran. Jika dikaitkan dengan fast food, maka dalam proses pengambilan keputusan pembeliannya juga melalui beberapa tahap. Dimana, proses keputusan pembelian tersebut berkaitan dengan beberapa keputusan, terutama keputusan tentang merek produk dan penjualan. Setiap merek atas produk dan penjualan suatu perusahaan, memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, yang dapat membedakannya dengan para pesaing. Pada kondisi demikian, akhirnya akan dapat ditemui adanya konsumen yang berperilaku setia kepada merek atau kepada penjualan tertentu.
Restoran fast food umumnya merupakan restoran asing yang masuk ke Indonesia dalam bentuk kemitraan bisnis dengan pola franchise. Pihak franchisor mempunyai produk atau jasa yang ingin dijual dan atau memilih untuk tidak memperluas usahanya sendiri, tetapi menjual haknya (paten) untuk menggunakan nama produk atau jasanya kepada franchisee yang menjalankan usahanya secara semi independen. Franchisor menyediakan paket yang mencakup pengetahuan dari usahanya, prosedur operasi, penyediaan produk dan cara-cara promosi penjualan. Franchisee membayar sejumlah uang (royalty fee) kepada franchisor, menyediakan restoran (tempat), mengadakan persediaan dan peralatan operasi. Franchisee membayar royalti yang bervariasi sekitar 8%-15%, dihitung berdasarkan omzet (West, 1980:75). Beberapa restoran yang menggunakan pola bisnis franchise, seperti : KFC (Kentucky Fried Chicken), McD (McDonald’s), TFC (Texas Fried Chicken) dan lain–lain.
Restoran fast food di Bali akhir-akhir ini terus berkembang rata-rata 35,01% per tahun, hingga saat ini jumlahnya mencapai 18 buah dan lebih dari 75% berlokasi di Denpasar dan Badung (Dinas Perindag Bali, 2003). Perkembangan tersebut mendorong para pengusaha untuk bersaing dan berlomba-lomba merebut pangsa pasar, sekalipun dalam situasi pariwisata Bali yang krisis seperti saat ini. Segmen pasar dan target pasar sasaran restoran fast food di Bali sebagian besar adalah pasar lokal dari semua golongan dan hanya sedikit tamu asing. Bagi tamu asing, tempat makan seperti ini biasanya merupakan pilihan terakhir di negaranya, karena terkait dengan isu kesehatan. Kondisi persaingan tersebut menuntut kombinasi strategi pemasaran yang tepat, untuk mencapai pasar sasaran. Pasar sasaran fast food meliputi pasar pelanggan sekarang dan pasar pelanggan baru (calon pelangan). Jadi peningkatan pangsa pasar memerlukan peningkatan volume penjualan yang relatif melebihi pesaing dengan jalan mempertahankan pasar pelanggan sekarang dan merebut pasar pelanggan baru. Target pasar sasaran tersebut tidak akan tercapai tanpa disertai dengan penetapan kombinasi strategi bauran pemasaran yang tepat. Bauran pemasaran yang dimaksud yaitu : produk (product), harga (price), saluran distibusi (place), promosi (promotion), karyawan (people), fasilitas fisik (pisycle evidence) dan proses (process) yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar, sehingga restoran mendapat keuntungan melalui kepuasan konsumen yang melebihi harapannya (McCarthy dalam Kotler, 1994:98). Dengan demikian kepuasan konsumen akan terbentuk setelah terjadi transaksi yang saling menguntungkan antara pembeli dan penjualnya.

Read More »»

ANALISIS STRATEGI BAURAN PEMASARAN ECERAN (RETAIL MARKETING MIX) YANG MENENTUKAN TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN PADA SUPER SWALAYAN SEMARANG...(164)

Dewasa ini perhatian terhadap kepuasan pelanggan atau ketidakpuasan pelanggan semakin besar. Persaingan yang semakin ketat khususnya untuk bisnis ritel, dimana banyak produsen yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginaan konsumen, menyebabkan setiap perusahaan ritel harus menempatkan orientasi kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama dan diyakini sebagai kunci utama untuk memenangkan persaingan adalah memberikan nilai dan kepuasan kepada pelanggan melalui penyampaian produk dan jasa dengan harga bersaing.



Perubahan makro seperti krisis ekonomi membuktikan bahwa sektor riil yang meliputi sektor perdagangan dan jasa termasuk didalamnya bisnis ritel. Hal ini mengakibatkan banyak bermunculan bisnis di bidang ritel sehingga persaingan tidak bisa dihindari. Kepuasan pelanggan adalah faktor yang menentukan dalam strategi pemasaran perusahaan yang merupakan pertahanan paling baik untuk menghadapi persaingan yang ketat yang menyebabkan perusahaan harus menempatkan perusahaan pada kepuasaan konsumen sebagai tujuan utama, sehingga kini menjadi salah satu penentu suksesnya pemasaran. Kesetiaan konsumen agar tidak hilang, maka perlu mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam strategi bauran pemasaran eceran sebagai analisis agar dapat berorientasi pada kepuasan konsumen.
Kepuasan menurut Jhon dan Michael (1998, p4.4) pelanggan mengalami salah satu dari tingkat kepuasan yang umum, kalau kinerja di bawah harapan pelanggan akan kecewa, kalau kinerja sesuai dengan harapan pelanggan puas, kalau melebihi harapan pelanggan sangat puas atau gembira.
Kepuasan menurut Kotler (2000:36) kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dia rasakan dengan harapannya. Pada umumnya harapan dari pelanggan merupakan perkiraan/ keyakianan pelanggan tentang apa yang diterimanya bila mereka membeli atau mengkonsumsi suatu produk. Kepuasan ini mendatangkan keuntungan karena biaya mendapatkan pelanggan baru lima kali lebih tinggi daripada mempertahankan yang sudah ada.
Philip Kotler (2005:220-225), mengemukakan bahwa keputusan terpenting pengecer yang berhubungan langsung dengan tingkat kepuasaan konsumen adalah :
1. Keragaman produk (Product assortment)
2. Layanan dan atmosfer toko
3. Keputusan harga,
4. Keputusan Promosi,
5. Keputusan tempat (lokasi)
Semakin meningkatnya kebutuhan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang didapatkan melalui kagiatan berbelanja di toko swalayan memiliki tujuan untuk mendapatkan kepuasan tersendiri atas aktivitas yang dilaksanakan konsumen. Hal-hal yang akan ditawarkan yang notabene bukan hanya dalam bentuk barang harus memiliki kelebihan-kelebihan khusus yang bersifat positif dibandingkan dengan penawaran usaha ritel lainnya, maka pelanggan tetap setia. Dalam mempertahankan pelanggan, perusahaan harus dapat memberikan kepuasan yang maksimal dalam memuaskan pelanggannya. Adapun kepuasan pelanggan dapat terjadi apabila harapan benar-benar terwujud demikian pula sebaliknya, jika pelanggan merasa puas, maka mereka akan kembali membeli produk kita dan membicarakan hal tersebut kapada orang lain secara menguntungkan. Dalam hal tersebut Super Swalayan Semarang yang beralamat di Jl. Kelud Raya No.52 Semarang sebagai salah satu usaha ritel adalah toko swalayan yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan rumah tangga, yang kemunculannya belum ada satu dekade ini mencoba menghadirkan sarana tempat berbelanja keluarga di kota Semarang dengan slogan berbelanja “Selalu murah” ini. Super Swalayan mencoba menghadirkan hal-hal yang menjadi kebutuhan para konsumennya, antara lain menawarkan produk-produk dengan harga murah sesuai slogan yang dimiliki, kenyamanan berbelanja atau hanya sekedar kunjungan dan lain-lain. Ini memungkinkan adanya perjuangan yang keras dalam mempertahankan keberadaannya dari sekian banyak usaha ritel di Indonesia serta di kota Semarang pada khususnya.
Dari hal tersebut di atas penulis hanya mengetahui bahwa pihak Super Swalayan telah melaksanakan strategi bauran pemasaran eceran tanpa mengetahui puas atau tidaknya konsumen terhadap hal-hal yang ditawarkan dan tidak pula mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan konsumen terhadap strategi yang dilaksanakan tersebut. Dalam hal ini kepuasan bukan hanya milik para konsumen saja melainkan perusahaan juga ikut puas terhadap hal-hal yang ditawarkan. Dengan puasnya konsumen terhadap strategi yang ditawarkan, perusahaan bisa terus menjaga prestasi tersebut atau bahkan terus mengembangkan strategi bauran pemasaran eceran dengan inovasi-inovasi yang berdasarkan dari masukan-masukan para konsumen. Masalah penelitian yang menjadi fokus peneliti adalah untuk mengetahui sejauh mana faktor keragaman produk (product assortment),layanan, atmosfer toko, harga, promosi, tempat (lokasi) menentukan tingkat kepuasan konsumen Super Swalayan Semarang, sehingga dapat memberikan nilai tambah dan dapat memberikan kebutuhan informasi yang mencerminkan kesinambungan produk dan dapat memenuhi kebutuhan perusahaan dalam meningkatkan kualitas segala hal yang ditawarkan perusahaan, jumlah pelanggan dan jumlah pelanggan yang sudah ada.
Hal yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah sejauh mana faktor-faktor strategi bauran pemasaran eceran yakni keragaman produk (product assortment), layanan dan atmosfer toko, harga, promosi, tempat/ lokasi menentukan tingkat kepuasan konsumen pada Super swalayan Semarang.
Atas dasar permasalahan tersebut diatas maka dalam penulisan ini akan menganalisa tingkat kepuasan konsumen terhadap strategi bauran pemasaran eceran terhadap obyek yang akan diteliti. Dengan harapan analisis ini mendapatkan suatu konsep teoritik pada pelaksanaan program bauran pemasaran eceran dan masukan bagi perusahaan dalam memberikan kepuasan kepada konsumen sehingga mampu mempertahankan pelanggan serta eksistensinya dalam dunia bisnis ritel yang merupakan satu tujuan terpenting dalam daur hidup suatu usaha.

Read More »»

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK MIE INSTAN MEREK SEDAAP ...(163)

Produk mie instan sebagaimana diketahui adalah salah satu produk makanan cepat saji yang semakin lama semakin banyak digemari masyarakat karena kemudahan dalam hal penyajiannya. Demikian juga bagi kalangan mahasiswa yang sebagian besar berdomisili jauh dari orang tua, produk ini merupakan makanan cepat saji yang biasa dikonsumsi karena harganya yang terjangkau, mudah didapatkan dan sifatnya yang tahan lama. Dengan semakin banyaknya mie instan yang ada di pasaran berarti memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk memilih merk yang sesuai dengan keinginannya. Oleh karena itu perlu bagi perusahaan untuk menganalisis perilaku konsumen mie instan untuk mengetahui pola pembeliannya. Dengan banyaknya merk mie instan yang ada di pasaran akan mendorong perusahaan bersaing mendapatkan calon konsumen melalui berbagai strategi yang tepat, misalnya mengubah kemasan, warna, aroma, promosi dan harga. Lebih jauh lagi produsen dalam mendistribusikan produknya ke pasar konsumen berusaha agar produknya dapat diterima sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen.



Dari uraian tersebut di atas maka judul penelitian ini adalah: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumen Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Produk Mie Instan Merek Sedaap (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmer Malang).

Penelitian ini bertujuan untuk:1) Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh perilaku konsumen yang terdiri dari faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis terhadap keputusan untuk membeli produk mie instan merek sedaap, 2) Untuk mengetahui diantara faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologi yang berpengaruh dominan terhadap keputusan mahasiswa untuk membeli produk mie instan merek sedaap. Dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan menggunakan sampel sebanyak 40 responden mahasiswa didapatkan hasil sebagai berikut: Dari hasil analisis didapatkan bahwa variabel faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis secara simultan/bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan (bermakna) terhadap keputusan pembelian produk mie instan merek Sedaap dan variabel psikologis mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap.


Read More »»

ANALISA EFEKTIFITAS IKLAN MEDIA TELEVISI DJARUM SUPER MEZZO VERSI “BERLARI DAN MELAYANG” MENGGUNAKAN EPIC MODEL PADA MAHASISWA S-1 ...(162)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas sebuah iklan, dimana dalam hal ini adalah iklan televisi Djarum Super Mezzo versi “berlari dan melayang” dengan menggunakan EPIC model pada mahasiswa S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang yang masih aktif s/d tahun ajaran 2005/2006.



Penelitian dengan mengambil populasi dan sampel pada mahasiswa S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya ini adalah termasuk dalam jenis penelitian survay dengan alat pengumpulan data utama berupa kuesioner. Lembar kuesioner sendiri terbagi menjadi 3 (tiga) bagian ,yaitu : profil/ demografi responden, brand awareness, dan pernyataan-pernyataan responden mengenai dimensi-dimensi EPIC, yaitu meliputi dimensi Empathy, dimensi Persuasion, dimensi Impact, dan dimensi Communication.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisa metode EPIC terhadap iklan tv Djarum Super Mezzo versi “berlari dan melayang” adalah penghitungan dimensi empathy diperoleh nilai/skor rata-rata 4,437 yang berarti efektif. Dalam penghitungan dimensi persuasi diperoleh nilai/skor rata-rata 3,891 yang berarti cukup efektif. Dimensi impact (dampak) sebagai parameter product knowledge diperoleh nilai/skor rata-rata 3,613 yang berarti cukup efektif. Dan untuk dimensi komunikasi diperoleh hasil sebesar 3,848 yang berarti cukup efektif.

Read More »»

PENGARUH PENJUALAN TERHADAP LABA PADA HOME INDUSTRI SANDAL DI DUSUN SUMBER AWAN DAN DUSUN NGUJUNG DESA TOYOMARTO KECAMATAN SINGOSARI ...(161)

Jenis penelitian ini adalah, jenis penelitian dengan menggunakan metode studi kasus dimana pendekatannya dan penelaannya secara intensifdan mendetail dalam hal ini melakukan survey.



Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : Untuk mengetahui pengaruh penjualan terhadap peningkatan laba pada home industri sandaldi dusun Sumber awan dan dusun Ngujung Desa Toyomarto kecamatan Singosari.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini kami menggunakan analisa regresi sederhana.
Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian terdapat perssamaan regresi y = 1,493 + 0,877x. Dari persamaan diatas tersebut terdapat di interpretasikan bahwa variabel x (penjualan) mempunyai pengaruh kuat terhadap laba.

Read More »»

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN PENETAPAN HARGA TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA CARREFOUR PURI INDAH JAKARTA (160)

Di tengah kancah persaingan bisnis saat ini, para pelaku bisnis harus selalu menemukan ide-ide dan strategi baru dalam mempertahankan eksistensinya. Tentu saja hal tersebut harus selalu berorientasi kepada keinginan konsumen, karena walau bagaimanapun merekalah yang menilai dan melakukan keputusan pembelian. Akibat dari proses pemahaman tentang pola tingkah laku konsumen, maka bermunculanlah beragam jenis usaha/industri baru, salah satunya adalah industri retail.
Usaha retail dapat dipahami sebagai :



"Semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis" (Christina Whidya Utami 2006 : 4).

Retail juga merupakan perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada para konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perorangan maupun keluarga. Sering kali orang beranggapan bahwa retail hanya berarti menjual produk-produk di dalam toko. Tetapi retail juga melibatkan pelayanan jasa, seperti jasa layanan antar (delivery service) ke rumah-rumah. Tidak semua retail dilakukan di dalam toko. Penjualan yang dilakukan di luar toko, misalnya seperti berbagai penjualan album rekaman, kosmetik, maupun elektronik yang dilakukan melalui internet yang lebih kita kenal dengan nama e-commerce.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perdagangan eceran adalah suatu kegiatan menjual barang dan jasa kepada konsumen akhir. Ini merupakan mata rantai terakhir dalam penyaluran barang dan jasa. Dalam prakteknya bisa saja terjadi produsen menjual langsung produknya ke konsumen akhir, maupun pengecer yang menjual produknya bukan kepada konsumen akhir (untuk dijual lagi). Hal-hal seperti ini bukanlah pekerjaan retailing. Jadi, yang dimaksud retailer (pengecer) adalah orang/toko/badan usaha yang menjual produknya kepada konsumen akhir.
Perdagangan eceran ini sangat penting artinya bagi produsen, karena melalui retailer ini, produsen dapat memperoleh informasi berharga mengenai produknya. Produsen dapat memperoleh data dari pengecer, bagaimana pandangan konsumen mengenai bentuk, rasa, daya tahan, harga, dan segala sesuatu mengenai produknya. Dengan retailer juga, produsen dapat mengetahui mengenai kekuatan pesaingnya.

Produsen dan pengecer dapat memupuk kerjasama yang saling menguntungkan, misalnya produsen memasang iklan, memberi bonus, mengadakan undian, dsb. melalui retailer yang pada akhirnya akan menguntungkan retailer juga. Retailer dapat pula dipakai sebagai tempat untuk memasang spanduk, selebaran promosi dan lain sebagainya dari produsen.

Bisnis retail atau eceran mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, ditandai dengan semakin banyaknya bisnis retail tradisional yang mulai membenahi diri menjadi bisnis retail modern yang bare. Perubahan dan perkembangan kondisi pasar juga menuntut peritel untuk mengubah paradigma lama pengelolaan retail menuju paradigma pengelolaan retail yang lebih modern. Pengelolaan retail modern tentunya membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai terutama kebutuhan teknologi tinggi (high-tech). Teknologi tinggi ini memungkinkan retail membangun sistem informasi canggih yang mendukung pengelolaan sistem persediaan yang lebih efisien sehingga manajemen retail mampu menyediakan berbagai produk makanan dan minuman yang selalu segar. Teknologi juga memudahkan pelayanan, pemrosesan, serta pengantaran layanan yang lebih teliti, cepat, dan memuaskan pelanggan.

Dengan semakin pesatnya pertumbuhan jumlah perusahaan retail ini, maka persaingan di bidang pemasaran eceran semakin ketat. Dengan demikian perusahaan dituntut untuk selalu memberikan sesuatu yang terbaik kepada konsumen, khususnya bagi perusahaan yang bergerak dibidang retail. Salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan pada barang dan jasa tersebut adalah pelayanan yang diberikan perusahaan kepada konsumen. Untuk dapat memenangkan persaingan, perusahaan hendaknya menempatkan konsumen sebagai suatu titik pusat yang harus diperhatikan selera dan kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan perusahaan. Kepuasan konsumen atas pelayanan yang diberikan akan menumbuhkan loyalitas konsumen terhadap perusahaan. Disamping itu, perusahaan juga harus selalu mengikuti kemajuan para pesaingnya sebagai dasar untuk menilai mutu pelayanan yang telah diberikan kepada konsumen.

Layanan pelanggan (customer service) merupakan aktivitas dan program yang dilakukan oleh retail untuk menciptakan pengalaman berbelanja dan bersifat memberikan penghargaan kepada pelanggan. Aktivitas ini meningkatkan nilai penerimaan pelanggan, bukan hanya sekedar barang dagangan dan jasa yang dibelinya.

Kebanyakan layanan yang ditawarkan oleh retail lebih hanya melengkapi informasi tentang barang dagangan yang ditawarkan oleh retail, dan sekaligus memberikan keyakinan bahwa retail lebih mudah untuk menempatkan pelanggan dalam aktivitas pembelian produk dan jasa. Kesadaran akan pentingnya kualitas pelayanan pada tingkat global dipicu oleh keberhasilan penerapan manajemen kualitas total (Total Quality Management-TQM) dari perusahaan-perusahaan Jepang dengan munculnya The Deeeming Price pada tahun 1951. Meskipun sebenarnya organisasi atau perusahaan jasa membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengimplementasikan konsep TQM, namun kondisi ekonomi dan bisnis turut mendorong percepatan kesadaran tentang pentingnya kualitas dengan adanya kondisi persaingan yang semakin tajam, kemajuan teknologi, maupun berubahnya preferensi konsumen.

Selain meningkatkan kualitas pelayanan pada organisasi atau perusahaannya pengusaha juga perlu memikirkan tentang penetapan harga jual produknya secara tepat karena harga yang tidak tepat akan berakibat tidak menarik para pembeli untuk membeli barang tersebut. Penetapan harga yang tepat tidaklah selalu berarti bahwa harga haruslah ditetapkan rendah atau serendah mungkin. Seringkali kita jumpai bahwa apabila harga barang tertentu itu rendah, maka banyak konsumen justru tidak senang karena dengan harga yang murah akan dapat membuat semua orang dapat membelinya dan dengan demikian berarti bahwa semua orang dapat memakai barang tersebut. Kondisi ini membuat banyak diantara ibu rumah tangga, khususnya kaum wanita karir, tidak menyenangi kondisi diatas. Mereka lebih senang bahwa barang yang dipakainya tidak banyak orang yang menggunakannya dan hal ini berarti bahwa barang tersebut haruslah dijual dengan harga yang cukup tinggi. Dengan harga yang cukup tinggi, maka tentu saja hanya orang-orang tertentu yang yang mampu untuk membeli barang tersebut, sehingga tidak banyak orang yang memakai barang itu.

Harga jual yang rendah akan memberikan kepuasan bagi golongan orang yang sering disebut sebagai golongan "Economic Man" atau manusia-manusia yang senang pengiritan. Bagi orang-orang yang memiliki sifat "Psychologic Man", yaitu manusia yang bergengsi, maka banyak orang yang tidak menyenangi barang-barang yang berharga murah. Orang-orang seperti ini menganggap barang yang harganya murah itu sebagai "barang murahan", sehingga mereka tidak menyenanginya karena tidak sesuai dengan selera. Orang-orang yang bergengsi itu menyenangi barang yang bergengsi pula dan barang yang bergengsi tentu saja harganya tinggi juga.

Bagi industri retail, penekanan harga yang rendah merupakan respon dari kebutuhan pelanggan untuk menciptakan keunggulan diferensial. Bahkan retail dengan tahapan yang matang, bersedia menjual lebih rendah dari yang harga yang direkomendasikan pabrik melalui orientasi promosi yang kuat. Sering kali penetapan harga yang dilakukan oleh retailer skala besar yang menyediakan item barang dagangan sampai puluhan ribu merupakan hal yang biasa. Sedangkan bagi retailer yang baru memulai usaha dan belum memilki sistem atau tenaga terampil dalam menetapkan harga, maka satu-satunya langkah yang dapat dilakukan adalah membenahi dan membangun sistem pengadaan barang dagangan yang baik dengan tidak meninggalkan keinginan untuk membangun relasi yang baik dan saling menguntungkan dengan pihak pemasok.

Tujuan perusahaan untuk menciptakan penjualan melalui kepuasan pelanggan sangat penting, karena penjualan perusahaan setiap saat berasal dari dua kelompok, yaitu pelanggan baru dan pembeli ulang (repeat customer). Biaya untuk menarik pelanggan baru lebih mahal daripada mempertahankan pelanggan lama. Oleh karena itu, mempertahankan pelanggan lebih penting daripada memikat pelanggan. Kunci untuk mempertahankan pelanggan adalah kepuasan pelanggan. Seorang pelanggan yang puas akan 1) membeli lagi; 2) mengatakan hal yang baik tentang perusahaan kepada orang lain; 3) kurang memperhatikan merek dan iklan produk pesaing; 4) cenderung membeli produk lain dari perusahaan yang sama. Perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan akan mengamati tingkat kepuasan pelanggannya disetiap periode dan menetapkan sasaran peningkatan.

Saat ini beberapa peneliti pemasaran berfokus pada pengukuran kepuasan pelanggan. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan kualitas pelayanan dari perusahaan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan akan memberikan perhatian bagi manajer perusahaan apakah perlu dilakukan perbaikan dalam kepuasan pelanggan yang berperan pada peningkatan dalam kinerja ekonomis perusahaan. Pengeluaran konsumen yang besar dalam berbelanja di toko swalayan, menunjukkan bahwa hubungan antara kepuasan pelanggan dan kinerja ekonomis perusahaan sebagai penilaian konsumen yang positif.

Adanya penekanan yang meningkat pada kepuasan pelanggan, meminta perhatian kita apakah perbaikan dalam kepuasan pelanggan berperan pada peningkatan dalam performa ekonomis perusahaan. Pembelanjaan dan kepentingan konsumen yang besar dikaitkan pada ukuran kepuasan pelanggan yang menunjukkan bahwa hubungan antara kepuasan pelanggan dan ekonomis perusahaan dianggap oleh perusahaan berada pada penekanan kepuasan pelanggan, contoh: konsumen yang berbelanja disebuah toko swalayan kecewa karena antrian yang panjang, sebaliknya penekanan yang terus menerus yang terjadi pada suatu perusahaan, seperti ; harga produk yang terlalu tinggi, pelayanan yang kurang memuaskan konsumen, menurunkan tingkat loyalitas pelanggan terhadap jasa suatu perusahaan. Penurunan ini dihubungkan pada sejumlah faktor yang luas, seperti ; kurangnya informasi yang tersedia bagi konsumen dan meningkatnya persaingan luar negeri.

Di tengah suasana pasar yang bukan sekedar kompetitif, tetapi sudah menjadi hiperkompetitif, kepuasan pelanggan atau konsumen nampaknya bukan merupakan sesuatu yang masih harus dibahas, tetapi harus sudah merupakan kewajiban yang mau tidak mau bagi setiap pengusaha yang ingin tetap bertahan di dalam pasar yang hiperkompetitif.
Kepuasan pelanggan merupakan unsur mutlak paling dasar bagi setiap kegiatan bisnis. Keunggulan dalam bersaing di pasar hiperkompetitif masa kini apalagi masa depan adalah kemampuan untuk menciptakan suasana loyalitas pelanggan yang dapat tercapai jika kepuasan pelanggan terpenuhi.

Atas dasar latar belakang permasalahan tersebut, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengambil judul "PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN PENETAPAN HARGA TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA CARREFOUR PURI INDAH JAKARTA".


Read More »»

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KEUANGAN PT. BERDIKARI UNITED LIVESTOCK (159)


Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui apakah Faktor-faktor Jumlah aktiva tetap, hutang jangka panjang, dan Equity secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja keuangan-Rentabilitas PT. Berdikari United Livestock, (2) Untuk mengetahui apakah Faktor-faktor Jumlah aktiva, hutang jangka panjang, dan Equity secara parsial berpengaruh terhadap kinerja keuangan-Rentabilitas PT. Berdikari United Livestock.

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bila Kecamatan Pituriase Kabupaten Sidrap. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data sekunder berupa Laporan Keuangan PT. Berdikari United Livestock tahun 2000-2004. data dianalisis dengan menggunakan analisis pendahuluan berdasarkan SK Menteri BUMN No. Kep-100/MBU/2002, selanjutnya dilakukan analisis statistik dengan menggunakan regresi berganda (Multiple regression).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan SK No. Kep-100/MBU/2002 skor kinerja rata-rata selama lima tahun adalah 56.3 (80.43%) dari skor standar BUMN. Faktor jumlah aktiva tetap, hutang jangka panjang, dan Equity secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap kinerja keuangan-profitabilitas PT. Berdikari United Livestock ditunjukkan dengan nilai sig 0.019  = 0.05. Secara parsial faktor jumlah aktiva tetap mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan-profitabilitas ditunjukkan dengan nilai sig. 0.019, sedangkan hutang jangka panjang dan equity menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan, ditunjukkan dengan nilai sig 0.807 dan 0.269  = 0.05.


Read More »»

Proximity Dan Kandungan Sosioemosi Isi Pesan Electronic Mail (E-Mail) Di Mailing List Unhas-Ml Studi Analisis Isi Dan Survei Pendapat Anggota (158)


Mailing list merupakan penggunaan e-mail untuk forum diskusi yang besar, selanjutnya menjadi aplikasi dasar utama dalam pembentukan berbagai komunitas cyber. Mailing list UNHAS-ML, merupakan mailing list yang sangat beragam kandungan sosioemosinya, mulai dari sosioemosi musibah, ketegangan, pengurangan ketegangan, persetujuan, pemberian dan permintaan informasi.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab masalah-masalah yang telah dirumuskan. Secara rinci tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah (1) menjelaskan topik-topik yang dominan menjadi topik perdebatan di mailing list UNHAS-ML (2) mengkaji pengaruh dan faktor proximity yang dominan mempengaruhi minat para anggota grup dalam menanggapi suatu pesan dan (3) mengkaji jenis-jenis proximity yang mempengaruhi keberpihakan anggota grup terhadap isi pesan.
Populasi penelitian ini adalah keseluruhan e-mail yang terposting di mailing lsit UNHAS-ML kurun waktu 1 September 1999 – 31 Desember 2002, populasi survei pendapat adalah seluruh anggota mailing list UNHAS-ML yang turut mengirimkan pesan yang mengandung sosioemosi ketegangan dan menunjukkan keberpihakan mereka pada anggota yang lain selama kurun waktu yang diteliti.
Untuk menjawab masalah-masalah yang telah dirumuskan, digunakan metode analisis isi terhadap keseluruhan e-mail yang menjadi sampel penelitian, kemudian mengelompokkan isi e-mail yang memiliki pembahasan yang sama. Kandungan sosioemosi ketegangan untuk setiap e-mail didasarkan pada teks atau isi e-mail yang memiliki makna emosi negatif yang tecermin dari diksi yang digunakan. Terhadap hasil kuesioner anggota mailing list UNHAS-ML untuk mengetahui pengaruh faktor proximity dilakukan dengan menghitung jawaban responden menurut tingkat mempengaruhi dan tidak mempengaruhi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa, isu-isu yang banyak menjadi topik perdebatan dan mengandung sosioemosi ketegangan di mailing list UNHAS-ML adalah topik-topik yang menyangkut citra dan pengembangan UNHAS, sedangkan jenis kedekatan yang dominan melatarbelakangi dan mempengaruhi anggota grup dalam menanggapi pesan dan menunjukkan keberpihakan mereka terhadap anggota lain yaitu kedekatan sosial dan kedekatan psikologi.


Read More »»

Pengaruh Budaya Perusahaan Terhadap Efektivitas Organisasi Pada Pt Shafira Laras Persada Bandung (157)


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan budaya perusahaan, bagaimana efektivitas organisasi, dan sejauh mana pengaruh budaya perusahaan terhadap efektivitas organisasi. Penelitian ini dilaksanakan di PT Shafira Laras Persada Bandung.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis dan verifikatif. Sampel yang diambil yaitu dari populasi sebanyak 63 orang. Teknik pengolahan data dan analisis yang digunakan menggunakan korelasi Rank Spearman serta uji statistik t untuk menguji hipotesis dengan tingkat keyakinan 90 %. Adapun koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh budaya perusahaan yang diterapkan terhadap efektivitas organisasi.
Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa Budaya perusahaan memiliki hubungan yang cukup berarti terhadap efektivitas organisasi menurut tafsiran korelasi Jalaludin Rakhmat. Ini dilihat dari Koefisien Korelasi Rank Spearman sebesar 0,70%, sedangkan kontribusi budaya perusahaan terhadap Efektivitas organisasi adalah sebesar 49%. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh budaya perusahaan terhadap efektivitas organisasi.


Read More »»

Analisis Strategi Bauran pemasaran Eceran (Ritail Marketing Mix) Yang Menentukan Tingkat Kepuasan Konsumen Super swalayan Semarang (156)


Suatu perusahaan jasa jika ingin tetap bertahan dan bersaing serta mampu mengembangkan bisnisnya harus lebih meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen agar tercipta suatu kepuasan. Super Swalayan sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Ritel yang menawarkan barang-barang kebutuhan rumah tangga bagi masyarakat mulai berbenah diri dengan meningkatkan kualitas pelayanan yang baik dimata konsumen, hal itu dilakukan dengan harapan kepuasan konsumen terpenuhi sehingga mampu bersaing dengan perusahaan ritel sejenis lainnya.
Permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor Keragaman Produk, Layanan Toko, Atmosfer Toko, Harga, Promosi dan Lokasi dalam menentukan tingkat kepuasan Super swalayan. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan menganalisis faktor Keragaman Produk, Layanan Toko, Atmosfer Toko, Harga, Promosi dan Lokasi dalam menentukan tingkat kepuasan konsumen Super Swalayan.
Populasi yang diambil adalah konsumen Super Swalayan Semarang, dimana setiap orang yang melakukan aktivitas berbelanja pada Super Swalayan. Sampel yang diambil sebanyak 98 konsumen. Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat kepuasan konsumen Super Swalayan mengenai kinerja Super Swalayan Semarang yang terdiri dari variabel Keragaman Produk, Layanan Toko, Atmosfer Toko, Harga, Promosi dan Lokasi. Metode pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan teknik matrix important and performance sehingga menggunakan sampel ganda berpasangan dengan perhitungan Wilcoxon Signed Rank Test.
Hasil analisis dengan menggunakan perhitungan Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan bahwa pada keenam faktor yang diukur untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen, diketahui bahwa pelangan merasa puas dengan kinerja Super Swalayan dalam memberikan pelayanan pada faktor Keragaman Produk, Layanan Toko, Lokasi, dan Promosi sedangkan pelanggan merasa tidak puas dengan kinerja Super Swalayan dalamAtmosfer toko. Pada faktor Keputusan Harga tidak diketahui secara signifikan hasilnya.
Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan konsumen Super Swalayan semarang merasa tidak puas akan kinerja Super Swalayan. Namun demikian ada faktor dimana konsumen merasa puas. Oleh karena itu disarankan kepada pihak Super Swalayan untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya dalam memenuhi kebutuhan konsumen agar konsumen merasa sangat puas. Sedangkan pada faktor dimana konsumen merasa puas, hendaknya Super Swalayan dapat mempertahankan prestasinya dan lebih ditingkatkan lagi.


Read More »»

Upaya Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Kalimantan Barat Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai (155)


Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang “Upaya Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Kalimantan Barat Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai” dengan permasalahan yang telah diidentifikasi sebagai berikut : bahwa untuk melaksanakan tugas-tugas pokok dibidang kepegawaian, maka diperlukan sumber daya aparatur yang memiliki kemampuan dan produktivitas kerja yang tinggi, perlunya pemberian motivasi agar pegawai memiliki semangat kerja yang tinggi, keberadaan sarana dan prasarana kerja yang mendukung pelaksanaan tugas dan pekerjaan pegawai, penegakan peraturan-peraturan untuk meningkatkan disiplin pegawai, dan pengawasan sebagai kontrol terhadap pegawai dalam melaksanakan pekerjaan.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskritif dengan pendekatan induktif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Kalimantan Barat yang berjumlah 102 orang. Mengingat jumlah populasi yang relatif besar, maka penulis menggunakan teknik purposive sampling dalam penentuan sampel yang berjumlah 30 orang. Sedangkan teknik pengumpulan data di lapangan dilakukan dengan menggunakan kuesioner, wawancara,dokumentasi dan observasi.
Dari hasil penyebaran kuesioner dan wawancara didapatkan bahwa kinerja Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Kalimantan Barat dapat ditinjau dari aspek tingkat kemampuan pegawai, motivasi kerja, pola penempatan, pola pengambilan keputusan, disiplin kerja pegawai, tingkat pengawasan, kondisi sarana dan prasarana penunjang kerja dan kondisi tempat bekerja pegawai. Sedangkan upaya yang dilakukan oleh Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Kalimantan Barat dalam meningkatkan kinerja pegawainya adalah dengan meningkatkan kemampuan pegawai, meningkatkan motivasi kerja dan meningkatkan fungsi-fungsi manajemen.
Akhirnya penulis dapat menyimpulkan bahwa upaya Badan Kepegawian Daerah Provinsi Kalimantan Barat dalam meningkatkan kinerja pegawainya sudah terlaksana dengan baik, namun masih perlu ditingkatkan di masa yang akan datang agar tugas pokok Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Kalimantan Barat dapat tercapai sesuai dengan visi dan misi organisasi yang telah dirumuskan.


Read More »»

ADSORBSI LIMBAH ZAT WARNA TEKSTIL JENIS PROCION RED MX 8B OLEH KITOSAN DAN KITOSAN SULFAT HASIL DEASETILASI KITIN CANGKANG BEKICOT (P-26)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan industri tekstil yang maju dan berkembang pesat, tentu saja akan diikuti dengan bertambahnya limbah-limbah yang dihasilkan baik volume maupun jenisnya. Limbah hasil industri yang sengaja dibuang ke alam menyebabkan alam semakin lama semakin tercemar. Limbah industri banyak jenisnya tergantung pada bahan baku yang digunakan dalam proses industri. Secara penampakan fisik air limbah industri tekstil terlihat keruh, berwarna, panas dan berbusa. Kualitas limbah cair sangat tergantung pada jenis proses yang dilakukan. Pada umumnya limbah cair bersifat basa dan mengandung bermacam-macam senyawa baik organik maupun anorganik. Limbah cair tersebut terutama berasal dari cairan bekas proses pewarnaan dan proses pencelupan serta proses-proses lain yang berhubungan dengan proses tekstil industri. Cairan bekas pencelupan tersebut mengandung zat warna dan zat pengikat warna. Dengan adanya bermacam-macam limbah maka diperlukan pemecahan tersendiri untuk penurunan kadar limbah dalam lingkungan.


Pengolahan limbah zat warna menjadi sulit karena struktur aromatik pada zat warna yang sulit dibiodegradasi, khususnya zat warna reaktif karena terbentuknya ikatan kovalen yang kuat antara atom C dari zat warna dengan atom O, N atau S dari gugus hidroksi, amina atau thiol dari polimer (Christie, 2001 : 135). Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat mencelup serat selulosa dalam kondisi tertentu dan membentuk reaksi kovalen dengan serat (Isminingsih, 1982). Pada tahun 1956 telah diperkenalkan zat warna reaktif yang pertama dan dipasarkan dengan nama Procion, suatu zat warna golongan diklorotriazina, yang dapat mencelup serat selulosa, zat warna reaktif juga mencelup serat-serat wol, sutera dan poliamida buatan. Salah satu zat warna reaktif golongan diklorotriazina yang dipakai dalam industri tekstil adalah Procion Red MX 8B.

Munculnya limbah zat warna reaktif yang berasal dari proses industri tekstil menyebabkan lingkungan sekitar semakin tercemar sehingga perlu pengolahan lebih lanjut. Beberapa macam perlakuan yang dilakukan untuk pengolahan air limbah yaitu proses filtrasi, flokulasi, penghilangan warna (decoloring), dan adsorpsi. Proses adsorpsi dilakukan untuk proses penyerapan senyawa yang mengganggu dalam analisis, pada umumnya digunakan untuk proses pengolahan limbah. Beberapa penelitian tentang pengolahan limbah zat warna antara lain Supriyanto (2003) meneliti adsorbsi limbah zat warna tekstil jenis Celedon Red X5B menggunakan tanah alofan teraktivasi NaOH. Aryunani (2003) telah meneliti adsorbsi zat warna tekstil Remazol Yellow FG pada limbah batik menggunakan enceng gondok teraktivasi NaOH. Joko (2003) telah meneliti pemanfaatan limbah genteng sebagai adsorben dengan aktivator NaOH pada limbah zat warna tekstil jenis Celedon Red X5B. Rochanah (2003) telah meneliti adsorbsi zat warna Procion Red MX 8B pada limbah tekstil oleh batang jagung.

Salah satu alternatif adsorben yang dikembangkan aplikasinya adalah kitosan. Kitosan bisa diperoleh melalui deasetilasi kitin. Salah satu sumber kitin adalah cangkang bekicot. Bekicot merupakan hewan lunak (mollusca) dari kelas gastropoda. Bekicot menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi empat yakni; Achatina variegata, Achatina fullica, Helix pomatia dan Helix aspersa sedangkan dua jenis terakhir tidak ditemukan di Indonesia. Bekicot di Indonesia telah dibudidayakan sebagai sumber protein dan menjadi komoditas ekspor. Ekspor bekicot pada tahun 1983 baru mencapai 245.359 kg, sedangkan pada tahun 1987 ekspor bekicot naik sekitar tujuh kali lipat menjadi 1.490.296 kg. Besarnya pertumbuhan perdagangan ini menyebabkan timbulnya limbah cangkang bekicot dalam jumlah yang cukup besar. Limbah cangkang bekicot banyak ditemukan di desa Minggiran kecamatan Papar kabupaten Kediri sebagai daerah sentra eksport daging bekicot. Selama ini pemanfaatan cangkang bekicot hanya digunakan sebagai campuran makanan ternak. Cangkang bekicot mengandung senyawa kitin. Kitin dalam cangkang berikatan dengan protein, lipid, garam-garam anorganik seperti kalsium karbonat serta pigmen-pigmen. Agar diperoleh produk yang bernilai ekonomis sekaligus dapat mengatasi penumpukan limbah cangkang bekicot maka harus dilakukan isolasi kitin yang terdapat pada cangkang bekicot.

Kitin merupakan senyawa karbohidrat yang termasuk dalam polisakarida, tersusun atas monomer-monomer asetil glukosamin yang saling berikatan dengan ikatan 1,4 beta membentuk suatu unit polimer linier yaitu beta-(1,4)-N-asetil-glukosamin (Pujiastuti, 2001: 3). Kitin merupakan bahan organik utama terdapat pada kelompok hewan seperti, crustaceae, insekta, mollusca dan arthropoda. Kitin diperoleh dengan melakukan sejumlah proses pemurnian. Proses isolasi kitin terdiri dari dua tahap utama yaitu deproteinasi dan demineralisasi yang bertujuan menghilangkan protein dan mineral yang terkandung dalam cangkang.

Kitin hasil deproteinasi dan demineralisasi dapat diubah menjadi kitosan melalui proses deasetilasi. Tujuan proses deasetilasi adalah untuk menghilangkan gugus asetil dari kitin. Kitosan (2-asetamida-deoksi--D-glukosa) memiliki gugus amina bebas yang menjadikan polimer ini bersifat polikationik, sehingga polimer ini potensial untuk diaplikasikan dalam pengolahan limbah dan obat-obatan hingga pengolahan makanan dan bioteknologi (Savant, dan Torres, 2000). Biopolimer yang alami dan tidak beracun ini sekarang secara luas diproduksi secara komersial dari limbah kulit udang dan kepiting (No, Lee, dan Mayers, 2000).

Beberapa penelitian tentang kitosan antara lain, Salami (1998) telah mempelajari aplikasi kitosan dari bahan kulit udang (phenaus monodon) sebagai bahan koagulasi limbah cair industri tekstil, Majid, Narsito dan Nuryono (2001) menggunakan kitosan dari bahan kulit udang (phenaus monodon) sebagai adsorben logam. Kusumaningsih (2004) telah berhasil mengisolasi kitin cangkang bekicot dengan rendemen sebesar 22,04% dan telah melakukan deasetilasi kitin menjadi kitosan. Arief (2003) telah meneliti pembuatan kitosan dari kitin cangkang bekicot dan pemanfaatannya sebagai adsorben logam nikel.

Salah satu turunan kitosan yang telah diteliti adalah kitosan-sulfat. Kitosan-sulfat merupakan salah satu dari modifikasi atau turunan kitosan yang dibuat dengan cara menempelkan anion sulfat (SO42-) pada gugus aktif kitosan (NH2). Konversi kitosan menjadi kitosan-sulfat pada dasarnya adalah pengikatan elektrostatik anion sulfat pada gugus NH2 pada kitosan menjadi NH3+SO42-. Ion sulfat merupakan donor elektron kuat sehingga dapat memprotonasi NH2 dari kitosan dan membentuk ikatan NH3+ - SO42-. Hal ini dapat menambah kereaktifan gugus aktif pada kitosan sehingga dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi dari kitosan (Mahatmanti, 2001).

Mahatmanti (2001) menggunakan kitosan dan kitosan-sulfat dari cangkang udang windu (Phenaus monodon) sebagai adsorben ion logam seng(II) dan timbal(II) sementara Darjito (2001) menggunakan kitosan-sulfat sebagai adsorben logam kobalt(II) dan tembaga(II). Dalam penelitian Shofiyani dkk (2001) dilaporkan bahwa modifikasi kitosan menjadi kitosan-sulfat mampu meningkatkan kapasitas maksimum dan laju adsorpsi ion Cr(IV).

Pada penelitian sebelumnya, Rochanah (2003) telah meneliti adsorbsi zat warna Procion Red MX 8B pada limbah tekstil oleh batang jagung, dengan pertimbangan bahwa zat warna tekstil mengandung gugus yang dapat bereaksi dengan gugus hidroksil dari selulosa sehingga memungkinkan zat warna tersebut dapat terikat pada bubuk batang jagung. Pada penelitian ini dipilih kitosan sebagai adsorben dengan pertimbangan karena kitosan selain memiliki gugus hidroksi juga memiliki gugus amino yang menyebabkan kitosan mempunyai reaktifitas yang tinggi untuk berikatan dengan zat warna Procion Red MX 8B. Sedangkan modifikasi kitosan menjadi kitosan-sulfat diharapkan mampu meningkatkan kapasitas adsorpsi.

Pada penelitian ini akan meneliti pemanfaatan kitosan dan kitosan-sulfat untuk adsorben limbah zat warna industri tekstil, khususnya zat warna reaktif jenis Procion Red MX 8B yang banyak ditemukan di daerah Surakarta dan sekitarnya.

B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Kitin adalah biopolimer yang melimpah kedua di alam setelah selulosa. Kitin terdapat pada jamur, cangkang anthropoda, crustaceae dan mollusca. Cangkang bekicot banyak ditemukan di desa Minggiran kecamatan Papar kabupaten Kediri. Isolasi kitin dapat dilakukan dengan metode No. Kitin dapat diubah menjadi kitosan dengan menghilangkan gugus asetilnya. Kitosan-sulfat dibuat dengan penempelan anion sulfat (SO42-) yang berasal dari ammonium sufat pada gugus aktif kitosan (NH2). Kitosan yang dihasilkan dari isolasi kitin diketahui dengan melakukan karakterisasi yang meliputi kadar abu, kadar air, derajat deasetilasi, berat molekul polimer yang terbentuk, dan analisis gugus fungsi kitosan. Karakterisasi kitosan-sulfat yang dilakukan meliputi kadar air, kadar abu, dan penentuan jumlah ion sulfat yang menempel, dan analisis gugus fungsi pada kitosan-sulfat.

Kitosan memiliki kemampuan untuk menyerap zat warna. Penyerapan zat warna tersebut akan meningkat dengan mengubah kitosan menjadi kitosan-sulfat. Kemampuan adsorpsi kitosan dan kitosan-sulfat terhadap zat warna Procion Red MX 8B dapat diketahui dengan melakukan variasi pH larutan zat warna. Waktu kesetimbangan adsorpsi kitosan dan kitosan sulfat terhadap zat warna Procion Red MX 8B dapat diketahui dengan melakukan variasi waktu kontak, sedangkan isoterm adsorpsi yang terjadi dapat diketahui dengan menvariasi konsentrasi zat warna Procion Red MX 8B. Desorpsi kitosan dan kitosan-sulfat dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan kitosan dan kitosan sulfat untuk melepaskan kembali limbah zat warna Procion Red MX 8B yang sudah diserap.

Read More »»

PENYELESAIAN PERSAMAAN NON-LINEAR METODE BISEKSI DAN METODE REGULA FALSI MENGGUNAKAN CARA KOMPUTASI (P-25)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persoalan yang melibatkan model matematika banyak muncul dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti dalam bidang fisika, kimia, ekonomi, atau pada persoalan rekayasa (engineering), seperti Teknik Sipil, Teknik Mesin, Elektro dan sebagainya. Seringkali model matematika tersebut muncul dalam bentuk yang tidak ideal atau sulit untuk dikerjakan secara analitik untuk mendapatkan solusi sejatinya (exact solution). Yang dimaksud dengan metode analitik adalah metode penyelesaian model matematika dengan rumus-rumus aljabar yang sudah baku atau lazim digunakan.


Sebagai ilustrasi, diberikan beberapa contoh berikut ini :
1. Penyelesaian akar-akar persamaan polinom :
23,4x7 – 1,25x6 + 120x4 + 15x3 - 120x2 - x + 100 = 0
2. Pencarian harga x yang memenuhi persamaan:

3. Penyelesaian sistem persamaaan linear :
1,2a - 3b - 12c + 12d + 4,8e – 5,5f + 100g = 18
0,9a + 3b - c + 16d + 8e - 5f - 10g = 17
4,6a + 3b - 6c - 2d + 4e + 6,5f - 13g = 19
3,7a - 3b + 8c - 7d + 14e + 8,4f + 16g = 6
2,2a + 3b + 17c + 6d + 12e – 7,5f + 18g = 9
5,9a + 3b + 11c + 9d - 5e - 25f - 10g = 0
1,6a + 3b + 1,8c + 12d -7e +2,5f + g =-5
(Susy, 2006 : 1-2)

Setelah melihat beberapa contoh ilustrasi di atas, kemungkinan besar cara analitik tidak dapat digunakan.

Namun, untuk polinom yang berderajat lebih besar dari 2, tidak ada rumus aljabar untuk menghitung akar polinom tersebut. Alternatifnya adalah dengan memanipulasi polinom, misalnya dengan pemfaktoran atau menguraikan polinom tersebut menjadi perkalian beberapa suku. Semakin tinggi derajat polinom, jelas semakin sukar memfaktorkannya. Begitu juga untuk menyelesaian sistem persamaan linear. Apabila sistem persamaannya hanya berupa dua atau tiga garis lurus dengan dua atau tiga peubah, masih dapat ditemukan solusinya (dalam hal ini titik potong kedua garis) dengan menggunakan rumus titik potong dua buah garis. Titik potong tersebut juga dapat ditemukan dengan menggambar kedua garis pada kertas grafik. Tetapi untuk sistem dengan jumlah persamaan dan jumlah peubah lebih besar dari tiga, tidak ada rumus yang dapat dipakai untuk memecahkannya.

Contoh-contoh ilustrasi di atas memperlihatkan bahwa ada beberapa persoalan matematika yang tidak dapat diselesaikan dengan metode analitik. Akan tetapi metode analitik unggul untuk sejumlah persoalan yang memiliki tafsiran geometri sederhana. Misalnya menentukan akar penyelesaian dari menggunakan rumus abc. Padahal persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu dalam bentuk sederhana tetapi sangat kompleks serta melibatkan bentuk dan proses yang rumit. Akibatnya nilai praktis penyelesaian metode analitik menjadi terbatas. Bila metode analitik tidak dapat lagi digunakan, maka salah satu solusi yang dapat digunakan adalah dengan metode Numerik. Metode Numerik adalah teknik yang digunakan untuk memformulasikan persoalan matematika sehingga dapat dipecahkan dengan operasi perhitungan atau aritmatika biasa (tambah, kurang, kali, dan bagi) (Susy, 2006 : 3-5).

Penyelesaian secara numerik umumnya melibatkan proses iterasi, perhitungan berulang dari data numerik yang ada. Jika proses iterasi tersebut dilakukan secara manual, akan membutuhkan waktu yang relatif lama dan kemungkinan timbulnya nilai kesalahan (error) akibat manusia itu sendiri juga relatif besar. Misalnya untuk menyelesaikan persoalan persamaan non-linear , jika diselesaikan menggunakan cara manual menggunakan Metode Biseksi diperlukan beberapa iterasi. Untuk penyelesaian sampai tujuh angka di belakang koma dapat terjadi iterasi sampai puluhan kali. Ini tentu membutuhkan waktu yang relatif lama. Pada kenyataannya sering terjadi proses iterasi sampai ratusan kali, pada keadaan demikian ini komputer sangat dibutuhkan untuk mengurangi waktu penyelesaian (Munif, 1995 : 3). Selain mempercepat perhitungan numerik, dengan komputer dapat dicoba berbagai kemungkinan solusi yang terjadi akibat perubahan beberapa parameter tanpa menyita waktu dan pikiran. Solusi yang diperoleh juga dapat ditingkatkan ketelitiannya dengan mengubah-ubah nilai parameter (Susy, 2006 : 9).

Jika dicari nilai x yang memenuhi persamaan biasanya digunakan rumus abc, maka diperoleh x1 = 0 dan x2 = 4. Nilai-nilai x yang memenuhi persamaan ini pada gambar terlihat jelas yaitu titik potong garis dengan sumbu x.
Akan tetapi jika diilustrasikan untuk persamaan non-linear : 23,4x7 – 1,25x6 + 120x4 + 15x3 - 120x2 - x + 100 = 0 maka rumus abc sudah tidak berlaku lagi, karena persamaan tersebut mempunyai pangkat yang lebih besar dari 2. Metode analitik tidak berlaku lagi karena terlalu memakan banyak waktu, tenaga dan pikiran. Jalan yang paling efektif dan efisien adalah dengan mengggunakan metode Numerik, karena hanya dengan beberapa langkah saja sudah bisa didapatkan apa yang diinginkan.

Penyelesaian yang digunakan dalam metode Numerik adalah penyelesaian pendekatan, oleh karena itu biasanya timbul kesalahan (error). Pada penyelesaiannya diusahakan untuk mendapatkan error yang sekecil mungkin. Langkah pertama yang dilakukan dalam penyelesaian persamaan non-linear dengan menggunakan metode Biseksi dan metode Regula Falsi adalah menetapkan nilai sebarang a sebagai batas atas dan nilai sebarang b sebagai batas bawah kemudian ditentukan nilai fungsi f(x) untuk x = a dan x = b. Selanjutnya adalah memeriksa apakah f(a).f(b) < 0, apabila terpenuhi syarat tersebut berarti akar fungsi terdapat di antara a dan b. Jika tidak terpenuhi maka kembali harus menetapkan nilai sebarang a dan b sedemikian rupa sehingga ketentuan perkalian terpenuhi (Wibowo, 2007 : 1). Jika ketentuan perkalian terpenuhi maka selanjutnya adalah menentukan titik c (titik di antara a dan b). Untuk metode Biseksi menggunakan rumus sedangkan untuk metode Regula Falsi menggunakan rumus . Langkah selanjutnya adalah mencari nilai c yang lain sehingga didapat error yang kecil atau sama dengan nol.

Selain sederhana, metode Biseksi dan metode Regula Falsi mempunyai beberapa kelebihan yaitu proses iterasi lebih cepat, mudah untuk dibuat program dan tingkat kesalahan kecil. Untuk metode yang menghasilkan error kecil maka metode tersebut lebih teliti dibanding dengan metode lain. Dalam metode Numerik ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persamaan non-linear, diantaranya metode Tabulasi, metode Biseksi, metode Regula Falsi, metode Iterasi bentuk x = g(x), metode Newton Rapson, metode Faktorisasi (P3, P4, P5), metode Bairstow dan metode Quotient-Difference (Q-D) (Munif, 1995 : 8).

Berdasarkan uraian di atas, tujuan utama penelitian ini adalah mempelajari penyelesaian persamaan non-linear menggunakan metode Biseksi dan metode Regula Falsi Menggunakan Cara Komputasi serta mengetahui perbedaan kecepatannya dalam menyelesaikan persamaan non-linear ditinjau dari banyaknya iterasi.


B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana penyelesaian persamaan non-linear menggunakan metode Biseksi dengan program komputer.
2. Bagaimana penyelesaian persamaan non-linear menggunakan metode Regula Falsi dengan program komputer
3. Bagaimana perbedaan kecepatan antara metode Biseksi dan metode Regula Falsi dalam menyelesaikan persamaan non-linear ditinjau dari banyaknya iterasi.

Read More »»

EFFECTS OF PRE-QUESTIONING ON THE READING COMPREHENSION ACHIEVEMENT OF THE SECOND GRADE STUDENTS AT SMAN-2 JEKAN RAYA IN ACADEMIC (P-24)

CHAPTER I
INTRODUCTION

1.1 Background of the Study
Language is one of the most important things in communication and it is used as a toll of communication among the nations in all over the world. As an international language, English is very important and has many interrelationships with various aspects of life owned by human being. In Indonesia, English considered as the first foreign language and taught formally from elementary school up to the university level.


In English, there are four skills that should be mastered, they are: listening, speaking, reading, and writing. The reading skill became very important in the education field, students need to be exercised and trained in order to have a good reading skill.

Reading is also something crucial and indispensable for the students because the success of their study depends on the greater part of their ability to read. If their reading skill is poor they are very likely to fail in their study or at least they will have difficulty in making progress. On the other hand, if they have a good ability in reading, they will have a better chance to succeed in their study.

In reading, to comprehend the text the readers should be able to manage every part of the text, because it is easy to gain the comprehension in reading when the readers are able to organize the text. Sometimes, they may find form of pre-questioning and it is important for them to comprehend a reading text with having knowledge in general view of the text. Theoretically, pre-questioning itself can build the students’ interest and motivation before students read the whole text. Moreover, the students can predict what will be discussed on the text. In line with this study, students may improve their reading comprehension if they know about pre-questioning and it is very important to understand about pre-questioning in order to get good comprehension in reading.

Based on the explanation above, the writer is interested in finding out the effects of treatment with pre-questioning and without pre-questioning on students’ reading comprehension achievement and concluded that the pre-questioning consist of some questions provided before the students read the whole text. It tends to build the students’ interest and motivation to read the text.

1.2 Problem of the Study
Based on the background of study above, the problem of the study is as follows:
1. What is the effect of treatment with pre-questioning on the Reading Comprehension Achievement of the Second Grade Students of IPS classes at SMAN-2 Jekan Raya Palangkaraya in Academic year 2006/2007?”
2. What is the effect of the student’s gender on the reading comprehension achievement of the second grade students of IPS classes at SMAN-2 Jekan Raya Palangkaraya in academic year 2006/2007?
3. What is the effect of treatments and student’s gender on the reading comprehension achievement of the second grade students of IPS classes at SMAN-2 Jekan Raya Palangkaraya in academic year 2006/2007?

Read More »»

Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang (KM-06)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesamanya. Dalam kehidupannya manusia sering dipertemukan satu sama lainnya dalam suatu wadah baik formal maupun informal.


Organisasi adalah sebuah sistem sosial yang kompleksitasnya jelas terlihat melalui jenis, peringkat, bentuk dan jumlah interaksi yang berlaku. Proses dalam organisasi adalah salah satu faktor penentu dalam mencapai organisasi yang efektif. Salah satu proses yang akan selalu terjadi dalam organisasi apapun adalah proses komunikasi. Melalui organisasi terjadi pertukaran informasi, gagasan, dan pengalaman. Mengingat perannya yang penting dalam menunjang kelancaran berorganisasi, maka perhatian yang cukup perlu dicurahkan untuk mengelola komunikasi dalam organisasi. Proses komunikasi yang begitu dinamik dapat menimbulkan berbagai masalah yang mempengaruhi pencapaian sebuah organisasi terutama dengan timbulnya salah faham dan konflik

Komunikasi memelihara motivasi dengan memberikan penjelasan kepada para pegawai tentang apa yang harus dilakukan, seberapa baik mereka mengerjakannya dan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja jika sedang berada di bawah standar.
Aktivitas komunikasi di perkantoran senantiasa disertai dengan tujuan yang ingin dicapai. sesama dalam kelompok dan masyarakat. Budaya komunikasi dalam konteks komunikasi organisasi harus dilihat dari berbagai sisi. Sisi pertama adalah komunikasi antara atasan kepada bawahan. Sisi kedua antara pegawai yang satu dengan pegawai yang lain. Sisi ketiga adalah antara pegawai kepada atasan. Masing-masing komunikasi tersebut mempunyai polanya masing-masing.

Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi.

Komunikasi merupakan sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam perkantoran. Menurut Kohler ada dua model komunikasi dalam rangka meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan perkantoran ini. Pertama, komunikasi koordinatif, yaitu proses komunikasi yang berfungsi untuk menyatukan bagian-bagian (subsistem) perkantoran. Kedua, komunikasi interaktif, ialah proses pertukaran informasi yang berjalan secara berkesinambungan, pertukaran pendapat dan sikap yang dipakai sebagai dasar penyesuaian di antara sub-sub sistem dalam perkantoran, maupun antara perkantoran dengan mitra kerja. Frekuensi dan intensitas komunikasi yang dilakukan juga turut mempengaruhi hasil dari suatu proses komunikasi tersebut.

Dalam hal komunikasi yang terjadi antar pegawai, kompetensi komunikasi yang baik akan mampu memperoleh dan mengembangkan tugas yang diembannya, sehingga tingkat kinerja suatu organisasi (perkantoran) menjadi semakin baik. Dan sebaliknya, apabila terjadi komunikasi yang buruk akibat tidak terjalinnya hubungan yang baik, sikap yang otoriter atau acuh, perbedaan pendapat atau konflik yang berkepanjangan, dan sebagainya, dapat berdampak pada hasil kerja yang tidak maksimal.

Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feed back yang tepat terhadap perubahan perilaku, yang direkflesikan dalam kenaikan produktifitas.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang merupakan salah satu organisasi formal di lingkungan aparatur pemerintah yang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan khususnya kota Palembang. Program-program kerja yang dirancang bertujuan untuk menmpromosikan dan melindungi bidang kepariwisataan yang merupakan aset negara yang sangat penting sehingga sangat diharapkan kinerja yang optimal yang dapat diwujudkan melalui peranan komunikasi yang efektif supaya dapat memenuhi peran dan fungsinya sebagai aparat pemerintah yang mengabdikan dirinya pada bangsa dan negara ini.

Melihat pengaruh yang sangat penting antara proses komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi khususnya komunikasi interpersonal antar pegawai dengan tingkat kinerja pegawai maka penulis tertarik mengambil judul “Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.”

1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan berikut :
1. Masih kurangnya komunikasi interpersonal yang terjadi antar pegawai.
2. Masih banyak ditemukan kendala atau hambatan-hambatan dalam melakukan komunikasi interpersonal.
3. Kurang optimalnya kinerja pegawai akibat buruknya proses komunikasi interpersonal yang terjadi.

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kinerja pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang ?”.

Read More »»

PESAN KOMUNIKASI POLITIK ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR) DALAM GERAKAN DEMOKRASI DI INDONESIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KALANGAN NAHDLIYIN (KM-05)

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah

Memasuki tiga dasawarsa terakhir dipenghujung abad ke-20, ada satu fenomena menarik di tengah-tengah masyarakat dunia, khususnya bangsa Indonesia, yaitu menguatnya tuntutan akan demokratisasi. Menguatnya tuntutan ini lantaran demokrasi dipandang sebagai sistem yang mampu mengantar masyarakat ke arah transformasi sosial politik yang lebih ideal. Demokrasi dinilai lebih mampu mengangkat harkat manusia, lebih rasional, dan realitis, untuk mencegah munculnya suatu kekuasaan yang dominan, represif, dan otoriter.


Demokrasi dapat dimengerti sebagai suatu sistem politik di mana semua warga negara memiliki hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu yang diadakan secara periodik dan bebas, yang secara efektif menawarkan peluang pada masyarakat untuk mengganti elit yang memerintah. Menurut Sundaussen dalam Murod (1999:59), demokrasi juga bisa dipahami sebagai suatu “policy” di mana semua warga menikmati kebebasan untuk berbicara, kebebasan berserikat, mempunyai hak yang sama di depan hukum, dan kebebasan untuk menjalankan agama yang dipeluknya. Meskipun begitu, Sundaussen meyakini bahwa tidak semua manifestasi-manifestasi tentang demokrasi di atas pernah dijalankan sepenuhnya, bahkan dalam suatu sistem yang demokratis sekalipun.
Setelah orde baru tumbang dan Indonesia secara dramatis sudah melangkah ke tahap institusionalisasi demokrasi, sebetulnya perubahan-perubahan penting telah banyak terjadi. Minimal dari segi pranata, legal dan institusional. Kita sudah melaksanakan pemilu legislatif dan pemilihan presiden secara langsung, kemudian banyak ritual-ritual demokrasi dimana partisipasi rakyat itu bisa diinstitusionalisasi berlangsung secara berkala dan reguler. Partai dibebaskan untuk berdiri, Indonesia mengalami periode dimana liberalisasi politik berpuncak pada multi partai yang luar biasa besar. Kondisi ini dapat dikatakan sebagai point of no return. Sejauh kita bertekad untuk meneruskan mekanisme politik seperti ini secara legal dan konstitusional.
Undang-Undang Dasar 1945 sudah menjamin proses itu berlangsung terus. Beberapa perubahan penting yang cukup mendasar, salah satunya adalah desentralisasi. Sekarang dalam tahap menuju desentralisasi demokrasi. Memang kita akui mengandung banyak sekali kelemahan, banyak pertikaian yang tidak perlu, dan banyak sekali benturan kepentingan yang sengit agar desentralisasi betul-betul bermakna desentralisasi demokrasi maupun desentraliasi kekuasaan. Suasana ini sudah berlangsung sebagai basis bagi kehidupan berkala kita selama lima tahun proses sirkulasi kekuasaan. Hanya saja, siapa yang memanfaatkan situasi ini, memanfaatkan institusi ini, memanfaatkan mekanisme dan prosedur yang sudah demokratis seperti ini. Kita tahu bahwa yang berhasil memanfaatkan secara maksimal ternyata adalah aktor-aktor politik. Hal ini bisa dilihat pada semangat elit politik mendirikan partai politik guna meraih kekuasaan.

Jadi yang kita pahami menyangkut gerakan demokrasi di Indonesia adalah berbasis aktor. Penulis mengasumsikan itu sebagai upaya berbagai kelompok aktor di kalangan masyarakat Indonesia, dan itu bisa berbagai variasi, yang berusaha memperkuat institusi-insitusi demokrasi pada tingkat yang lebih jauh, yaitu politik demokratisasi. Termasuk juga bagaimana demokrasi harus diberi konteks sosial kultural.

Diantara aktor politik yang turut berperan dalam gerakan demokrasi di Indonesia adalah KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Sebagai mantan presiden RI keempat hasil koalisi poros tengah dan mantan ketua Umum NU selama tiga periode, Gus Dur sangat dikenal sebagai tokoh yang “nyeleneh”, vokal, dan kontroversi. Sebagai contoh kasus pencabutan SIUPP Monitor tahun 1990, di saat mayoritas umat Islam mengecam angket yang dibuat Tabloit Monitor, Gus Dur justru sebaliknya mengecam tindakan tersebut. Kecaman Gus Dur ini bukan semata-mata membela Monitor, namun sikap umat Islam dalam pandangannya sudah kelewat batas. Dalam pengertian, sikap umat Islam justru sudah mengarah pada sikap anti-demokrasi, misalnya meminta pencabutan terhadap Harian kompas dan Gramedia Group. Gus Dur menyatakan tidak setuju menyelesaikan masalah hanya dengan pencabutan SIUPP saja tanpa mengedepankan perkara ke pengadilan.

Gayanya yang seperti “pemain ketoprak” ini oleh Abdurraman Wahid sudah dirajut semenjak dia mulai berkecipung dalam discourse pemikiran pada awal 1970-an. Hanya saja lantaran setiap lontaran pemikirannya dipandang tidak lazim untuk zamannya, penuh kontroversi, dan selalu membuat orang “terkejut”, tidak heran bila ada atau bahkan banyak yang menganggap Gus Dur sebagai cendekiawan Muslim penuh kontroversi, dan aneh. Predikat ini secara konsisten dipertahankannya hingga sekarang (Murod, 1999: 86).

Predikat ini tampaknya cukup tepat, bila mengamati sikap dan pemikiran politik Abdurrahman Wahid, sejak kemunculannya sebagai seorang scientist sampai kemudian menjadi seorang aktor politik (political player) yang cukup mumpuni, atau sebagai politisi paling ulung di era 1990-an, menurut Salim Said dalam Murod (1999:86). Dalam berbagai sepak terjangnya, Abdurrahman Wahid nyaris selalu berseberangan dengan mainstream sebagian cendekiawan Islam.

Secara faktual asumsi ini tak bisa dibantah, hanya saja menurut Al-Zastrouw (1994:2), bila dikaji secara lebih jauh apa yang dilakukan Abdurrahman Wahid sebenarnya hal yang wajar dan biasa terjadi dalam proses kehidupan. Jika dikatakan aneh dan kontroversi itu lantaran keberaniannya untuk berbeda dan keluar dari kelaziman. Ini diperkuat Emha Ainun Nadjib yang menyebut Abdurrahman Wahid sebagai “orang gila” dalam sejarah. “Orang gila” yang dimaksud Emha Ainun Najib adalah orang yang menggagas apa yang tidak digagas orang lain, memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain, dan membayangkan apa yang tidak dibayangkan orang lain (1993:12).

Sementara Hakim (dalam murod,1993:87), menyarankan bahwa untuk memahami Abdurrahman Wahid, ada tiga kunci yag harus diperhatikan, liberalisme, demokrasi, dan universalisme. Bila kita memahami dalam bingkai tiga kata kunci ini, apapun pemikiran atau langkah Gus Dur akan bisa dimaklumi. Artinya, bukan Abdurrahman Wahid yang mendahului jamannya, tetapi terkadang tidak sedikit orang yang terlalu konservatif, a-priori, picik, dan sempit pandangan dalam mengekspresikan sepak terjang Abdurrahman Wahid.

Sebelumnya, Abdurrahman Wahid juga pernah melontarkan berbagai gagasan yang terbilang aneh, seperti mengganti assalamu’alaikum menjadi “selamat pagi, sore atau malam”, menjadi juri Festifal Film Indonesia (FFI), membuka Malam Puisi Jesus Kristus di gereja, menolak bergabung dengan ICMI, di kala sebagian besar umat Islam mendambakan kehadirannya, termasuk juga keterlibatannya sebagai ketua di Forum Demokrasi (Fordem), serta kunjungannya ke negara Zionis, Israel.

Bukan hanya itu, dalam konteks pergulatan politik di tingkat elit, Abdurrahman Wahid juga terbilang kontroversi dan vokal. Karenanya tidak mengherankan kalau kemudian ia sering terhalang oleh berbagai rintangan. Akhir 1998-an sampai dengan pertengahan 2004 merupakan masa penuh tantangan bagi Abdurrahman Wahid dalam konstelasi politik nasional.

Dalam rangka membangun demokrasi di Indonesia, Abdurrahman Wahid bersama tiga tokoh nasional lainnya, M. Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengadakan pertemuan politik di Ciganjur hingga melahirkan deklerasi Ciganjur (10/11/1998), disamping merupakan peristiwa ‘langka’, memiliki makna signifikan bagi gerakan demokrasi di Indonesia.

Menurut Alfian (2001:36), setidaknya ada tiga makna signifikan atas pertemuan Ciganjur. Pertama, ia bermakna mendalam bagi kemajuan pendidikan politik secara luas. Ini terlihat dari delapan butir kesepakatan, yang menekankan orientasi persatuan dan kesatuan bangsa secara utuh, pengembalian kedaulatan rakyat, desentralisasi pemerintahan, perspektif reformasi untuk generasi baru, pemilu yang independen, penghapusan dwifungsi ABRI, pengusutan harta kekayaan Soeharto, dan pembubaran pengamanan swakarsa SI MPR.

Kedua, ia bermakna signifikan bagi perkembangan konstruktif Indonesia masa depan, tatkala kini kebekuan (kultur) politik terjadi. Munculnya kekuatan-kekuatan politik baru, yang mewujud dalam banyaknya partai politik baru, merupakan fenomena yang perlu dijawab dengan sikap-sikap kedewasaan dalam pergaulan politik nasional.
Ketiga, ia mengawali sebuah ‘tradisi baru’ bagi upaya membangun demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia. Tradisi ini menyiratkan pentingnya duduk bersama untuk merundingkan masalah-masalah bersama, dalam konteks reformasi dan kebangsaan.
Deklerasi Ciganjur merupakan starting point bagi elit politik untuk meneruskan gerakan demokrasi di Indonesia pasca kejatuhan orde baru, peristiwa ini juga merupakan jempatan bagi Abdurrahman Wahid menjadi presiden RI ke-empat.

Peristiwa yang cukup spectacular dalam kehidupan politik Gus Dur juga nampak ketika ia membacakan dekrit presiden dengan maksud membubarkan parlemen DPR dan MPR, ia menganggap tindakan dewan sudah melampaui batas dan keluar dari koridor demokrasi, namun tindakan ini jadi bumerang bagi Gus Dur yang berakibat harus turun dari jabatannya sebagai presiden.

Sikap Gus Dur bertendensi politis lainnya yang masih aktual adalah ketika ia memilih Golput (golongan putih) dalam pemilihan presiden secara langsung 2004. Gus Dur melakukan hal itu sebagai protesnya atas kecurangan, pemihakan, manipulasi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menurutnya melanggar sejumlah undang-undang Pemilu.

Sekalipun atas nama pribadi, sikap golput KH. Abdurrahman Wahid tersebut diduga berdampak pada peran serta masyarakat dalam pemilihan presiden secara langsug, hal ini dapat dilihat pada rekapitulasi KPU dari 155.048.803 pemilih terdaftar, lebih dari 36 juta di antaranya tidak mempergunakan hak pilihnya (golput). Jumlah ini jauh lebih tinggi dari perolehan suara pasangan Megawati Soekarnoputri dan KH. A. Hasyim Muzadi yang berada di urutan kedua dengan 31,5 juta suara (26,6 %). Perilaku golput ini meningkat pada pelaksanaan pilpres II menjadi 44 juta lebih besar dari perolehan suara pasangan Mega-Hasyim yang tetap diurutan kedua dengan 43,2 juta suara (39,1 %).

Pilihan golput masyarakat terjadi di semua kota di Indonesia, seperti juga di Samarinda tempat penelitian ini dilakukan, Sebanyak 32,52 persen atau 683.635 pemilih yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) tidak menggunakan hak suaranya alias golput dalam Pilpres putaran kedua 20 September 2004. Angka ini meningkat dibandingkan dengan Pilpres putaran pertama yang mencapai 29,95 persen atau 607.483 pemilih dari jumlah pemilih terdaftar sebanyak 2.028.160 orang.

Sebagai seorang tokoh NU dan telah menjadi ketua umum selama tiga periode, manuver politik Gus Dur tak lepas dari perjalanan NU. Melalui partai politik PKB yang berbasis massa warga nahdliyin. Agaknya Gus Dur hendak mengangkat derajat politik di kalangan NU. Hal ini setidaknya, terbaca dalam dua hal. Pertama, Gus Dur sengaja memunculkan namanya dengan legitimasi pimpinan NU yang memiliki banyak pengikut sebagai repsentasi kelompok informal-luar sistem.

Kedua, Gus Dur berhasil memantapkan dirinya sebagai poros politik dominan ditubuh NU walaupun ditubuh NU terbelah dalam beberapa partai politik, bahkan lebih dari itu Gus Dur telah menjadi tokoh nasional dan internasional (Alfian, 2001:35)
Melihat banyaknya aktivitas Gus Dur yang mengandung pesan politik dalam gerakan demokrasi di Indonesia dan diduga turut mempengaruhi perilaku politik rakyat Indonesia khususnya warga NU menjadi sangat menarik untuk diteliti lebih mendalam.

Rumusan Masalah
Bagaimana pesan komunikasi politik Gus Dur dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia pada kalangan Nadliyin di Samarinda ?
Bagaimana perilaku Kalangan Nahdliyin dalam Menerima Pesan Gus Dur?
Bagaiman pengaruh pesan komunikasi politik Gus Dur di kalangan nahdliyin Samarinda ?

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini sesuai dengan permasalahan yang diangkat, yaitu untuk:
Untuk menganalisis bentuk pesan komunikasi politik Gus Dur dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia pada kalangan Nadliyin di Samarinda.
Untuk menganalisis perilaku Kalangan Nahdliyin dalam menerima Pesan politik Gus Dur.
Untuk menganalisis pengaruh pesan komunikasi politik Gus Dur di kalangan Nahdliyin Samarinda.

Read More »»

ANALISIS KONEKSITAS KOMUNIKASI ORGANISASI KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU PAREPARE TERHADAP PERCEPATAN PEMBANGUNAN EKONOMI KAWASAN ... (KM-04)

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Pembangunan Nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kemampuan nasional dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperhatikan tantangan perkembangan global (Tap. MPR No. IV/MPR/1999).

Dalam mengimplementasikan pembangunan nasional senantiasa mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, serta kokoh, baik kekuatan moral maupun etika bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan tujuan nasional, sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu :
Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Pernyataan di atas merupakan cerminan bahwa pada dasarnya tujuan pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan kehidupan masyarakat Indonesia yang sejahtera, lahiriah maupun batiniah. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia merupakan pembangunan yang berkesinambungan, yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Agar pembangunan yang dilaksanakan lebih terarah dan memberikan hasil dan daya guna yang efektif bagi kehidupan seluruh bangsa Indonesia maka pembangunan yang dilaksanakan mengacu pada perencanaan yang terprogram secara bertahap dengan memperhatikan perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu pemerintah merancang suatu perencanaan pembangunan yang tersusun dalam suatu Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), dan mulai Repelita VII diuraikan dalam suatu Repeta (Rencana Pembangunan Tahunan), yang memuat uraian kebijakan secara rinci dan terukur tentang beberapa Propenas (Program Pembangunan Nasional). Rancangan APBN tahun 2001 adalah Repeta pertama dari pelaksanaan Propenas yang merupakan penjabaran GBHN 1999-2004, di samping merupakan tahun pertama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.

Sejak repelita pertama (tahun 1969) hingga repelita sekarang (tahun1999) telah terealisasi beberapa program pembangunan yang hasilnya telah menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat, baik aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya. Meskipun realisasi pembangunan telah menyentuh dan dinikmati oleh hampir seluruh masyarakat, namun tidak berarti terjadi secara demokratis. Dengan kata lain, hasil-hasil pembangunan tersebut belum mampu menjangkau pemerataan kehidupan seluruh masyarakat. Masih banyak terjadi ketimpangan atau kesenjangan pembangunan maupun hasil-hasilnya, baik antara pusat dan daerah atau dalam lingkup yang luas adalah kesenjangan antara Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI), khususnya pada sektor ekonomi. Salah satu kesenjangan di sektor ekonomi tersebut diantaranya adalah tidak meratanya kekuatan ekonomi di setiap wilayah, seperti tidak meratanya tingkat pendapatan (per kapita) penduduk, tingkat kemiskinan dan kemakmuran, mekanisme pasar dan lain-lain.

Dampak dari kesenjangan tersebut telah menimbulkan beberapa gejolak dalam bentuk tuntutan adanya pemerataan pembangunan maupun hasil-hasilnya, dari dan untuk setiap wilayah di Indonesia. Untuk mengurangi bahkan menghilangkan kesenjangan tersebut pemerintah telah menempuh beberapa kebijaksanaan pembangunan diantaranya dengan memberlakukan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang pada prinsipnya merupakan pelimpahan wewenang pusat ke daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah.
Khusus pada pengembangan Kawasan Timur Indonesia, pemerintah telah menempuh pula suatu kebijaksanaan pembangunan sektor ekonomi untuk setiap kawasan andalan di setiap propinsi KTI, yakni melalui Keppres Nomor 8 tahun 1996 dengan menetapkan 13 Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). Aktualisasi dari pelaksanaan Keppres tersebut adalah dengan pembentukan suatu lembaga khusus Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia (DP-KTI), dan lembaga ini telah menetapkan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) untuk wilayah andalan Propinsi Sulawesi Selatan, yakni Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare yang meliputi lima wilayah, yakni Kotamadya Parepare, Kabupaten Barru, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, dan Kabupaten Enrekang. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare berpusat di Kotamadya Parepare.

Pertimbangan utama pembentukan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare adalah dalam rangka memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan, khususnya pada sektor ekonomi bagi daerah hinterland (sekitarnya) kelima Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare tersebut dengan memberikan peluang bagi para investor, baik investor asing maupun investor luar negeri untuk berperan aktif secara lebih luas di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Hal ini ditegaskan dalam Keppres Nomor 164 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare, sebagai berikut:

Bahwa dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di Kawasan timur Indonesia, khususnya Propinsi Sulawesi Selatan dipandang perlu menetapkan beberapa wilayah tertentu sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu yang berpusat di Kotamadya Parepare.


Dengan demikian pembentukan KAPET Parepare tersebut merupakan salah satu wujud nyata tindakan antisipatif pemerintah dalam rangka memasuki dan menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan yang ketat dan semakin kompetitif.

Bila ditinjau dari pembentukannya, KAPET Parepare hadir satu tahun lebih dahulu dibanding pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, dan bagi KTI, khususnya Propinsi Sulawesi Selatan, kehadiran KAPET Parepare memiliki arti yang lebih penting karena sifatnya yang lebih “khusus” dan “focus” terhadap upaya memacu dan mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan. Namun di lain pihak pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 diharapkan dapat berperan sebagai instrumen pendukung operasional kinerja dan visi KAPET Parepare sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi, yaitu terwujudnya wilayah KAPET Parepare sebagai kawasan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat menggerakkan perekonomian wilayah melalui percepatan pembangunan ekonomi yang didasarkan atas potensi sektor/komoditas unggulan serta keterkaitan antar wilayah yang berbasis kemandirian lokal.

Sejak kehadirannya, kinerja KAPET Parepare telah melakukan upaya-upaya pendayagunaan potensi daerah, namun sampai saat ini pertumbuhan ekonomi belum mampu mencapai angka optimal. Menurut penulis, hal tersebut disamping disebabkan oleh keterbatasan kemampuan daerah itu sendiri, khususnya dalam hal working capital (permodalan kerja), disebabkan pula oleh kurang terjalinnya komunikasi atau hubungan kerja organisasi antar kelima wilayah KAPET Parepare tersebut.

Hal tersebut menunjukkan bahwa konsekuensi dari upaya percepatan pembangunan ekonomi kawasan tersebut diperlukan adanya working interaction (interaksi kerja) dalam konteks working connection (hubungan kerja) organisasi yang terkoordinasi secara terbuka dan profesional antar kelima wilayah KAPET Parepare tersebut, diantaranya dalam bentuk interconnection (koneksitas) kebijakan-kebijakan organisasi, seperti koordinasi, sosialisasi, sinergis, dan evaluasi pelaksanaan program maupun hasilnya bagi kelima wilayah KAPET Parepare tersebut.
Dengan terjalinnya interconnection (koneksitas) antar kelima wilayah KAPET Parepare dalam bentuk interaksi komunikasi organisasi dalam kapasitasnya sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan percepatan pembangunan ekonomi secara terpadu, efektif dan efisien di setiap daerah hinterlandnya.

Dalam penelitian ini, penulis membatasi diri pada koneksitas dalam konteks komunikasi organisasi antar kelima wilayah KAPET Parepare tersebut, yang berkaitan dengan usaha-usaha yang mengarah pada percepatan pembangunan ekonomi untuk setiap daerah-daerah hinterlandnya dalam Propinsi Sulawesi Selatan.


Berangkat dari pemikiran di atas, maka penulis berusaha mengkaji lebih cermat tentang koneksitas antar kelima wilayah KAPET Parepare tersebut dalam kaitannya dengan usaha percepatan pembangunan ekonomi masing-masing daerah hinterlandnya serta faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya, dengan melakukan penelitian yang berjudul:
Analisis Koneksitas Komunikasi Organisasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Parepare terhadap Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Hinterland.

Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi, sebagaimana yang dikemukakan pada latar belakang masalah, maka melahirkan beberapa butir permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana koneksitas komunikasi organisasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Parepare ?
2. Bagaimana percepatan pembangunan ekonomi daerah hinterland Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare ?
3. Sejauh mana pengaruh dan hubungan koneksitas komunikasi organisasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare terhadap percepatan pembangunan ekonomi daerah hinterlandnya ?



Read More »»

STRATEGI MEMENANGKAN PERSAINGAN DALAM PEMASARAN SURAT KABAR HARIAN DI MAKASSAR KASUS FAJAR, TRIBUN TIMUR DAN PEDOMAN RAKYAT (KM-03)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tertulis dalam sejarah Indonesia bahwa, pada tahun 1999 Indonesia melakukan perubahan besar yaitu masyarakat menuntut kebebasan yang disebut reformasi, masa ini masyarakat menuntut transparansi dari pemerintah. Pers dalam hal ini ikut mengambil bagian terpenting dan menguntungkan, karena semua warga negera Indonesia berhak untuk mendirikan perusahaan pers.


Hal ini membuat bisnis dibidang pers mengalami persaingan yang sangat ketat karena itu industri pers dituntut untuk mengemas produk informasinya lebih canggih lagi mengingat bisnis informasi sudah menjadi trend diawal millenium III.
Dalam bidang informasi, menguasai pangsa pasar dan masuk dalam persaingan ketat antara perusahaan menjadi bagian terpenting dan tidak bisa dielakkan karena masyarakat penikmat informasi menjadikan berita sebagai kebutuhan sehar-hari yang tidak bisa diabaikan keberadakannya. Oleh karena itu, kehadiran media informasi baik milik pemerintah maupun swasta sangat menunjang pengadakan informasi dan itu sangat diperlukan. Informasi itu bisa melalui media cetak maupun elektronik.

Dalam persaingan media massa, selain media cetak sendiri, media elektronikpun (radio dan Televisi) dan media internet walaupun hanya satu persen bangsa Indonesia yang terkait ke internet, juga melakukan persaingan namun tidak separah dengan persaingan media cetak, karena kita mengenal lokalisasi media yang menjadi ancaman langsung bagi media nasional seperti surat kabar daerah, majalah daerah.

Karena itu, saat ini bisnis surat kabar pada saat ini merupakan bisnis yang menggiurkan bagi pengusaha-pengusaha pers, selama masyarakat Indonesia masih terikat dalam media konvensional, namun hal ini perusahaan pers perlu manajemen yang baik untuk mencapai tujuan perusahaan dalam persaingan persuratkabaran dewasa ini.
Dalam hal ini perusahaan pers yang berusaha menciptakan produk, guna memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Karena demikian besar dan ketatnya persaingan yang mendominasi dunia usaha dewasa ini, dimana perusahaan berlomba menguasai pangsa pasar.

Namun dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan, seringkali perusahaan tersebut dihadapkan pada berbagai kesulitan, misalnya kesulitan merebut pangsa pasar yang lebih luas sebagai akibat dari persaingan antara perusahaan untuk mengatasi keadakan tersebut diatas.
Memperhatikan kepuasan kepada konsumen dan masyarakat merupakan tujuan utama suatu perusahaan yang menganut konsep pemasaran yang mengajarkan bahwa rumusan strategi pamasaran sebagai suatu rencana yang diutamakan untuk mencapai tujuan tersebut, harus berdasarkan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Konsumen perusahaan bukanlah merupakan tindakan khusus, tetapi lebih merupakan pernyatakan yang menunjukkan usaha-usaha pokok diarahkan untuk mencapai tujuan. Strategi pemasaran itu sendiri terdiri dari unsur-unsur pemasaran terpadu yaitu product, price, place, dan promotion (komunikasi pemasaran) yang selalu berubah-ubah sejalan dengan aktivitas perusahaan dan perubahan lingkungan pemasarannya serta perubahan prilaku konsumennya.

Dengan adanya perusahaan dalam masyarakat, pola beli yang berubah-ubah telah mengakibatkan banyaknya perusahaan hidup dalam situasi yang tidak menentu sehingga para pengusaha dituntut untuk mendalami pengetahuan tentang strategi bersaing yang mana merupakan salah satu aspek yang dapat memperlancar tujuan perusahaan yang ingin dicapai.

Beberapa perusahaan pers di Makassar yang telah melayani segmen pembaca surat kabar kini mengalami panetrasi pasar dan produk bersaing dalam era globalisasi informasi ini.

Persaingan terdapat dari suatu industri yang mengejar pasar sasaran yang sama. Strategi bersaing meliputi penentuan posisi dalam suatu untuk memaksimalkan nilai kemampuan yang membedakannya dengan para pesaing, karena aspek yang sangat penting dalam perumusan strategi bersaing adalah analisis pesaing, yang mana sasarannya adalah pengembangan profit, sifat dan sukses dari akibat kemungkinan perubahan strategi yang dapat dilakukan oleh tiap-tiap pesaing.
Di Makassar ada tiga perusahaan surat kabar yaitu harian Fajar Tribun Timur dan Pedoman Rakyat yang dianggap mempunyai persaingan dalam pemasaran. Mereka dituntut bagaimana dapat mempertahankan perkembangan pemasarannya

B. Permasalahan
Strategi apa yang diterapkan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam memenangkan persaingan dalam pemasaran.
Pertanyakan Penelitian :
1. Apakah strategi pemasaran yang dilakukan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dapat meningkatkan oplah penjualan ?
2. Apakah bauran pemasaran yang digunakan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat berbeda dalam mempertahankan pangsa pasarnya?


Read More »»

PERANAN MEDIA KOMUNIKASI (RADIO SWASTA) DALAM MENINGKATKAN TINGKAT KEPEDULIAN MASYARAKAT DI KOTAMADYA YOGYAKARTA (KM-02)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sepintas lalu, hubungan lingkungan hidup dengan komunikasi mungkin tidak nampak. Namun kalau dipikirkan secara lebih mendalam, lingkungan hidup sebenarnya merupakan konsep yang sangat relevan bagi komunikasi ditinjau dari berbagai segi.


Pertama, dipandang dari segi luas, komunikasi hanya berarti dalam konteks lingkungan hidup. Pada intinya. komunikasi adalah proses yang menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya Tanpa komunikasi manusia jadi terpisah dari lingkungan. Namun tanpa lingkungan komunikasi menjadi kegiatan yang tidak relevan. Dengan kata lain, manusia berkomunikasi karena perlu mengadakan hubungan dengan lingkungannya, meskipun caranya berbeda tergantung lingkungan yang dihadapi, umpamanya dengan lingkungan sosial tertentu.
Kedua, secara langsung atau tidak sebagian besar komunikasi manusia sebenarnya menyangkut atau bertitik tolak pada informasi tentang lingkungannya. Baik mengenai benda fisik dan komponen lingkungan itu, prinsipnya yang mengatur hubungan antara komponen tersebut, proses dan cara kerjanya, ataupun gagasan dan keinginan yang ada dalam otak manusia mengenai bagaimana seharusnya lingkungan itu. Ini bukanlah hal baru. Pengetahuan dan konsep yang ada pada seseorang dibentuk pertama kali oleh lingkungannya, atau berdasar kepada hal-hal yang diamati dari lingkungan. Andaikata ia kemudian belajar tentang hal-hal mengenai lingkungan yang lain, informasi itu pun akan selalu mengacu atau dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Itulah sebabnya maka komunikasi biasanya lebih lancar dan lebih efektif jika menyangkut atau berkaitan dengan lingkungan yang telah dikenalnya. Dapat dikatakan komunikasi akan makin berarti bagi seseorang jikalau informasi yang disampaikan makin terkait dengan lingkungan orang itu.
Berkaitan erat dengan ini adalah relevansi lingkungan yang ketiga, yaitu dari segi fungsi komunikasi. Seperti yang dikemukakan banyak pakar, bahwa salah satu fungsi penting komunikasi bagi manusia dalam masyarakat adalah pengamatan lingkungan. Di mana ada media, fungsi ini terbantu dengan komunikasi massa yang diharapkan menyampaikan hasil pengamatan secara teratur dan sistematik. Dimana tidak ada media, fungsi ini dilakukan melalui komunikasi interpersonal dan sosial. Orang saling bertanya dan bertukar informasi setiap hari untuk mendapatkan gambaran mengenai perubahan yang terjadi dan keadaan terakhir (termasuk ancaman, bahaya maupun keadaan yang menguntungkan) yang berkembang di sekitaraya, agar mereka dapat menyesuaikan kehidupannya, sebaik mungkin (M. Alwi Dahlan, 1987: 2-3).
Oleh karena itu informasi yang diperoleh melalui berbagai media massa memegang peranan sangat penting dalam membentuk sikap mental masyarakat agar dapat berperan secara aktif dalam pelaksanaan pembangunan umumnya dan terhadap kesadaran untuk aktif menjaga kelestarian lingkungan khususnya. Namun dalam pemberian informasi kepada masyarakat ada masalah-masalah yang harus dihadapi;
1. Pemastian penerimaan informasi.
2. Informasi lintas batas (transfrontier).
3. Informasi tepat waktu (timely information).
4. Informasi lengkap (comprehensive information).
5. Informasi yang dapat dipahami (comprehensible information)
(Koesnadi, 1988: 141-144).
Adanya permasalahan ini menuntut bahwa informasi yang dibutuhkan, diharapkan akan memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan bagi masyarakat. Kedudukan masyarakat amat penting karena keefektifannya bertindak selaku pengawas terhadap setiap adanya permasalahan lingkungan sehingga diharapkan dengan secepatnya kondisi tersebut diantisipasi dan dikembalikan ke keadaan semula.
Dengan makin berkembangnya teknologi komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan dan kelestarian lingkungan, sebenarnya masalah kecepatan, daya jangkau, ketepatan, volume maupun jenis informasi yang dapat diberikan kepada masyarakat sudah tidak lagi menjadi permasalahan. Dalam kenyataannya masyarakat masih banyak yang belum memahami apa yang seharusnya diketahui mengenai lingkungan sekitarnya terutama terhadap kegiatan-kegiatan yang memungkinkan timbulnya masalah lingkungan. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat, akhir-akhir ini masalah lingkungan banyak menarik perhatian terutama dari media massa yang meliput secara langsung atau berdasarkan laporan dari masyarakat yang terkena dampak masalah lingkungan.
Dari ketentuan Undang Undang No. 4 Tahun 1982 Pasal 9 tentang Lingkungan Hidup yang berbunyi;
"Pemerintah berkewajiban menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat akan tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan, dan penelitian tentang lingkungan hidup".

serta penjelasannya;
"Pendidikan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat dilaksanakan baik melalui jalur pendidikan formal mulai dari taman kanak-kanak atau sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi maupun melalui jalur pendidikan nonformal"

penyebarluasan informasi lingkungan dapat dilaksanakan melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan secara formal maupun non formal. Dengan makin berkembangnya kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup maka dikeluarkanlah peraturan perundangan lingkungan hidup yang baru yaitu Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang merupakan penyempurnaan dari Undang Undang No. 4 Tahun 1982. Selanjutnya Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup ini disebut UUPLH.

Dalam Pasal 10 huruf b UUPLH dengan tegas disebutkan bahwa;
“Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup”

dalam penjelasannya;
“Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan, bimbingan, serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia”

Berbagai bentuk informasi lingkungan wajib diberikan pemerintah kepada masyarakat untuk peningkatan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam mengelola lingkungannya. Jika dikaitkan dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPLH yang menyebutkan;
“Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup”

maka tanggung jawab terhadap lingkungan bukan hanya terletak kepada pemerintah saja tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan karena baik secara langsung maupun tidak langsung masyarakat merasakan dampak negatif dari kerusakan lingkungan itu. Dengan dasar pemikiran itu penggunaan berbagai media massa sangat menunjang berbagai bentuk usaha peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Dari dua bentuk media massa yaitu media elektronik dan media cetak, radio merupakan salah satu media elektronik yang berfungsi sebagai media penyampaian informasi dan dinilai mampu untuk menjangkau segala lapisan masyarakat. Oleh karena itu rasio memegang peranan pentin dalam menumbuhkan dan membina sikap mental masyarakat dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah lingkungan.
Dari ketentuan Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang No. 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi yang menyatakan bahwa;
"Penyelenggaraan telekomunikasi untuk keperluan khusus dapat dilakukan oleh instansi pemerintah tertentu, perseorangan, atau badan hukum selain badan penyelenggaraan dan badan lain sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)"

maka secara jelas dinyatakan bahwa di samping pemerintah selaku pembina dan penyelenggara telekomunikasi pihak swasta dapat juga berperan serta baik perseorangan maupun badan hukum. Ketentuan ini berimplikasi kepada media elektronik, televisi maupun radio, sehingga pada saat ini telah berdiri sejumlah televisi swasta dan radio swasta.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat media komunikasi milik pemerintah, TVRI dan RRI, dan media komunikasi swasta, yaitu radio siaran swasta FM dan AM yang dapat digunakan untuk penyampaian informasi mengenai masalah lingkungan Informasi ini dapat dikemas dalam bentuk acara khusus maupun dengan memasukkan pesan ke dalam acara tertentu.
Peranan penting TVRI, RRI, dan radio swasta adalah dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran lingkungan sehingga peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat meningkat.

B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana peranan radio siaran swasta dapat meningkatkan dan memberikan
bekal pengetahuan mengenai lingkungan kepada masyarakat dikaitkan dengan
ketentuan Pasal 10 huruf b UUPLH?
2. Dari ketentuan yang telah ada yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun
1970 tentang Radio Siaran Non-Pemerintah, berutama mengenai fungsinya sebagai alat pendidikan dan alat penerangan, apakah ketentuan ini sudah dapat berjalan seperti yang diharapkan oleh ketentuan Pasal 10 huruf b UUPLH ?
3. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap adanya program atau acara yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan yang dikelola oleh radio siaran swasta?

Read More »»

Membangun Aplikasi Layangan Pengiriman E-mail to SMS dan SMS to E-mail berbasis SMS Gateway (IK-19)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada era informasi yang kita alami saat ini bermacam sarana telekomunikasi berkembang dengan sangat pesat dan dengan mudah kita dapatkan baik itu dari telepon kabel, telepon seluler hingga satelit berkembang dengan sangat pesatnya sehingga kita dengan mudah bisa menikmatinya, perkembangan teknologi telekomunikasi yang ditandai dengan kehadiran sejumlah piranti komunikasi mutakhir dimana setiap orang dapat mengolah memproduksi serta mengirimkan ataupun menerima segala bentuk pesan komunikasi dimana saja dan kapan saja seolah-olah tanpa mengenal batasan ruang dan waktu.


Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat ini sangat berpengaruh langsung terhadap kehidupan umat manusia adalah internet dan telepon seluler, internet memberikan kemudahan dalam mengakses informasi yang sangat berharga dan sangat murah yang tidak bergantung pada lokasi dimanapun menghubungkan jarak yang begitu jauh untuk berkomunikasi, perkembangan teknologi selalu mempunyai peranan yang sangat tinggi dan ikut memberikan arah perkembangan kepada dunia multimedia, pendidikan, hiburan dan lain-lain.

Teknologi informasi adalah bagian dari media yang digunakan untuk menyampaikan pesan pada banyak orang. Kemajuan teknologi yang sangat pesat mengubah gaya hidup manusia menjadi serba mudah dan praktis. Teknologi telepon seluler yang dapat memudahkan seseorang berkomunikasi dengan orang lain dimanapun berada, Salah satu fasilitas dari telepon seluler yang banyak dipakai saat ini adalah SMS. Hal tersebut dimungkinkan karena berbagai keunggulan dan manfaat yang dimilikinya, diantaranya adalah keunggulan dari segi biaya dan kemudahan penggunaannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Perkembangan teknologi telekomunikasi memungkinkan orang mengirim dan menerima informasi dari segala penjuru dunia.melalui jaringan internet segala informasi dapat diperoleh dengan mudah. Salah satu teknologi yang paling sering digunakan yaitu pengiriman surat elektronik (e-mail) yang memungkinkan seseorang mengirim data dari tempat yang jauh dan tidak memakan waktu yang sangat lama serta biaya yang relative murah, tidak seperti pengiriman surat dari pos yang dapat memakan waktu berhari-hari dan biaya pengiriman yang mahal.

Berdasarkan uraian diatas penyusun mengambil tugas akhir dengan judul ”Membangun Aplikasi Layangan Pengiriman E-mail to SMS dan SMS to E-mail berbasis SMS Gateway”

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengidentifikasikan permasalahan diatas yaitu :
1. Bagaimana membangun aplikasi layanan pengiriman e-mail melalui sms
2. Bagaimana membangun aplikasi layanan penerimaaan e-mail melalui sms
3. Bagaimana Aplikasi yang dibuat dapat menekan biaya pengiriman e-mail ataupun sms
4. Bagaimana membangun Aplikasi yang dapat mempermudah pengguna dalam melakukan komunikasi data dimanapun.

Read More »»

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI LAYANAN INFORMASI JADWAL SHALAT DAN ARAH KIBLAT BERBASIS SMS (IK-18)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang begitu cepat diberbagai bidang termasuk dibidang telekomunikasi, memungkinkan manusia untuk berkomunikasi satu sama lain kapan saja, dimana saja, walaupun dipisahkan oleh jarak yang jauh. Pada dekade sekarang ini ada beberapa media transmisi yang dipakai dalam bidang telekomunikasi yaitu menggunakan kabel, maupun tanpa kabel (nir kabel).


Telepon seluler (ponsel) merupakan suatu contoh kemajuan dibidang telekomunikasi dengan menggunakan media transmisi tanpa kabel. Dengan menjamurnya pengguna ponsel dimana-mana, dapat dikatakan ponsel sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Selain digunakan untuk komunikasi suara dengan lawan bicara, ponsel juga memiliki kemampuan lain yaitu dapat digunakan untuk mengirim pesan teks yang lebih populer dengan nama SMS (Short Message Service).

Dengan semakin banyaknya penggunaan ponsel untuk berkirim SMS, kemudian muncul gagasan untuk membuat layanan berbasis SMS sepeti info valas, harga saham, transaksi perbankan, kuis , polling , dan lain-lain.

Layanan berbasis SMS lainnya yang tidak kalah banyak diminati masyarakat yaitu layanan yang berhubungan dengan keagamaan dan ibadah. Sebagaimana kita ketahui misalnya SMS siraman rohani, tanya jawab seputar agama, infaq dan shadaqah, dan lain-lain.

Shalat wajib lima waktu merupakan kewajiban yang harus ditunaikan sebaik mungkin sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, sesuai dengan arahan dan tuntunan Al Qur’an dan Al Hadist.
Layanan yang memberikan informasi jadwal shalat dan arah kiblat merupakan hal penting untuk membantu melaksanakan ibadah tersebut, seiring dengan bertambahnya kebutuhan masyarakat akan fasilitas-fasilitas untuk menunaikan ibadah dengan memanfaatkan teknologi yang ada.
Dengan adanya teknologi SMS dan semakin terjangkaunya harga ponsel, hanya diperlukan sebuah sistem terpusat berupa database server menggunakan personal computer yang terhubung ke sebuah terminal baik berupa GSM modem atau cukup dengan ponsel biasa untuk mengatur layanan berbasis SMS kepada pengguna.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis dapat mengidentifikasikan permasalahan bahwa layanan informasi yang berorientasi mengutamakan kepuasan pemakai tidak lepas dari hal-hal berikut :
1. Kecepatan
Informasi harus dapat diakses dengan cepat (real time)
2. Kemudahan
Informasi harus dapat diakses dengan mudah, kapan saja dan dimana saja
3. Keakuratan
Informasi harus akurat
4. Biaya yang relatif murah
Informasi harus didapatkan dengan biaya semurah mungkin dan tetap menjaga kualitas informasi
Untuk mewujudkan keempat hal di atas tentu memerlukan inovasi dan kreatifitas bagi pihak yang memberikan layanan. Salah satu inovasi dan kreativitas yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan teknologi SMS.

Read More »»

KOMPUTERISASI DATA NILAI UJI KOMPETENSI PADA SMK YIS MARTAPURA OKUT MENGGUNAKAN MICROSOFT ACCESS (IK-17)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini, penggunaan komputer semakin meluas. Hampir setiap instansi baik pemerintah maupun swasta telah menggunakan fasilitas komputer sebagai alat bantu dalam menyelesaikan pekerjaan. Pesatnya perkembangan komputer terjadi secara terus menerus seiring dengan perkembangan IPTEK.


Hal ini lebih dirasakan lagi dalam dunia pendidikan sekarang ini, karena rata-rata disekolah dan perguruan tinggi sudah menggunakan komputer sebagai penunjang belajar siswa. Hal ini disebabkan teknologi informasi yang dapat secara langsung mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Meskipun perkembangan komputer mulai merata namun masih ada pula suatu instansi / sekolah yang informasi tentang pengolahan datanya masih secara manual. Pada pengolahan data secara manual memiliki kelemahan diantaranya adalah sulit untuk menghasilkan informasi dengan cepat, dokumentasi yang tidak sulit, dan lain-lain.
Pada SMK YIS Martapura pengolahan data nilai uji kompetensinya masih menggunakan sistem manual, untuk itu dengan adanya sistem yang berbasis komputer diharapkan dapat membantu SMK YIS Martapura dalam pengolahan data nilai uji kompetensi disekolah tersebut dengan menggunakan Microsoft Access.
Berdasarkan masalah diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Komputerisasi Data Nilai Uji Kompetensi pada SMK YIS Martapura OKU menggunakan Microsoft Access”. Dengan adanya aplikasi Microsoft Access yang mengacu pada pengolahan data, maka akan sangat membantu untuk mempermudah pendataan secara efektif dan efisien.

B. Batasan Masalah
Di dalam penelitian ini penulis membatasi permasalahan hanya mengenai Komputerisasi Data Nilai Uji Kompetensi pada SMK YIS Martapura OKUT menggunakan Microsoft Access.

C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dijadikan sebagai acuan adalah bagaimana merancang dan membangun suatu komputerisasi data nilai uji kompetensi dengan menggunakan Microsoft Access ?.

Read More »»

IMPLEMENTASI PENGAMANAN BASIS DATA DENGAN TEKNIK ENKRIPSI (IK-16)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Berbagai organisasi, perusahaan, atau pun pihak – pihak lain telah memanfaatkan teknologi basis data untuk menyimpan dan mengelola data organisasi atau perusahaannya. Saat ini, keamanan terhadap data yang tersimpan dalam basis data sudah menjadi persyaratan mutlak. Pengamanan terhadap jaringan komputer yang terhubung dengan basis data sudah tidak lagi menjamin keamanan data karena kebocoran data dapat disebabkan oleh “orang dalam” atau pihak – pihak yang langsung berhubungan dengan basis data seperti administrator basis data. Hal ini menyebabkan pengguna basis data harus menemukan cara untuk mengamankan data tanpa campur tangan administrator basis data.

Kriptografi dapat digunakan untuk mengamankan data. Oleh karena itu, pengguna basis data membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan keamanan akan data yang disimpannya. Penerapan kriptografi pada Tugas Akhir ini akan difokuskan bagaimana kriptografi dapat mengamankan data sampai pada level baris (row) dan kolom (field) dengan tetap memperhatikan integritas data dan kewenangan setiap pengguna basis data. Algoritma kriptografi yang akan digunakan ialah algoritma kriptografi simetris dan bersifat stream cipher sehingga data hasil enkripsi (cipherteks) mempunyai ukuran yang sama dengan data asli (plainteks). Teknik kriptografi simetris dipilih karena diharapkan dengan algoritma ini proses enkripsi – dekripsi data dapat dilakukan dengan waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan
algoritma kriptografi kunci publik (asimetris).

Berdasarkan atas informasi diatas, penulis membuat sebuah implementasi dengan menerapkan metode sistem enkripsi simetris dalam pengamanan login aplikasi program yang dibentuk kedalam Tugas Akhir untuk menyelesaikan studi pada program Sarjana Strata Satu (S1) Sekolah Tinggi Teknik Harapan dengan judul “Implementasi Pengamanan Basis Data dengan Teknik Enkripsi”.

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, identifikasi masalahnya adalah bagaimana merancang suatu perangkat lunak pengenkripsian basis data pada data login yang dapat membantu keamanan aplikasi program dan database.


Read More »»

SISTEM INFORMASI PEMESANAN TIKET BERBASIS WEB PADA PT CARAKA TRAVELINDO MAKASSAR (IK-15)

BAB I
PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah
Pada masa sekarang ini kemajuan teknologi sangatlah pesat, perkembangannya kian hari kian meningkat dan persaingan pun kian ketat pula. Kemajuan teknologi pastinya juga bersentuhan dengan komputer. Komputer merupakan sarana komunikasi yang sangat dibutuhkan bagi setiap manusia di muka bumi ini. Hal ini dikarenakan manfaat yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dengan komponen atau alat lainnya. Komputer juga dapat memberikan informasi yang cepat, tepat dan akurat.

. Komputer juga dapat mengurangi potensi terjadinya kesalahan pengolahan data dibanding pengolahan data secara manual, tapi tentunya semua ini tergantung dari kualitas sumber daya manusia yang mengoperasikan komputer. Hanya saja penggunaan komputer ini dalam beberapa bidang, pengolahan datanya terkadang masih menggunakan aplikasi yang sederhana dan kurang kompleks sehingga dapat menyebabkan data yang dihasilkan kurang akurat dan efisien.

PT Caraka Travelindo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata yang sangatlah akrab dengan kemajuan komputerisasi. Citra dan pamor dimata masyarakat cukuplah mengangkat nama perusahaan ini. Namun di sisi lain, ditemukan masih kurangnya informasi yang diberikan perusahaan tersebut, baik informasi layanan pariwisata seperti tour dan travel maupun informasi pemesanan tiket dan objek-objek wisata yang ada di Sulawesi Selatan.

Informasi yang disampaikan melalui website Caraka Travelindo yang digunakan pada saat ini, masih dianggap kurang menyampaikan seluruh aspek-aspek yang menyangkut perusahaan ini. Sebagai contoh, apabila seseorang ingin mengetahui jadwal pesawat yang akan berangkat dan tiba, mengecek status pesawat (apakah pesawat tersebut sudah dipesan atau belum), serta pemesanan tiket haruslah berhubungan langsung pada kantor tersebut.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan inilah penulis mencoba mengembangkan sistem informasi yang telah ada dan dari penelitian ini kami mengangkat judul “Sistem Informasi Pemesanan Tiket Berbasis WEB pada PT Caraka Travelindo Makassar”.

1.2 Pokok Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka pokok permasalahan yang ditemukan adalah :
1. Banyaknya waktu yang dibutuhkan dalam melakukan proses pemesanan tiket.
2. Proses pembuatan faktur masih bersifat manual (ditulis atau diketik).
3. Informasi yang disampaikan oleh sistem yang sedang berjalan (website) hanya berupa profil perusahaan (tidak bisa melakukan pemesanan tiket dan pencarian informasi pariwisata melalui website perusahaan).

Read More »»

SISTEM INFORMASI PERUSAHAAN UMUM PEGADAIAN CABANG PANDAAN (IK-14)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Dalam era globalisasi dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terasa sangat pesat, sehingga menawarkan banyak sekali kemudahan-kemudahan dalam menjalankan aktivitasnya, baik berupa pekerjaan ringan dalam rumah tangga maupun pekerjaan rumit dalam dunia industri/perusahaan, sehingga pada akhirnya seolah-olah kita dimanjakan oleh teknologi tersebut.


Kehadiran teknologi ini dimaksudkan untuk mencapai hasil yang lebih baik dengan efisien, efektivitas dan kepresisian yang lebih tinggi. Dan ketika teknologi komputer telah merajai di berbagai bidang usaha, hal ini yang menjadi dasar penerapan dalam sebuah aplikasi nyata penggunaan media komunikasi dan pengalohan data pada perusahaan umum pegadaian di kantor cabang Pandaan Pasuruan.
Sementara ini perusahaan umum pegadaian cabang Pandaan telah menggunakan komputerisasi, namun karena sumber daya yang tidak memadai sehingga sering terjadi kesalahan dalam mengaplikasikan program yang ada. Untuk itu diperlukan upaya dalam memperbaiki program serta mengembangkan sumber daya manusia yang ada.
Dan dikarenakan luasnya usaha yang ada di perusahaan umum pegadaian maka akan kami fokuskan pada usaha utama pegadaian saja sehingga tema yang diangkat adalah “Sistem Informasi Perusahaan Pegadaian Cabang Pandaan” yang akan meliputi informasi data nasabah, data petugas, data sewa modal, data barang dan data gudang.

1.2. Rumusan masalah
Program yang ada di perusahaan umum pegadaian Pandaan memerlukan perbaikan. Perbaikan-perbaikan tersebut meliputi informasi data nasabah, data petugas, data sewa modal, data barang dan data gudang yang baik antara lain:
1. Di perusahaan umum pegadaian terdapat kekurangan dalam melaksanakan penghitungan transaksi sehari-hari karena masih menggunakan Microsoft Excel dalam penglahan data.
2. Merancang/mendesain program aplikasi yang aplikatif yang lebih tepat serta kekhususan dalam pengolahan informasi ataupun transaksi sehari-hari.
3. Mengaplikasikan sistem informasi tersebut dalam pengolahan informasi ataupun transaksi sehari-hari.

Read More »»

Perancangan Perangkat Lunak Permainan Strategi Battle Ship pada Jaringan (IK-13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sebuah permainan (game) komputer sering menggunakan sistem jaringan sehingga permainan (game) dapat dimainkan oleh beberapa orang dengan menggunakan beberapa komputer yang terhubung dalam Local Area Network (LAN).


Salah satu permainan (game) komputer yang cukup menarik adalah permainan strategi Battle Ship. Permainan ini menyediakan beberapa buah tempat yang disusun oleh kotak – kotak sebagai medan perang. Kapal – kapal perang dengan ukuran yang berbeda – beda disusun dalam medan perang masing – masing. Letak dari kapal – kapal perang ini tidak terlihat dalam komputer pemain lawan. Setiap pemain berusaha untuk menghancurkan kapal – kapal perang pemain lawan dengan cara meng-klik kotak – kotak yang dianggap sebagai letak dari kapal – kapal perang lawan. Setiap pemain hanya boleh menebak satu kali saja setiap gilirannya. Jika tebakannya tepat maka pemain tersebut mendapat tambahan satu kali tebakan. Pemain yang masih menyisakan kapal perang yang memenangkan permainan (game).
Berdasarkan uraian di atas, penulis bermaksud untuk merancang suatu perangkat lunak permainan strategi Battle Ship yang dapat dimainkan pada jaringan. Oleh karena itu, penulis mengambil topik tugas akhir dengan judul “Perancangan Perangkat Lunak Permainan Strategi Battle Ship pada Jaringan”.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pemilihan judul, maka yang menjadi permasalahan adalah bagaimana memainkan permainan strategi Battle Ship di tempat yang berbeda dengan menggunakan jaringan.

Read More »»

Perancangan Sistem Informasi Pembelian, Penjualan dan Persediaan Pada PT Golden Betelnut, Medan (IK-12)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembelian dan penjualan merupakan kegiatan yang mempengaruhi jumlah persediaan. Pembelian akan menambah jumlah persediaan, sedangkan penjualan akan menguranginya. Ketiga hal tersebut saling berkaitan dan merupakan inti kegiatan perusahaan. Informasi yang dihasilkan akan membantu manajer dalam memutuskan jumlah persediaan yang akan dibeli, maupun jumlah yang tersedia untuk dijual, serta mengontrol dan mengawasi jumlah aset persediaan perusahaan.


PT Golden Betelnut adalah bentuk usaha perseroan terbatas yang bergerak di bidang ekspor bahan rempah-rempah seperti gambir, pinang, kopra, paring dan cengkeh. Saat ini, pencatatan atas transaksi pembelian dan penjualan perusahaan masih dilakukan secara manual dan bisa dikatakan kurang memadai melihat kenyataan transaksi yang terjadi relatif besar jumlahnya, sehingga agak menyita waktu bila ingin menghasilkan laporan persediaan dalam waktu singkat. Saatnya perusahaan menerapkan sistem informasi pembelian, penjualan dan persediaan secara komputerisasi untuk mengatasi hal tersebut.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Perancangan Sistem Informasi Pembelian, Penjualan dan Persediaan Pada PT Golden Betelnut, Medan”.

1.2 Permasalahan dan Batasan Masalah
Adapun masalah yang terdapat pada PT Golden Betelnut Medan adalah pencatatan transaksi pembelian dan penjualan dilakukan melalui Microsoft ExcelTM sehingga menyita waktu ketika akan dilakukan pengecekan data kembali maupun pencarian data. Selain itu, pemrosesan laporan persediaan sering mengalami keterlambatan.
Dengan keterbatasan waktu dan agar pembahasan tidak menyimpang dari tujuan, maka Penulis melakukan pembatasan masalah sebagai berikut:

1. Transaksi pembelian dan penjualan bersifat tunai.
2. Persediaan yang dibahas menggunakan Metode Harga Rata-rata (Average Cost).
3. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah Microsoft Visual Basic 6.0 dengan Microsoft Office Access 2002 sebagai format databasenya dan Seagate Crystal Report untuk merancang laporannya.
4. Informasi yang dihasilkan berupa laporan pembelian (per tanggal, per supplier, per produk), laporan penjualan (per tanggal, per customer, per produk) dan kartu stock.


Read More »»

PENGGUNAAN ANALISIS SWOT DAN ANALISIS AHP UNTUK MENENTUKAN STRATEGI PEMASARAN PERUSAHAAN DI CV. PUSAT PENGOLAHAN KELAPA TERPADU YOGYAKARTA (TIS-03)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Persaingan didunia bisnis saat ini semakin meningkat dengan ketat, barang dan jasa yang ada di pasaran bisa memiliki keseragaman antara produk yang satu dengan produk yang lain. Hal ini dapat terjadi karena suatu produk yang sukses di pasar akan segera diikuti oleh para pesaing dengan menghasilkan produk yang sejenis dengan produk yang sukses tersebut, maka perlu adanya peningkatan didalam strategi pemasaran perusahaan agar tetap eksis di pasaran.


Banyaknya keseragaman pada produk-produk yang terdapat di pasar, membuat para konsumen dihadapkan pada banyaknya pilihan terhadap produk yang diinginkan. Informasi yang konsumen dapatkan tentang penjelasan produk dalam kemasan tersebut tidak begitu membantu konsumen dalam menentukan keputusan dalam pembelian produk.
Karena banyaknya keseragaman produk dipasaran, konsumen cenderung lebih memilih produk yang lainnya. Produk yang memiliki perbedaan akan lebih menarik perhatian konsumen dan dapat membantu konsumen untuk mengambil keputusan pembelian produk dibandingkan dengan produk yang banyak beredar dipasaran untuk fungsi yang sama. Perbedaan produk yang berhasil dicapai oleh suatu perusahaan harus disertai dengan kualitas produk yang baik, karena produk yang berbeda dipasaran apabila tidak dibarengi dengan kualitas yang baik maka tidak akan dinikmati oleh konsumen.
Permasalahan manajemen dalam perusahaan merupakan salah satu bagian yang sangat penting. Pemasaran yang dilakukan dengan strategi yang baik akan dapat menempatkan produk pada posisi yang tepat dan menguasai pasar. Pemasaran adalah suatu cara yang dilakukan perusahaan untuk mengarahkan usahanya guna memuaskan konsumen dengan memperoleh keuntungan. Dan ini merupakan pemikiran baru dalam bisnis dan menggantikan cara berfikir yang mengarah pada produk.
Konsep pemasaran merupakan suatu strategi bahwa perusahaan akan mengubah cara-cara yang biasa dipakai dengan berorientasi pada pasar dan berusaha untuk menghasilkan apa yang diinginkan konsumen, perusahaan juga harus ingat pelayanan terhadap konsumen harus diperhatikan.
CV. Pusat pengolahan kelapa terpadu merupakan salah satu industri yang bergerak dalam bidang kecantikan, kesehatan, kerajinan, dll. Dalam proses pembuatan produksinya perusahaan menggunakan bahan baku kelapa. Perusahaan dalam menjalankan usahanya selalu mengutamakan citra perusahaan yang baik, berusaha menjadi perusahaan yang terkemuka dibidangnya. Penguasaan dalam pembuatan produk terus dipacu demi pertumbuhan dan pengembangan usahanya, perusahaan juga selalu memberikan kepuasan kepada semua pihak yang berhubungan dengan perusahaan.
Karena produk CV. Pusat pengolahan kelapa terpadu masih baru di pasaran dan belum adanya strategi pemasaran yang tepat sehingga menyebabkan tingkat penjualan yang belum maksimal serta ketatnya persaingan-persaingan di industri dengan perusahaan-perusahaan lainnya, sehingga menuntut pihak perusahaan untuk dapat menentukan serta merencanakan strategi pemasaran yang baik bagi perusahaan.
Perusahaan juga harus dapat menyusun strategi-strategi pemasaran sebaik mungkin dengan cara memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada disamping itu perusahaan harus dapat juga mengantisipasi gerakan pesaing dan ancaman.
Penetapan strategi pemasaran akan berpengaruh terhadap naik turunnya hasil penjualan perusahaan. Untuk dapat mencapai apa yang diinginkan oleh pihak perusahaan, perlu di perhatikan lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Mengingat kedua faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap kebijakan perusahaan dalam kelangsungan kegiatan usahanya maka dengan latar belakang masalah diatas, penulis mengambil judul :
“ Penggunaan analisis SWOT dan analisis AHP untuk menentukan strategi pemasaran perusahaan”












B. Identifikasi Masalah
Permasalahan yang ada pada perusahaan CV. Pusat pengolahan kelapa terpadu Yogyakarta khususnya masalah strategi pemasaran yaitu :
1. Adanya pesaing yang ketat terhadap perusahaan.
2. Belum adanya perencanan dalam menentukan strategi pemasaran.
3. Belum terjalinnya komunikasi yang baik antara pimpinan dengan karyawan sehingga dalam pengambilan keputusan perusahaan selalu kurang maksimal.

Read More »»

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN JASA KESEHATAN DI INSTALASI RAWAT INAP DENGAN MENGGUNAKAN METODE SERVQUAL – FUZZY (TIS-02)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Seiring dengan semakin tingginya tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan, pesatnya teknologi kedokteran serta kondisi sosial ekonomi masyarakat, kesadaran tentang pentingnya kesehatan dalam masyarakat semakin meningkat pula. Hal ini mengakibatkan kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas menjadi salah satu kebutuhan dasar, dimana pelayanan jasa kesehatan yang berkualitas sangat diharapkan oleh masyarakat.

Pemerintah telah berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan dengan mendirikan beberapa rumah sakit dan puskesmas di seluruh wilayah Indonesia. Namun, sampai saat ini usaha pemerintah tersebut masih belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Banyak anggota masyarakat yang mengeluh dan merasa tidak puas dengan kualitas pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit pemerintah ataupun puskesmas.
Dengan makin banyaknya rumah sakit yang tersebar diseluruh Jombang dan sekitarnya, maka dapat dipastikan ketatnya persaingan diantara rumah sakit untuk merebut konsumen akan terjadi. Tentunya konsumen akan dihadapkan pada banyak pilihan atau alternatif yang ada. Oleh karena itu setiap rumah sakit perlu mengetahui bagaimana mengolah dan mengembangkan kualitas layanannya agar menjadi lebih baik. Salah satunya adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang, yang berlokasi Jl. KH. Wahid Hasyim No. 52 Jombang Jawa Timur yang menyediakan berbagai macam bentuk pelayanan, dan fasilitas, namun hal itu belum cukup memberikan hasil, karena dalam kurun tiga tahun terakhir jumlah pasien rawat inap di RSUD Jombang menurun serta adanya komplain dari pasien tentang pelayanan yang ada. Pasien tersebut komplain karena ketersediaan obat yang disediakan olah pihak rumah sakit kurang begitu lengkap, sehingga pihak pasien harus membeli obat dari luar terlebih dahulu. Hal ini bisa disebabkan karena rumah sakit ini kurang memperhatikan aspek pelayanannya. Bila aspek itu dilupakan, maka RSUD Jombang bisa kehilangan pelanggan lama dan dijauhi calon pelanggan.

Keluhan-keluhan pasien belum dapat dijadikan ukuran untuk melakukan perbaikan. Pihak rumah sakit harus mengetahui terlebih dahulu secara pasti keinginan dan kebutuhan serta sejauhmana kepuasan konsumen terhadap pelayanan yang diberikan rumah sakit selama ini, sehingga dapat diketahui dengan pasti faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya penurunan pasien. Hal ini untuk menghindari kekeliruan dalam melakukan perbaikan akibat adanya perbedaan persepsi antara pihak rumah sakit dan pasien. Keinginan pasien belum tentu sama dengan apa yang dimaksud dan dipahami oleh pihak rumah sakit. Informasi dari pasien tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas jasa / pelayanan dengan menentukan prioritas perbaikan / peningkatan kualitas jasa yang semestinya didahulukan.

Penentuan prioritas perbaikan / peningkatan kualitas jasa diperlukan agar sumber daya dapat dialokasikan dengan baik, sehingga tidak membuang sumber daya untuk melakukan sesuatu yang tidak memberikan keuntungan bagi rumah sakit.
Berawal dari kondisi tersebut di atas, maka perlu diadakan suatu penelitian tingkat kepuasan pasien pengguna jasa pelayanan Instalasi Rawat Inap (IRNA) terhadap kualitas jasa yang diberikan, sehingga tidak timbul suatu gap antara keinginan dan harapan suatu pasien terhadap kualitas layanan yang diterimanya. Adapun pendekatan atau metode yang digunakan adalah dengan menggunakan metode service Quality (Servqual) yang diintegrasikan dengan metode Fuzzy (Triangular Fuzzy Number), sehingga diperoleh hasil yang lebih mampu mengakomodasikan ketidakpastian dan ketidaktepatan dari penilaian sesorang yang bersifat kualitatif / subjektif.

1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka masalah yang dihadapi oleh rumah sakit dapat dirumuskan sebagai berikut :
“Bagaimana upaya RSUD Jombang untuk meningkatkan kualitas jasa / pelayananya sehingga dapat memenuhi kepuasan pasiennya?”.


Read More »»

PENGEMBANGAN PRODUK KONSUMEN DENGAN FOKUS KEBUTUHAN PELANGGAN (Studi Kasus pada Produk Sabun Mandi CV Balqis Queen Solo) (TIS-01)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
CV Balqis Queen, salah satu produsen sabun mandi, harus menghadapi persaingan yang ketat. Kuatnya produk lama bertahan di pasar dan munculnya merk-merk produk atau varian baru di pasaran menjadi salah satu indikatornya. Berdasar data dari badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dalam rentang empat bulan, dari bulan Januari sampai dengan April 2005, telah dikeluarkan lima puluh satu ijin edar baru untuk produk sabun mandi (POM,2005). Kenyataan ini berdampak pada iklim persaingan yang kompetitif.


Menghadapi persaingan yang semakin ketat, maka CV Balqis Queen memerlukan strategi agar bisa bertahan. Salah satu strategi persaingan adalah dengan mengembangkan produk (Ulrich,2001). Dalam melakukan pengembangan produk harus berfokus pada pelanggan karena apapun yang dilakukan manajemen tidak akan ada gunanya bila tidak berdampak pada peningkatan kepuasan pelanggan (Tjiptono,2002). Oleh karena itu, pengembangan produk dengan fokus kebutuhan pelanggan akan menjadi salah satu strategi untuk memenangkan persaingan.
Pengembangan produk sebaiknya menggunakan metode yang terstruktur (Ulrich,2001). Pengembangan produk harus diawali dengan identifikasi kebutuhan pelanggan (Ulrich,2001). Proses identifikasi kebutuhan pelanggan bertujuan untuk mengetahui atribut-atribut yang penting dan berhubungan dengan kepuasan pelanggan sebagai dasar dalam langkah pengembangan produk selanjutnya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Perlu diketahui apa saja atribut-atribut yang harus diperhatikan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dan kepuasaan pelanggan produk sabun mandi.
2. Perlunya mengetahui tingkat kepentingan dan kepuasan dari masing-masing atribut bagi pelanggan
3. Perlunya menentukan prioritas atribut yang harus dikembangkan
4. Perlunya perancangan pengembangan produk sabun mandi produksi CV Balqis Queen

Read More »»

RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN BERBASIS WEB (TK-01)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
Pada saat sekarang ini, perpustakaan PENS masih menggunakan sistem katalog manual yang berbentuk buku dan kartu-kartu yang berisi data-data buku. Sistem ini sudah dianggap tidak efisien lagi mengingat pesatnya peningkatan jumlah judul dan jumlah buku. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu program database realtime via web browser yang dapat diakses oleh mahasiswa baik dari kampus maupun rumah.


Pemanfaatan teknologi internet dimaksudkan untuk kebutuhan akan penyampaian dan pencarian informasi yang cepat, sebab internet sebagai jaringan yang sangat luas merupakan sarana yang efektif dan efisien untuk penyampaian dan pencarian informasi.
Pada proyek akhir ini dibuat suatu sistem informasi perpustakaan berbasis web secara online. Sistem database realtime ini dirasa sangat efektif karena dirancang untuk memberikan pelayanan berupa informasi tentang buku-buku yang tersedia beserta isinya, sehingga user dapat mengetahui / mencari buku yang dimaksud dengan hanya meng-klik mouse.


1.2 TUJUAN
Merancang dan membangun sistem informasi perpustakaan untuk mempermudah mahasiswa atau pengguna perpustakaan mencari buku-buku secara online dengan menggunakan sistem operasi linux.

1.3 BATASAN MASALAH
Dalam pembuatan proyek akhir ini dititik beratkan pada komunikasi data pada web interaktif untuk pencarian buku secara online dengan menggunakan sistem database MySQL dan bahasa script PHP serta tampilan (layout) web site dengan Macromedia Dreamweaver, yang kesemuanya dirancang dengan menggunakan sistem operasi linux. Alasan penulis menggunakan PHP adalah karena PHP merupakan freeware sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya, fasilitas trace kesalahan yang mudah dilakukan dan dipahami dalam browser, mudah dikoneksikan dengan database serta memiliki tingkat sekuritas yang tinggi.

Read More »»

ANALISA TRAFIK DAN PERFORMANSI PADA JARINGAN TELEKOMUNIKASI BERBASIS TEKNOLOGI GSM (TE-05)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sekarang ini hampir semua instrumen telekomunikasi bergerak menggunakan teknologi yang berbasis selluler. Sistem Telekomunikasi bergerak berbasis selluler menawarkan kelebihan dibandingkan dengan Sistem Wireline (jaringan kabel), yaitu mobilitas sehingga pengguna dapat bergerak kemanapun selama masih dalam cakupan layanan Operator.


Tetapi dalam penerapannya sistem ini juga memiliki keterbatasan – keterbatasan diantaranya terbatasnya kanal pembicaraan seiring dengan banyaknya jumlah pelanggan teknologi komunikasi seluler, sehingga mengakibatkan apa yang disebut dengan block call yang pada tahun baru kemarin terjadi pada jaringan milik PT Telkomsel. Selain itu masalah penerimaan sinyal RF (Radio Frekuensi) juga menjadi faktor yang sangat penting dalam sistem komunikasi Wireless. Rendahnya kualitas level sinyal penerima ini yang mengakibatkan sering terjadinya kegagalan proses panggilan atau biasa yang disebut dengan Drop call.

Oleh karena itu perlu dilakukan proses monitoring dan analisa yang berkelanjutan guna memantau kinerja sistem ini. Dari analisa trafik tersebut dapat dilihat letak permasalahan yang mengakibatkan buruknya performansi suatu jaringan Telekomunikasi.


1.2. Batasan Masalah
1. Laporan Tugas Akhir ini hanya membatasi permasalahan tentang Trafik dalam sistim telekomunikasi selluler.
2. Mengatasi permasalahan yang terjadi dalam jaringan komunikasi khususnya dalam hal penerimaan radio frekuensi.

Read More »»

TENTANG TEGANGAN PEMULIHAN PADA KONTAK SUATU PEMUTUS DAYA TEGANGAN TINGGI UNTUK BEBERAPA JENIS KARAKTERISTIK RANGKAIN (TE-04)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Pada akhir abad ke-19 sistem tenaga listrik dibumikan. Hal ini dapat dimengerti karenapada waktu itu sitem-sistem tenaga listrik masih kecil, jadi bila ada gangguan kawat bumi arus gangguan masih kecil (± 5 A). Pada umumnya bila arus gangguan itu sebesar 5A atau lebih kecil busur listrik yang timbul pada kontak-kontak antara kawat yang terganggu dan bumi masih dapat padam sendiri (Self Extinguishng). Tetapi sistem-sistem tenaga itu makin lama makin besat\r baik panjangnya maupuan tenaganya. Dengan demikian arus yang timbul bila terjadi lagi gejala-gejala “Arching Grounds” semakin menonjol. Gejalan ini sangat berbahaya karena akan menimbulkan tegangan lebih transient yang dapat merusak alat-alat.


Oleh karena itu mulai abad-20, pada saat sistem-sistem tenaga mulai besar sistim-sistem itu tidak lagi dibiarkan terisolasi (Isolated) yang dinamakan system delta tetapi titik netral system itu dibumikan mulalui tahanan atau reaktansi. Pembumian itu umunya dilakukan dengan menghubungkan netral transformator ke bumi.
Pada umumnya di Indonesia, memakain jaringan transmisi tegangan tinggi. Indonesia yang terletak pada daerah khatulistiwa, jumlah hari guruh sangat tinggi. Di pulau Jawa jumlah hari buruh berkisar antara 90 – 200an. Sumber ganguan yang paling besar disalurakan transmisi adalah gangguan sambaran kilat dan kemudian menyusul kaarena gangguan alam lainnya.


1.2 Tujuan Penelitian/Penulis
Tujuan dari skripsi ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang jelas m di engenai perhitungan pelindungan pada jaringan transmisi tegangan tinggi. Dan pada gilirannya penulis ini juga untuk memenuhi syarat kelulusan/pencapaian gelar sarjana.

1.3 Batasan Masalah
Penulisan hanya ingin membicarakan mengenai pengaman pendukung jaringan transmisi tegangan tinggi seperti pembumian untuk penyaluran daya yang berlebih akibat yang ditimbulkan sambaranpetir mengenai kawat tanah udara (Overhead Ground Wire) sebagai pelindung(Shielding) jaringan transmisi tegangan tinggi.

Penggunaan kawat tanah ditujukan untuk pengaman mengenai kawat fasa. Disini kawat tanah berfungsi sebagai pelindung (Shielding), energi sambaran kilat akan dialirkan kedalam bumi melalui tiang atau menara yang dibumikan setelah lebih dahulu ditangkap oleh kawat tanah tersebut.

Kita telah mengetahui bahwa kilat merupakan aspek gangguan yang berbahaya terhadap seluran transmisi yang menggagalkan keandalan dan keamanan sistem tenaga dan tak mungkin dihindarkan, sedangkan alat-alat pengaman seperti : Arester, Fuse Gap dan Rodgap terbatas kemampuannya maka untuk mengurangi akibat yang di timbulkan sambaran petir digunkanla kawat tanah udara (Overhead Ground Wire) sehigga koordinasi isolasi akan lebih ekonomis.

Read More »»

APLIKASI PERMAINAN RANGKAI HURUF (TE-03)

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Pemilihan Judul
Sekarang ini kebutuhan untuk berkomunikasi menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan bagi setiap orang. Kebutuhan akan pelayanan telekomunikasi akan semakin meningkat dikarenakan tuntutan kebutuhan pengguna dimasa depan yang semakin meningkat pula, namun yang pasti kebutuhan fasilitas suara masih merupakan kebutuhan yang utama bagi para pengguna jasa telekomunikasi.


Sistem komunikasi bergerak diyakini akan memegang peranan yang semakin penting dalam memenuhi kebutuhan telekomunikasi. Karena dengan sambungan telepon tanpa kabel (wireless) akan semakin mempermudah seseorang untuk berkomunikasi kapan saja dan dimana saja.

Untuk dapat memenuhi tuntutan kebutuhan pengguna dimasa yang akan datang yang semakin berkembang, diperlukan sebuah standar global dalam bidang komunikasi bergerak. Saat ini spesifikasi dan standar bagi generasi ketiga dari teknologi wireless dikenal sebagai International Mobile Telecommunication-2000 (IMT-2000).
Sebagai sistem komunikasi bergerak generasi ketiga (3G), kata “IMT-2000” memiliki tiga makna kata yang mengandung arti, yaitu: pertama, standar telekomunikasi bergerak ini akan diresmikan pada sekitar tahun 2000, yang kedua standar ini akan memiliki kecepatan 2000 Kbps atau 2Mbps, dan yang ketiga akan beroperasi pada frekuensi 2000 MHz. Kecepatan sebesar itu mutlak dibutuhkan di masa mendatang yang merupakan era multimedia.

IMT-2000 merupakan sistem komunikasi bergerak (mobile communication System) generasi ketiga (3G) yang dirancang untuk menyediakan layanan global, kapabilitas layanan yang beragam dan perbaikan performance secara signifikan. Teknologi ini akan mengintegrasikan pager, telepon selular, dan sistem komunikasi bergerak dengan satelit (mobile satellite system), selain itu diharapkan dengan IMT-2000 nanti pengguna akan dapat di akses secara global dengan nomor yang sama dimanapun di berada. Oleh karena itu, IMT-2000 dapat dikatakan sebagai dasar bagi akses komunikasi global yang terintegrasi.

I.2. Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai pada penulisan tugas akhir ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui tentang spesifikasi dan standarisasi dari sistem komunikasi bergerak generasi ketiga IMT-2000. Serta keunggulan dan kekurangan sistem ini dalam segi teknisnya.

Read More »»

PERANCANGAN ALAT PENGATUR INTENSITAS CAHAYA DENGAN KENDALI JARAK JAUH UNTUK LAMPU PIJAR (TE-02)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Lampu merupakan salah satu komponen penting dalam penerangan di dalam ruangan maupun diluar ruangan. Lampu memberikan manfaat yang sangat besar khususnya pada malam hari. Teknologi lampu dalam memberikan pencahayaan saat ini telah banyak membantu aktifitas masyarakat dalam melakukan pekerjaannya sehari – hari.


Karena peranan lampu sangat penting, maka banyak industri – industri menciptakan berbagai macam produk dan merk lampu dari yang murah sampai yang mahal. Lampu – lampu yang sering digunakan saat ini adalah lampu neon dan lampu pijar. Pada lampu neon daya yang dikeluarkan kecil tetapi memberikan intensitas yang besar. Sedangkan lampu pijar cahaya yang dihasilkan sesuai dengan daya yang dikeluarkan lampu.

Dalam tugas akhir ini lebih difokuskan pada penggunaan lampu pijar, karena selain memberikan cahaya, lampu pijar juga dapat di atur besar kecil daya dan intensitas cahayanya dengan merubah arus yang mengalir ke lampu.

Dengan paparan diatas penulis ingin membuat alat yang dapat mengatur intensitas cahaya dengan merubah arusnya. Pembuatan alat ini adalah pengembangan dari rangkaian lampu dimmer yang dapat merubah intensitas cahaya lampu pijar yang dioperasikan secara manual. Pada tugas akhir ini penulis akan merancang alat pengatur intensitas cahaya yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Alat yang dimaksud adalah “Sistem Kendali Intensitas Cahaya Jarak Jauh Untuk Lampu Pijar”

Adapun keunggulan dari penggunaan remote kontrol ini adalah pengoperasiannya bisa dilakukan dari jarak jauh dan penggunaannya lebih praktis. Kekurangan dari penggunaan remote kontrol ini perubahan nilai resistansi yang di berikan menggunakan sistem diskrit atau bertahap dan biaya yang mahal. Sedangkan pada rangkaian lampu dimmer keunggulannya selain biaya yang murah lampu dimmer ini memberikan perubahan nilai resistansi diatur dengan sistem kontinyu.

B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka permasalahan yang timbul yaitu,”Bagaimana merancang dan membuat alat sistem kendali intensitas cahaya yang dapay dikendalikan dari jarak jauh untuk lampu pijar”.

C. PEMBATASAN MASALAH
Agar lebih terfokus dan mencapai tujuan yang diinginkan, pembahasan ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut, yaitu :
• Alat kendali ini hanya digunakan pada lampu pijar
• Daya maksimal lampu yang digunakan sebesar 100 watt
• Sensor yang digunakan adalah sensor IR (Infra Red/Infra Merah)
• Pengoperasian alat dengan sistem diskrit atau bertahap
• Perubahan nilai resistansinya ada 10 tahapan
• Frekuensi yang digunakan 38 Khz – 40 Khz.
• Biaya tidak dibahas dalam perancangan ini.

Read More »»

ANALISA PENGARUH WAKTU TAHAN TERHADAP BAJA KARBON RENDAH DENGAN METODE PACK CARBURISING (TM-02)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Pendahuluan
Semakin meningkatnya perkembangan hidup manusia maka jamanpun ikut berkembang dengan pesat. Karena perkembangan manusia bertambah maju maka bidang teknologipun ikut berkembang sangat pesat dengan harapan segala kebutuhan manusia dapat terpenuhi dengan baik.


Jika diperhatikan, segala kebutuhan manusia tidak lepas dari unsur logam. Kerena hampir semua alat yang digunakan manusia terbuat dari unsur logam. Sehingga logam mempunyai peranan aktif dalam kehidupan manusia dan menunjang teknologi dijaman sekarang. Oleh karena itu timbul usaha – usaha manusia untuk memperbaiki sifat – sifat dari logam tersebut. Yaitu dengan merubah sifat mekanis dan sifat fisiknya.

Adapun sifat mekanis dari logam antara lain : kekerasan, kekuatan, keuletan, kelelahan dan lain – lain. Sedangkan dari sifat fisiknya yaitu dimensi, konduktivitas listrik, struktur mikro, densitas, dan lain – lain.
Karena banyaknya permintaan yang bermacam – macam maka diadakan pemilihan bahan. Pemilihan bahan tersebut dapat dipersempit sesuai dengan kegunaannya. Seperti misalnya pada baja karbon. Baja karbon mendapat prioritas yang utama untuk dipertimbangkan. Karena baja karbon mudah diperoleh, mudah dibentuk atau sifat permesinannya baik dan harganya relatif murah. Karena baja karbon mendapat prioritas utama maka dituntut untuk memodifikasi atau memperbaiki sifatnya seperti kekerasan, kekerasan pada permukaan, tahan aus akibat gesekan. Karena hal tesebut maka perlu diadakan proses perlakuan panas guna menambah kekerasan dari bahan tersebut.

Perlakuan panas adalah suatu perlakuan (treatment) yang diterapkan pada logam agar diperoleh sifat – sifat yang diiginkan. Dengan cara pemanasan dan pendinginan dengan kecepatan tertentu yang dilakukan terhadap logam dalam keadaan fase padat sebagai upaya untuk memperoleh sifat – sifat tertentu dari logam.

Salah satu cara adalah dengan menggunakan proses karburasi yaitu dengan mengeraskan permukaannya saja. Karburasi adalah salah satu proses perlakuan panas untuk mendapatkan kulit yang lebih keras dari sebelumnya.
Dan berdasarkan hal – hal tersebut diatas maka penulis mencoba untuk mengadakan suatu penelitian dengan judul :

“ ANALISA PENGARUH WAKTU TAHAN TERHADAP BAJA KARBON RENDAH DENGAN METODE PACK CARBURIZING “

1.2. Rumusan Masalah
Adapun alasan bidang ini disesuaikan dengan kebutuhan pada bidang industri yang semakin modern, dalam hal ini adalah pengembangan sifat – sifat dari logam. Yang mana mempunyai kekerasan yang baik tapi juga ulet. Dimana aplikasinya digunakan pada alat – alat potong, alat – alat pahat, roda gigi atau kontruksi mesin yang sering mengalami kontak antara bahan satu dengan bahan lainnya.
Dengan proses perlakuan panas dengan metode karburasi diharapkan dapat memperpanjang umur pemakainanya tetapi masih memiliki sifat keuletan pada bagian dalamnya.

Read More »»

ANALISIS PENGARUH SBI, JUMLAH UANG BEREDAR, INFLASI DAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP KINERJA REKSA DANA SAHAM DI INDONESIA PERIODE 1999-2004 (EP-08)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Peningkatan kesejahteraan dan tingkat harapan hidup akan membuat seseorang berpikir mengenai masa depan dan akan membawa dampak terhadap perlunya penempatan dana yang umumnya disisihkan dari pendapatan, tetapi dalam sesuatu yang diharapkan akan meningkat nilainya di masa datang. Kegiatan menempatkan dana (asset) pada sesuatu (aktiva/aset keuangan) yang diharapkan akan meningkat nilainya di masa mendatang disebut sebagai kegiatan investasi .

Ada tiga hal utama yang mendasari perlunya melakukan investasi, yaitu adanya kebutuhan masa depan atau kebutuhan saat ini, adanya keinginan untuk menambah nilai aset dan adanya kebutuhan untuk melindungi nilai aset yang sudah dimiliki, dan karena adanya inflasi. Oleh karena itu, orang berusaha untuk menyisihkan sebagian pendapatannya di masa produktif dan menyimpannya untuk masa depan yang umumnya sudah kurang produktif.
Investasi memiliki arti yang sangat luas dan umum karena berhubungan dengan nilai dari aset baik berupa uang maupun benda. Sekolah sejak TK hingga lulus sarjana adalah sebuah investasi bagi diri pribadi. Jika kita saat ini bisa membaca, menulis, berpikir, mempunyai keahlian, dan memiliki pekerjaan, ini semua merupakan hasil investasi yang kita lakukan tersebut. Selanjutnya, pengertian investasi dalam tulisan ini akan membahas dalam cakupan investasi keuangan (financial investment). Investasi keuangan ini dilakukan di pasar keuangan (financial market) yang pada umumnya dibagi menjadi dua, yaitu pasar uang dan pasar modal. Pasar uang (money market) merupakan pasar untuk surat berharga jangka pendek seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) dan commercial paper sedangkan dalam pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk surat berharga jangka panjang dimana instrumen yang diperjualbelikan seperti saham dan obligasi.
Secara perlahan namun pasti, pasar modal Indonesia bagi dunia usaha, memberikan alternatif pembiayaan yang menarik melalui kemungkinan-kemungkinan menggalang dana dimana perusahaan-perusahaan menjadi institutionalized, atau melembaga secara ekonomi dan sosial (sosial karena perusahaan yang go public disebut public company) dalam sistem ekonomi sementara dari sudut perusahaan, pasar modal membuat perusahaan itu mempunyai public accountability yang menjadikan ia lebih “transparan” (lebih jelas terbaca kegiatan maupun hasil-hasilnya secara finansial) dan terbuka bagi kritik masyarakat secara meluas. Di sisi lain, bagi para pemilik dana, pasar modal memberikan berbagai pilihan investasi. Jumlah dan bentuk pilihan ini semakin banyak mulai dari yang relatif tinggi resikonya sampai pada pilihan-pilihan beresiko rendah. Alternatif yang semula terbatas pada saham dan obligasi, kini menjadi semakin beragam dengan adanya portofolio, yang merupakan cikal bakal terbentuknya reksa dana.
Gambar 1.1
Proses Pembentukan Portofolio Melalui Reksa Dana

Sumber: Eduardus Tandelilin, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio;
Edisi Pertama, Cetakan Pertama, BPFE, Yogyakarta, 2001, Hal. 21

Lahirnya reksa dana merupakan suatu pemecahan baru terhadap wahana investasi dimana seorang pemodal dapat mengimplementasikan prinsip diversifikasi, “don’t put all your eggs into one basket”, tanpa harus mempunyai modal yang relatif besar, pengetahuan yang cukup dan tidak perlu mengorbankan waktu untuk memilih dan mengawasinya terus-menerus untuk memperhatikan kondisi dan perkembangan pasar. Per definisi, Reksa Dana (mutual fund) adalah institusi jasa keuangan yang menerima uang dari para pemodal yang kemudian menginvestasikan dana tersebut dalam portofolio yang terdiversifikasi pada efek/sekuritas.

Reksa Dana sendiri sebagai produk adalah cukup sederhana dan menarik. Sederhana karena produk merupakan dalam bentuk sertifikat yang terdiri dari berbagai instrumen pasar modal dan pasar uang. Pengetahuan yang baik mengenai kondisi perusahaan-perusahaan akan menjadikan sertifikat reksa dana sangat menguntungkan bagi calon investor yang tidak harus memilih hanya saham-saham tertentu. Begitupun, dalam situasi bursa efek yang berkepanjangan mengalami depresi, banyak sekali kalangan yang melihat reksa dana sebagai “resep” untuk membuat bursa menjadi bullish kembali.

Fenomena maraknya produk reksa dana ini tidak bisa ditutup-tutupi dan yang paling menonjol dari perkembangan industri reksa dana adalah semakin banyaknya jumlah produk reksa dana. Jadi, bukan tidak mungkin krisis perbankan justru bukan bencana bagi industri reksa dana malah sebaliknya merupakan blessing in disguise. Data memperlihatkan sejak 1996 sampai 2004 produk reksa dana tumbuh pesat dan terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Setiap tahun rata-rata muncul lebih dari 10 reksa dana baru yang akan semakin memberikan banyak pilihan investasi bagi masyarakat pemodal.

Jenis reksa dana itu sendiri cukup banyak, seperti reksa dana pendapatan tetap yang 80 persen portofolio investasinya pada efek yang berbentuk surat utang seperti obligasi, reksa dana pasar uang yang portofolio investasinya pada jenis instrumen pasar uang seperti SBI, reksa dana saham yang portofolio investasinya terdiri dari saham dan reksa dana campuran yang instrumen investasinya bisa berbentuk saham dan obligasi atau dikombinasikan dengan instrumen lainnya.

Per 22 Maret 2005 posisi Nilai Aktiva Bersih reksa dana semakin memperlihatkan peningkatan, meski pada awal tahun 2005 industri reksa dana di Indonesia di tandai dua peristiwa penting. Pertama terjadinya kasus manipulasi Reksa Dana Prudence oleh Bank Global yang sedikit banyak berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat terutama menyangkut fungsi perbankan sebagai channel of distribution produk reksa dana di Indonesia, yang lainnya menyangkut pemberlakuan metode penilaian portofolio dengan menggunakan metode marked to market.

Semangat investasi pada reksa dana adalah market-based return yang berarti mekanisme pasarlah yang akan menentukan besar kecilnya rate of return yang akan diperoleh oleh seorang investor. Hal tersebut menjadikan masyarakat mulai menyadari bahwa tingkat pengembalian (yield) investasi di reksa dana ternyata lebih tinggi dari investasi deposito atau produk perbankan lainnya dimana tingkat pengembalian industri reksa dana ini didukung oleh faktor makroekonomi seperti pertumbuhan GDP, kondisi moneter, suku bunga SBI, nilai tukar rupiah dan laju inflasi. Akan tetapi, faktor makroekonomi jugalah yang membuat kinerja reksa dana terpuruk.

Sepanjang 1996 sampai 2004 tingkat pengembalian rata-rata reksa dana hanya kalah oleh produk investasi saham (indeks pasar). Memang perlu disadari bahwa investasi pada saham jauh lebih rumit dan ada banyak faktor yang perlu dimiliki dan dilakukan oleh investor saham diantaranya membutuhkan dana yang relatif besar, informasi, analisis, monitoring, serta pengambilan keputusan. Dana yang relatif besar untuk membeli saham di bursa saham dibutuhkan, karena investor harus terlebih dahulu menjadi nasabah salah satu perusahaan broker saham yang umumnya meminta investor menyetor dana minimum Rp. 25.000.000,- dari transaksi investasi yang akan dilakukan. Di samping itu, dana yang relatif besar juga dibutuhkan untuk melakukan diversifikasi dengan membeli beberapa jenis saham untuk menghindari resiko kerugian total, misalnya “kalau memilih saham dalam sebuah industri, ambillah dua saham tetapi bukan sembarang dua, ambillah yang terbaik dan terburuk” . Adanya kendala dari faktor-faktor tersebut, reksa dana saham muncul menjadi pilihan tepat karena umumnya pemodal mengalami kesulitan untuk melakukan investasi sendiri pada instrumen saham tersebut. Di lain pihak, catatan historis menunjukkan, dalam jangka panjang, investasi pada reksa dana saham dapat memberikan hasil yang lebih baik.

Sebelum terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997, perusahaan lebih banyak mengandalkan hutang bank untuk membiayai investasi mereka. Hal ini terlihat dari porsi hutang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) dalam struktur keuangannya banyak yang lebih besar dari satu, sementara saat ini banyak bank-bank yang melakukan reposisi strategi ekspansi kredit mereka dari corporate lending menjadi retail lending yang menyebabkan pasokan corporate loan menjadi terbatas. Namun, dengan adanya sumber dana dari masyarakat investor melalui reksa dana saham, emiten perusahaan akan lebih mudah menjual sahamnya, atau menerbitkan saham baru (right issue) untuk membiayai kegiatan investasinya tanpa mengandalkan pihak perbankan. Di lain sisi, investor pun mendapatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan perusahaan tersebut. Di sini terlihat bahwa melalui reksa dana saham terjadi simbiose mutualisme antara investor dengan perusahaan.

Reksa Dana saham tidak hanya memberikan manfaat secara langsung kepada emiten maupun investor tetapi juga secara tidak langsung akan memberikan manfaat bagi industri pasar modal dan bagi pertumbuhan ekonomi karena turut menjadi salah satu penopang berputarnya roda perekonomian, yakni sebagai intermediary (perantara) yang menyediakan sumber dana bagi kegiatan investasi. Keberhasilan penggalangan dana masyarakat untuk tujuan investasi ini pada akhirnya akan berperan dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang berorientasi pada penggunaan sumber dana dalam negeri. Hal ini akan dapat memperbaiki struktur pembiayaan nasional yang selama ini sangat tergantung pada pinjaman luar negeri.

Berdasarkan ilustrasi di atas dan dengan memperhatikan keadaan ekonomi yang terus berkembang, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai:
“ANALISIS PENGARUH SBI, JUMLAH UANG BEREDAR, INFLASI DAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP KINERJA REKSA DANA
SAHAM DI INDONESIA PERIODE 1999.07-2004.11”

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan deskripsi yang dituangkan di atas, penulis sangat tertarik untuk mengamati dan mengembangkan lebih lanjut mengenai variabel-variabel makroekonomi Indonesia dalam kaitannya dengan kinerja reksa dana saham. Adapun hal-hal yang ingin diketahui adalah:
1. Seberapa besar pengaruh variabel SBI, jumlah uang beredar, inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap kinerja reksa dana saham di Indonesia selama periode Juli 1999-November 2004?
2. Variabel apa yang paling besar mempengaruhi kinerja reksa dana saham di Indonesia selama periode Juli 1999-November 2004?

Read More »»

PC Clonning Melalui Port USB Dengan Menggunakan Software BeTwin (IK-11)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sebuah sistem yang menyerupai dan membolehkan lebih dari satu pemakai komputer (maksimal penambahan sesuai dengan adanya slot PCI dan port USB yang belum digunakan dalam pemakainnya) untuk menjalankan sistem operasi secara bersamaan dan berdiri sendiri dengan komputer lain (server), sistem seperti ini disebut PC Cloning. Dengan mengklonning PC, maka dari sebuah PC client yang rendah menjadi serupa dengan PC server yang digunakan (menjadi meningkat pada PC client).


PC Clonning merupakan suatu bentuk efisiensi dalam penggunaan software dan hardware. Software hanya diinstal di server, kemudian diklon untuk penggunaan bersama beberapa station (client) dalam satu PC, bahkan untuk program aplikasi besar seperti CorelDraw, AutoCAD, Photoshop, juga dapat untuk akses ke Internet secara bersama-sama tanpa mensetting proxy. USB adalah singkatan dari Universal Serial Bus. USB merupakan suatu teknologi yang memungkinkan kita untuk menghubungkan alat eksternal (peripheral) seperti scanner, printer, mouse, papan ketik (keyboard), alat penyimpan data (zip drive), flash disk, kamera digital atau perangkat lainnya ke komputer.

Dalam penggunaan PC Clonning dapat menghemat hardware dalam berbagai hal, sehingga para user dapat memakai sebuah komputer hanya dengan adanya monitor, keyboard USB, dan mouse USB dalam satu PC, yang dapat menyerupai komputer yang peralatannya lengkap dengan CPU. Untuk melakukan klonning terhadap PC, diperlukan software yang dapat mengatur penggunaan sumber daya komputer. BeTwin merupakan software yang mampu melakukan klonning ini dengan mudah dalam menjalankannya. BeTwin memungkinkan pemakaian sistem operasi Windows 98, Windows Millenium Edition, Windows 2000 dan Windows XP secara bersamaan dalam satu CPU untuk beberapa pemakai sekaligus.

1.2 Permasalahan
Dalam pembuatan proyek tugas akhir ini adalah bagaimana cara menginstal software dan hardware pada sebuah PC Clonning yang dalam 1 PC dapat menjadi 2 komputer, dengan penambahannya hanya sebuah software dan hardware dalam menggunakannya.

Read More »»

HUBUNGAN PERILAKU DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA PENGEMUDI TAKSI BLUE BIRD GROUP POOL WARUNG BUNCIT JAKARTA SELATAN (IKS-01)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam sebuah laporan berita di beberapa media komunikasi beberapa bulan lalu, di tuliskan bahwa saat ini, Indonesia merupakan negara dengan standar keselamatan dan kesehatan kerja terburuk jika bandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, berita tersebut di laporkan oleh ILO atau Humas Organisasi Buruh Dunia dalam peringatan hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja, hal ini dikemukakan berdasarkan tragedi kecelakaan akibat kerja yang terjadi di Indonesia pada tahun lalu, dimana tragedi tersebut sedikitnya telah menyebabkan empat orang meninggal dan lebih dari 50 luka-luka akibat ledakan yang menghancurkan pabrik petrokimia serta adanya ledakan dan kebakaran lainnya di pabrik-pabrik gas dan metal 1.


Begitu pula dengan status keselamatan dan kesehatan kerja transportasi di Indonesia, sebagai negara yang berpeluang besar untuk berkembang, tercatat kecelakaan transportasi darat di Indonesia juga sangat menonjol, hal ini dinyatakan melalui data kecelakaan lalu lintas yang pada tahun 1998 saja membawa korban 11.778 orang tewas.


Tercatat sampai saat ini beberapa tayangan kecelakaan transportasi, di beberapa media komunikasi di Indonesia begitu banyak dan selalu ada setiap harinya, belum lagi data kecelakaan kerja yang di miliki oleh PT. Jasa Marga di sepanjang tahun ini 2.
Sepanjang tahun 2000 sudah banyak kejadian kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Indonesia, mulai dari kasus terbesar sampai kasus yang terkecil, kasus kecelakaan besar misalnya terbakarnya bus giri indah jawa tengah yang menyebabkan 26 penumpangnya tewas terpanggang, begitu juga dengan data yang dimiliki oleh IRD Rumah Sakit Dr.soetomo bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian terbesar, yakni 49%, melebihi penyakit infeksi yang hanya 15% serta penyakit-penyakit lainnya, padahal selama ini penyebab kematian terbesar adalah penyakit infeksi. 3
Tercatat dalam data Kepolisian RI pada tahun 2003 jumlah kecelakaan di jalan mencapai 13.399 kejadian dengan jumlah kematian mencapai 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat dan 8.694 luka ringan, dengan data itu rata-rata setiap hari terjadi 40 kejadian kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 30 orang meninggal dunia. dan setiap tahunnya rata-rata 30.000 nyawa melayang di jalan raya, maka dengan angka setinggi itu, saat ini Indonesia duduk di peringkat ke-3 negara di ASEAN yang jumlah kecelakaan lalu lintasnya paling tinggi,
sehingga pemerintah menyatakan bahwa kecelakaan lalu lintas digolongkan sebagai pembunuh nomor 3 di Indonesia," Sekadar diketahui bahwa penyebab kematian nomor 1 dan 2 adalah penyakit jantung dan stroke. 4
Data Departemen Perhubungan menyebutkan mayoritas penyebab utama kecelakaan lalu lintas adalah kondisi kendaraan yang tidak layak jalan dan kelelahan fisik pengemudi, dan penyebab yang biasa terjadi dalam kecelakaan lalu lintas adalah karna faktor manusia yaitu pengemudi kendaraan itu sendiri.5
Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur lalu lintas yaitu UU RI no.14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya, didalam pasal 3 UU tersebut berbunyi “Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan efisien, mampu memadukan transportasi lainnya, menjangkau seluruh pelosok wilayah daratan, untuk menunjang pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong, penggerak dan penunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat”, namun yang menjadi masalah, mengapa kasus-kasus kecelakaan tersebut masih terus terjadi, malah sering muncul kecelakaan-kecelakaan besar? 6
Dr. Suma’mur dalam buku nya yang berjudul “Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan”, mengelompokkan kecelakaan menjadi 3 yaitu, kecelakaan akibat kerja di perusahaan, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan dirumah, sehingga dapat dikatakan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan bagian dari kecelakaan kerja.7
Abdul Rahim Tualeka dalam artikelnya berjudul “kecelakaan lalu lintas” yang dimuat dalam Jurnal Bina Diknakes edisi 39 mengatakan bahwa sumber penyebab dasar dalam timbulnya resiko kecelakaan kerja dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu Unsafe Condition antara lain, standar kerja yang kurang baik, standar perencanaan yang kurang tepat, standar perawatan yang kurang tepat, standar pembelian yang kurang tepat, pemakaian abnormal, dan Unsafe Human Act yaitu kurangnya pengetahuan, kurang keterampilan, motivasi kurang baik, masalah fisik dan mental . 8
Berdasarkan pernyataan-pernyataan sebelumnya, dimana angka kecelakaan akibat kerja khususnya kecelakaan lalu lintas di Indonesia relatif tinggi, serta berdasarkan sumber baca yang menyatakan bahwa sumber penyebab dasar terjadinya kecelakaan adalah karna Unsafe Condition dan Unsafe Human Act, penulis berinisiatif mengetahui lebih jauh dengan mencoba mencari kebenaran secara empiris mengenai hubungan perilaku kerja dengan kecelakaan kerja, dan menuliskannya dalam bentuk skripsi dengan judul ̶